Maaf

1092 Words
“AKU INI MONSTER! AKU BAHKAN TIDAK MERASAKAN APAPUN KETIKA MEMBUNUH KUCING ITU. AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!” Teriakan putus asa dan jerit histeris dari dalam sana tidak perlu memaksa Miko untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dan siapa penyebabnya juga sudah sanagt jelas. Pria itu mengambil langkah mundur ketika tiba-tiba saja Risa berlari keluar rumah dan menghantamkan dirinya pada mobil yang sedang melintas. Tubuh ringkih itu terpelanting ke aspal dengan keras setelah terangkat ke udara oleh kuatnya tabrakan. Suara terakhir yang Miko dengar sebelum perempuan itu tidak sadarkan diri adalah rintihan kecil. Sebuah permintaan maaf dan juga rengekan. Bahwa ia tidak ingin menyakiti siapapun. Normalnya, dengan luka separah itu dokter akan mengatakan bahwa Risa mungkin saja sulit bertahan, cacat, koma atau mungkin mati. Tapi itu semua terlalu mudah untuk Risa. Ia justru hanya mengalami cidera tulang dan amnesia ringan, yang artinya kenangan buruk itu tidak akan hilang dalam waktu lama dari ingatannya. Ia akan melanjutkan hidupnya dengan kenangan mengerikan itu selamanya. Selama masa perawatan, Miko tidak pernah berani untuk menemui Risa. Ia hanya akan berdiri di balik pintu dan menatap perempuan itu dengan penyesalan luar biasa mengerikan. Tiap hari ia lalu dengan memikul semua penyesalan dan rasa bersalah yang kian membesar. “Risa mengidap Alexithymia. Keadaan dimana penderita akan kesusahan mengenali perasaannya dan orang lain, juga kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata. Itulah alasan kenapa anak itu hanya diam menyendiri. Dia terlalu takut untuk berbicara dengan orang lain... dan orang lain dengan bodohnya mengatakan-” “Saya minta maaf, tante.” sela Miko ketika Santi menjelaskan keadaan Risa padanya. Mereka tidak sengaja bertemu saat Santi kembali dari ruang dokter untuk mengambilhasil diagnosa Risa. “Tidak perlu meminta maaf kepada saya. Saya tidak pantas memafkan siapapun disaat sayaah yang sebenarnya gagal menjaga Risa. Dia baik-baik saja selama ini. Tapi karena mengikuti permintaan kecil anak itu.. saya harus membayar mahal dengan melihatnya menderita.” isak Santi begitu mengingat senyum bahagia Risa ketika diizinkan untuk bersekolah di sekolah umum. Miko terdiam, membisu, mematung dan hancur. Jawaban dari perasaan sakit yang merongrongnya sejak malam itu kini terjawab dengan jelas. Ia tidak pernah bahagia melihat Risa menderita. Semua hanya ilusi yang egonya ciptakan untuk memuaskan amarah sesaat. Kini sesalnya tiada arti. Perempuan itu sudah jauh lebih dulu menderita sebelum bertemu dengannya dan berkatnya pula, penderitaan Risa akan terus berlanjut dengan berkali lipat. “Saya sangat menyesal, tante. Beritahu saya apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki semua ini?” lirihnya dengan sebuah isakan yang berhasil ia loloskan susah payah. “Memperbaiki? Jangan membuatku tertawa, anak muda.” suara melengking itu berasal dari perempuan berdaster merah dengan penampilan super kusut di depan pintu kamar rawat Risa. “Kak..” “Kau bilang ingin memperbaiki semuanya? Dengan apa?!” pekiknya mengguncang tubuh lunglai Miko sekuat yang ia bisa. Santi berusaha melerai amukan sang kakak tapi jeritan alat bantu dari ruang Risa menyedot semua perhatian yang ada. “Saya bersedia melakukan apapun untuk membantu Risa. Beritahu saya.” tegas Miko setelah dokter yang menangani Risa keluar dari kamar rawat. Mereka bertiga kembali diserang bisu. “Hiduplah dalam penyesalan sampai mati. Jangan berpikir untuk merusak hidupmu agar merasa impas dengannya. Kau harus hidup dengan baik dan menyesal sampai akhir. Hanya itu yang bisa kau lakukan agar Risa bisa terus hidup. Seperti yang kulakukan saat ini.” ujar perempuan itu dengan lirih di akhir, dan meninggalkan Miko seorang diri. "Kalau kau sangat menyesal, tolong hiduplah dalam penyesalan itu sampai mati." Risa menatap pantulan dirinya dalam cangkir minuman pekat yang tersisa setengah. Ujung jari jemari itu mulai dingin dan gemetar. Perempuan itu berusaha untuk menutupi perasaan tertekan dengan sia-sia, Miko dapat melihat dengan jelas perubahan wajah pasi tersebut. "Aku memang berniat untuk melakukan itu, tapi sepertinya kau tidak butuh penyesalan." balas Miko yang dihadiahi dengkusan mencibir dari Risa. Tatapan yang menusuk langsung ke manik cokelat itu lebih berani dari biasanya. Seolah menyimpan banyak cara untuk menaklukan tembok pembatas yang Risa buat di antara mereka. "Memangnya kau tau apa tentang yang kubutuhkan?" lirih Risa lelah. Percuma saja bertingkah baik-baik saja jika tubuhnya saat ini justru mengatakan sebaliknya. "Berani sekali-" "Kau membutuhkanku. Untuk mengobati luka itu, kau butuh aku." sela Miko tidak sabar. Pria itu muak berlama-lama dengan jebakan Risa. Meski baru saja bertemu kembali setelah sekian lama, Miko masih sangat hafal kebiasaan perempuan di hadapannya itu. Mendesak lawan bicara untuk mengatakan apa yang tidak ingin ia dengar kemudian mengakhiri pembicaraan. Miko menarik sudut bibirnya naik ketika melihat Risa terdiam di tempatnya, terlanjur jelas menampakkan keterkejutannya. Suasana cafe yang mulai sunyi ketika Miko dan Risa pertama kali memasukinya kini kian ramai, beberapa pengunjung bahkan datang secara bergerombol. Gelak tawa dan canda ria orang-orang yang berad di sekitar mereka nampaknya menular pada Risa yang kini terbahak keras. Perempuan itu bahkan sampai menitikkan air mata dan memegangi perutnya yang mulai terasa tegang. Gelak tawa yang bahkan terdengar memilukan di telinga Miko itu tak ubahnya sebuah hinaan Risa atas apa yang pria itu katakan sebelumnya. "Lucu sekali. Sangat lucu sampai membuatku menangis. Bisa kau jelaskan darimana asalnya kepercayaan diri itu?" sarkas perempuan itu masih dengan sisa tawa yang belum juga reda menggelitik luka hatinya. "Biar kujelaskan satu hal. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan soal masa lalu, kenapa aku harus bertanggung jawab atas penderitaanmu disaat kaulah sumber dari semua masalah ini. Aku yang sekarang bahkan tidak butuh siapapun untuk sembuh. Luka yang kau ciptakan dalam angan itu... tidak pernah ada. Kau hanya hidup dalam delusi." tandasnya kemudian meninggalkan Miko yang masih mematung. Kaki yang terseret itu bahkan belum sampai lima kali melangkah ketika suara berat Miko kembali menjeda. "Kalau memang itu yang kau mau, maka aku juga akan melakukan apapun yang kumau. Dan sekarang... aku ingin kau untuk terus menderita karena kehadiranku. Aku akan terus mengikutimu seperti penyesalan yang kurasakan selama ini karena delusimu." tegasnya sembari membayangkan seperti apa rupa Risa saat ini. Perempuan itu tidak lagi membantahnya, ia lebih memilih untuk meninggalkan Miko. Tenaganya tidak akan cukup untuk hari ini. Berhadapan dengan Miko selalu menimbulkan efek lelah luar biasa juga sesak. Risa menyandarkan dirinya pada tembok pembatas cafe, mengumpulkan sisa kekuatan untuk pulang. Beberapa staf yang melihatnya tampak penasaran juga simpati. Melly yang ternyata masih berada di sekitar lokasi rapat kemudian menawarinya tumpangan. Perempuan dengan blazer cream dengan dalaman hitam itu baru saja akan masuk ke dalam tumpangan Melly tatkala Miko kembali menghadang. "Sorry, Bun. Biar saya saja yang antar Risa. Kami searah." kilahnya membopong Risa menjauh dari mobil Melly setelah berpamitan dengan paksa. "Apa kau tahu ini bisa jadi kasus tindakan tidak menyenangkan? Siapa yang mengizinkanmu untuk membawaku?"   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD