Tamu

1012 Words
"Apa kau tahu ini bisa jadi kasus tindakan tidak menyenangkan? Siapa yang mengizinkanmu untuk membawaku?" Risa yang telah duduk di samping pengemudi masih bersikeras untuk keluar dari mobil sementara Miko menyeringai kecil mendengar keluah perempuan itu. "Kau bisa saja berteriak minta tolong tadi... kenapa tidak kau lakukan?" tantang Miko sukses membuat Risa terdiam, dalam hati merutuki dirinya sendiri yang selalu kalah siap saat berhadapan dengan Miko. "Kau belum bertanggung jawab soal yang di bandara." imbuhnya ketika Risa tak juga bersuara. Mungkin perempuan itu telah kehilangan minatnya untuk mendebat Miko saat ini. "Jalankan saja mobilnya dengan benar!" Bentakan tidak sabar itu membuat Miko puas akhirnya. Risa yang dulu mungkin akan memilih diam membisu hingga akhir, dan Miko harus mengakui bahwa dirinya menyukai Risa yang saat ini tengah bersungut kesal di sebelahnya, Risa yang lebih seperti manusia lainnya, dan tidak hanya diam dan abai pada semua hal. Senyuman lebar yang merekah itu perlahan menyusut ketika Miko menyadari bahwa Risa telah berubah banyak dari yang pernah ia kenal. Bagian kecil dari sudut hatinya merasa tercubit dan tidak rela ketika harus mengakui kalau perempuan itu baik-baik saja tanpanya, tidak seperti dirinya yang setiap hari terjaga dengan bayang-bayang menyesakkan tentang seberapa menderitanya Risa dan tidur dalam mimpi buruk. Lagi-lagi Miko merasa kesal pada dirinya yang mudah percaya pada kebohongan Risa. Meski perempuan itu terlihat baik-baik saja, fakta bahwa tubuh itu mengatakan hal sebaliknya kembali menampar kesadaran Miko. Ia harus bertanggung jawab atas apapun yang telah ia sebabkan pada diri Risa tidak peduli apakah perempuan itu mau menerimanya atau tidak. "Besok pagi aku akan menjemputmu." ucap Miko sebelum Risa meninggalkan mobilnya. Perempuan itu tidak menjawab bahkan untuk sekadar berterima kasih atas tumpangannya. Usai meloloskan diri dari Miko, agaknya harapan Risa untuk melepas lelah harus ia simpan kembali. Sosok tidak asing yang tengah mengobrak-abrik dapurnya itu pasti punya sesuatu yang ingin disampaikan. Jika ditakar dari tingkat kesibukannya, maka bisa Risa simpulkan bahwa sesuatu yang cukup besar telah terjadi. "Hey... Kenapa lama sekali?" sapa Aksa begitu Risa melingkarkan lengannya di perut Aksa. Pria itu berhenti sejenak dari kegiatan dan mencoba mengintip Risa yang yang bersembunyi di balik punggungnya. "Aku bicara sebentar dengan Miko." jawab perempuan itu masih dengan wajah yang tenggelam di punggung prianya. "Kalian bertengkar?" tebak Aksa dengan kekehan kecil. "Kau pikir kami anak-anak?" sungut Risa sebal dengan respon yang Aksa berikan. Aksa terkekeh sejenak sebelum melepaskan untaian tangan Risa dan berbalik menghadap perempuan beraroma stroberi tersebut. Begitu pandangan mereka bertemu, Aksa bisa langsung mengetahui bahwa Risa sedang tidak baik-baik saja. Awan mendung yang menyelimuti rona dari paras ayu itu kian memekat seiring dengan diamnya kata. Aksa mengusap wajah Risa pelan, membagi energi. Dengan jarak sedekat ini, Aksa bisa merasakan deru napas Risa yang tidak normal. Ditatapnya perempuan berkuncir kuda itu dalam diam kemudian mengecup puncak kepalanya sesaat. "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Kau boleh menyerah kapanpun kau mau." ujarnya membawa Risa ke dalam pelukan. Risa menghela napas dengan lega begitu Aksa menepuk punggungnya berulang kali. Setitik kehangatan mulai merayap dan menyebar ke seluruh tubuh. Bagi Risa, tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan perasaannya pada Aksa. Pria itu bisa menebaknya dengan sangat tepat bahkan ketika ia sendiri masih merasa ragu. "Haruskah aku menghajarnya?" gurau Aksa ketika Risa menceritakan apa yang terjadi saat rapat selesai dan menyisakan ia dan Miko di cafe. Perempuan itu tersenyum geli membayangkan Aksa yang terlihat ringan menghajar Miko yang dibekali otot terlatih. "Bagaimana dengan Vanilla?" tanyanya begitu teringat dengan sang dokter. Panggilan darurat yang dimaksudnya tadi siang adalah telepon dari Vanilla. Perempuan itu sangat jarang melakukan panggilan, maka dari itu setiap Aksa menerima panggilan dari Vanilla, alarm dalam dirinya akan berbunyi otomatis. "Si b******k itu kembali menghubunginya. Kenapa para laki-laki di sekitar kalian selalu membuatku menjadi mafia? Haruskah kulenyapkan mereka bersama?" gurau pria itu setengah geram dengan masalah yang dihadapi Vanilla. Mantan kekasih wanita itu kembali menghubungi Vanilla setelah menghilang tanpa kabar. "b******k? Ah~ Rama?" tebak Risa sedikit diikuti kekehan kecil ulah omelan Aksa yang terdengar serius dalam candaannya. Rama adalah kekasih tanpa status yang selama ini menemani Vanilla. Hubungan mereka sedikit rumit dikarenakan ketidakjelasan dalam status. Mereka terlalu dekat untuk dikatakan teman biasa juga terlalu asing untuk disebut sebagai kekasih. Keduanya nyaman dengan apa yang mereka jalani, setidaknya itu yang Vanilla yakini sebelum Rama tiba-tiba menghilang empat bulan yang lalu. Rama lenyap dari jangkauan Vanilla di saat perempuan itu membutuhkannya. "Si b******k itu... sudah menikah. Dan memiliki anak." gumam Aksa memelan begitu bayangan betapa kacaunya Vanilla saat mengetahui hal itu kembali mengusiknya. Risa menarik kepalanya menjauh guna memperhatikan ekspresi Aksa saat ini. Pria itu kemudian balas menatapnya sendu. Dengan gerakan perlahan, Aksa menarik Risa untuk kembali mendekat dalam peluknya. "Vanilla baik-baik saja sekarang. Sebelum aku meninggalkannya, dia sempat mengancamku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu." "Aku justru berpikir untuk mengirimmu padanya malam ini." "HEY. Apa aku pria penghibur?" protesnya dengan keras dan dibalas oleh gelak tawa Risa. Telapak tangannya tampak begitu kecil dibandingkan dengan wajah tegas Aksa tapi terasa begitu pas dalam saat yang bersamaan. "Aku tidak perlu cemas soal Miko, karena ada kau di sisiku." gumam Risa menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Aksa. Pria itu melingkarkan tangannya pada bahu Risa dan mengusapnya perlahan. "Entah perasaanku saja atau kau memang bertambah pintar dalam melontarkan kata-kata manis?" Risa tersenyum kecut mendengar pujian yang dilontarkan Aksa, ikut terheran dengan perubahan dirinya yang kian ekspresif. "Kuharap kata-kata manis itu selalu tertuju padaku. Aku mungkin akan memecahkan gendang telinga seseorang jika dia mendengar gombalan seperti ini darimu." tandasnya yang dihadiahi tinju pelan di bahu oleh Risa. Mereka tertawa dan malam yang panjang itu pun berakhir dalam buai mimpi keduanya. Aksa memicingkan matan ketika menatap layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Separuh tangannya terasa kebas karena dijadikan bantal oleh Risa. Mereka tertidur di sofa setelah berbincang ke sana-sini hingga lewat dini hari. "Sa... ada tamu." gumam Risa masih dengan suara serak serta mata yang tertutup rapat . Perempuan itu telah lebih dulu terbangun oleh jeritan bel pintu apartementnya tapi juga terlalu malas untuk bergerak Aksa tersenyum gemas sembari menempatkan Risa dalam posisi nyama sebelum beranjak ke ruang depan untuk membuka pintu. "Sayang! Pakai bajumu. Kita kedatangan tamu."    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD