Monster

1060 Words
I am not a Monster Risa masih berdiri di tempat, terpasung oleh tatapan semua orang yang ada di sekitarnya. Malam kian mencekam seolah tidak membiarkannya untuk bernapas dengan leluasa di alam terbuka seperti saat ini. Acara malam pengakraban untuk mahasiswa baru di organisasi MAPALA kampusnya berubah menjadi mimpi paling buruk yang bahkan tidak pernah Risa bayangakan. Tangan itu bergetar hebat dan tubuh kecilnya berkeringat dingin. Pasokan udara yang berseliweran di paru-parunya mulai menipis. “Kenapa diam saja, Sa? Kalau benar ini salah paham... lalu apa yang sebenarnya terjadi?” desak Miko dengan senyuman yang baru pertama kali Risa lihat. Pria itu dulunya adalah orang yang sangat ia percayai. Namun setelah Risa menolak cintanya, entah setan mana yang merasuki Miko hingga hubungan mereka berakhir begitu saja. Tidak ada lagi mimpi yang harus mereka kejar bersama. Semua menghilang bak debu tertiup angin topan. Mungkin bagi Risa pernyataan cinta Miko setahun yang lalu menjelang kenaikan kelas 12 adalah sebuah kesalahan, tapi bagi Miko penolakan yang Risa lakukan itu telah menghancurkan bagian terbaik terakhir dalam dirinya. Pria itu tidak pernah merasa begitu terikat dengan seorang perempuan pun kecuali Risa. Ia tidak pernah merasa harus memikirna perempuan sebanyak dua kali tapi untuk Risa, tiap langkah selalu dilalui dengan perhitungan. Tidak ingin Risa merasa terganggu, dang ingin menjaga perempuan itu. Kata-kata yang Risa lontarkan padanya mungkin tidak seberapa kasar, tapi diluar semua itu... sesuatu yang tidak bisa Miko terima adalah alasan dari penolakan Risa. Kenapa Risa membiarkannya mendekat jika sejak awal perempuan itu tidak menyukai kehadirannya? Kenapa perempuan itu ingin menegenalnya? Kenapa ia membuat Miko memikirkan masa depan bersamanya? Dan... kenapa Risa berusaha sejauh itu untuk mendorong Miko dengan mudahnya? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya, menyatu dengan rasa malu karena kabar tak sedap yang berhembus secepat cahaya itu menciderai harga dirinya sebagai siswa populer. Gilak! Miko yang most wanted sekabupaten itu ditolak sama anak cupu?! Mungkin doi gak sejago Risa... makanya ditolak. Malu banget gak sih? Udah ke sana-sini bareng, ternyata pas ditembak malah ditolak habis-habisan. Mending kena friendzone.. lah ini?wkwkwkwk Malu banget gak, sih? Cibiran juga sindirian secara terang-terangan itu tak dipungkiri menjadi pendorong kuat alasannya berdiri bersama Risa saat ini. Di tengah mahasiswa-mahasiswa baru lainnya, bermodalkan sebuah video amatir yang telah tersebar di grup angkatan besar organisasi MAPALA kampus mereka, Miko menjatuhkan serangan pada Risa. Sesuatu yang pernah ia janjikan ketika perempuan itu menolak perasaannya kemarin. “Kau akan tahu rasa dari tidak aman dan tercekik yang sebenarnya nanti. Tunggu saja.” bisiknya kala itu sebagai penutup dari hubungan pertemanan yang dijalani sepenuh hati dan sepihak oleh Miko. Saat itu, ia telah menanti waktu yang tepat untuk menunjukkan video yang tanpa sengaja terus disimpannya. Bermula dari niat tulus ingin menjadikan dokumenter tentang Risa sebagai hadiah kelulusan SMA, kini justru menjadi senjata untuk melampiaskan dendam. Video dimana Risa menjadi sorotan utama, dengan tangan bersimbah darah itu membuat Miko luar biasa terkejut dan bingung. Namun mengingat kepolosan Risa, Miko memutuskan bahwa apa yang direkamnya itu sebuah salah paham. Dan sekarang, salah paham itu berbuah manis. Melihat betapa tersiksanya Risa saat ini membuat perasaan Miko berada di atas angin. “Kenapa diam saja, Risa? Kau benar-benar tidak tahu, kan? Mungkin bukan tidak tahu, tapi memang tidak punya.” cercanya lagi ketika Risa tak kunjung bicara. Perempuan itu menatap semua orang yang memandangnya dengan ngeri, jijik, curiga dan apapun itu yang sudah lama ia lupakan. “Aku memang membunuhnya dengan tanganku sendiri.” aku Risa dengan napas yang tercekat. “Lihat! Dia bahkan tidak tampak menyesal ketika mengakui itu.” serang Miko begitu Risa membuka suara. Ekspresi kesakitan itu jelas sedang menghantui Risa. Dadanya terasa begitu sesak dan nyeri. Sesuatu telah mengoyak dirinya secara perlahan di dalam sana. “Kenapa kau membunuhnya?” tanya salah seorang senior yang bertugas mengawasi jalannya acara pengakraban malam itu. “Sssaya pikir... hgg.. dia akan lebih menderita dengan luka itu dan lebih baik untuk mengakhiri..hhgg... penderitaannya lebih cepat.” jelas Risa dengan bongkahan besar menyumbat pernapasannya. “Bagaimana rasanya, Sa? Pasti menyenangkan bagimu saat menikmati kesakitan itu, kan? Kau tersenyum lebar ketika kucing itu merenggang nyawa di tanganmu. Apa kau akan menargetkan salah seorang dari kami malam ini untuk menjadi korban kedua setelah kucing malang itu? Atau mungkin sebenarnya kucing itu bukan kali pertama kau membunuh?” tuduh Miko bengis. Risa tehenyak mendengar perkataan Miko terlebih semua orang sontak berpegangan tangan, berusaha menghindarinya. “Hentikan, Miko. Ini tidak lucu. Kau membuat semua orang tidak nyaman.” tegur panitia setelah keributan kecil mulai mengusik. “Kita memang tidak boleh nyaman berada di sekitar monster psiko, kak. Siapa yang tahu ketika kita terlelap... dia menjalankan aksinya... bersenang-senang dengan penderitaan-” Kalimat itu tidak lagi Miko selesaikan begitu Risa berlari meninggalkan rombongan mereka. Dalam angannya, saat ini ia akan merasa luar biasa puas karena telah membayar kembali penghinaan yang Risa lakukan dulu. Tapi, begitu pungggung perempuan itu menghilang di balik kerumunan, sesuatu yang entah datang dari mana itu justru menghantam telak ke inti hatinya. Membuat senyum yang terpatri di wajah tampannya menjadi ringisan kecil. “Hai, Miko. Thanks, ya. Karena keberanianmu, kami semua selamat dari si psiko itu.” sapa seorang mahasiswi ketika Miko tengah mengerjakan tugas di perpustakaan kampus. Miko memicingkan matanya dan mengangguk pelan ketika berhasil mengenali mahasiswi tadi sebagai Dona. Salah satu anggota yang hadir di malam pengakraban dua bulan yang lalu. “Denger-denger dia DO. Syukurlah. Tapi kemarin itu nekat juga ya, kamu.” cerocos Dona yang tidak lagi menyadari bahwa Miko telah menghilang dari duduknya. Pria itu berlari tergopoh begitu mendengar kabar tersebut. DO? Masih jelas di benak Miko betapa keras usaha Risa belajar untuk masuk seleksi perguruan tinggi dan karena emosi sesaatnya, perempuan itu sampai DO? Matahari mulai condong ke barat ketika Miko tiba di depan rumah Risa. Dari ingatan terakhirnya tentang rumah itu, keadaan sudah sangat jauh berbeda, atau mungkin sedang berbeda. Taman bunga dengan pot hias kecil yang biasa menyambut tamu kini pecah menjadi kepingan sampah. “AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!! PERGI!” “Risa! Tenangkan dirimu.” “AKU INI MONSTER! AKU BAHKAN TIDAK MERASAKAN APAPUN KETIKA MEMBUNUH KUCING ITU. AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!” Teriakan putus asa dan jerit histeris dari dalam sana tidak perlu memaksa Miko untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dan siapa penyebabnya juga sudah sanagt jelas. Pria itu mengambil langkah mundur ketika tiba-tiba saja Risa berlari keluar rumah dan menghantamkan dirinya pada mobil yang sedang melintas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD