“Kenapa kau ingin belajar bersama?” tanya Miko memberanikan diri. Setelah wajahnya disembur dengan kekuatan turbo, perempuan itu menjadi diam. Meskipun kata maaf Miko diterimanya dengan lapang d**a, Risa sama sekali tidak berniat untuk membuka percakapan lagi.
“Hanya ingin. Film bisu yang kau ceritakan... aku ingin tau rasanya.” kali ini Miko tidak tersedak atau menyemburkan air dari mulutnya, ia hanya terdiam. Menatap keseriusan dan entah apa yang sedang berkecamuk dalam benak Risa. Namun tidak masalah, setidaknya perempuan itu selangkah membuka diri padanya.
Hari-hari selanjutnya terasa seperti permen kapas bagi Miko. Setiap pulang sekolah ia dan Risa selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi atau menonton sebuah video untuk mempelajari seluk beluk dunia perfilman. Ketika mereka hanyut dalam pembicaraan, rasanya tidak ada yang salah dengan Risa, tapi setelah pembicaraan itu selesai, MIko dapat merassakan bahwa perempuan itu menyimpan sesuatu di balik wajah tenangnya.
Tanpa bisa dicegah, waktu telah membawa perasaan Miko semakin dalam. Ia tidak lagi khawatir jika Risa mengabaikannya sebab ia tahu perempuan itu selalu punya waktu untuk mereka. Berada di kelas akhir sedikit banyak mengusik kesadaran Miko. Akal sehatnya berkata bahwa Risa tidak akan pernah menerima perasaannya, tapi desakan itu semakin menekan tiap harinya. Terlebih ketika Eko juga menampakkan ketertarikannya pada Risa terang-terangan.
Seperti yang dilakukannya saat ini, ketika Risa membaringkan kepalanya di atas meja dengan lemas. Kedua tangan itu meremas perutnya dengan erat. Wajah pucatnya basah oleh peluh.
“Sa, kamu sakit apa?” tanya Eko yang mendudukkan diri di sisi Risa. Kepalanya ikut terkulai di atas meja. Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan.
“Kamu dingin banget! Ada obat yang biasa kamu minum? Sini aku belikan.” tawarnya dengan panik setelah mengukur suhu tubuh Risa dengan telapak tangannya. Sebuah perilaku yang tampak mengesalkan di mata Miko. Pria itu masih berdiri di depan pintu, mengamati dari jauh tentang apa yang hendak Eko lakukan.
Pria itu berlari menghampirinya dengan tergesa.
“Ko, temenin yuk ke apotek. Beli obat buat si Risa!” ajaknya tanpa menunggu persetujuan Miko. Ia menarik paksa Miko untuk pergi ke halaman belakang sekolah, tempat andalan jika ingin membolos.
“Kenapa harus bolos?” protes Miko begitu Eko hendak melompati pagar.
“CK! Gak usah sok polos sekarang. Kita harus cepat supaya bisa balik ke kelas tepat waktu” omelnya ketika berhasil melompati gerbang. Senyum puas yang mengembang di wajah Eko kian mengendur ketika di belakangnya tak juga ia dengar sahutan dari Miko. Pria itu menghilang.
“Ko? Miko?” panggilnya kebingungan.
“Pergi saja sendiri. Risa sudah minum obat.” Eko mengumpat keras ketika Miko berdiri di balik tembok dengan mengangkat tinggi-tinggi obat pereda nyeri yang Risa sebutkan padanya.
“Kalau kau punya obatnya kenapa tidak bilang?!” bentak pria yang terlanjur membolos itu dengan kesal. Tak ada sahutan lagi setelahnya. Miko telah pergi dan berganti dengan siulan yang membuat seluruh siswa merinding ketika mendengarnya. Pak David, guru BK yang sedang berpatroli itu sedang menatapnya gemas.
Sialan di Miko!
“Sa, minum obat.” seru Miko dengan pelan, agaknya Risa terlelap sejenak dari jeda nyeri yang menyerang perutnya sejak pagi. Perempuan itu mengerutkan dahi dengan tidak nyaman. Miko kembali menyodorkan obat dan air mineral ke hadapan Risa ketika pandangan mereka bertemu.
“Terima kasih.” lirihnya seraya meraih obat dan meminumnya perlahan.
“Cepat sembuh, jangan sakit lagi.” gumam pria itu mengusap rambut Risa yang berantakan setelah tertidur. Perempuan itu mematung di tempatnya. Entah karena ucapan Miko, atau sikap pria itu yang mendadak terasa aneh, Risa merasa degup jantungnya berdetak lebih cepat. Ada perasaan asing yang sejak dulu ia rasakan ketika bersama Miko. Meski selalu ia abaikan, kali ini perasaan itu muncul dengan kuat.
Tatapan, usapan, dan ucapan yang Miko katakan padanya membuat sesuatu di dalam diri Risa merasa sakit. Perempuan itu bahkan tidak dapat menyembunyikan ketidak nyamanannya sehingga Miko dengan segera meminta maaf.
“Bibi...” seru Risa ketika mendapati Santi menunggunya di depan gerbang. Sesuatu yang jarang bibinya lakukan.
“Bagaimana harimu?” tanya sang bibi memperbaiki pakaian Risa yang sedikit kusut. Perempuan itu tersenyum kecil.
“Bibi.. aku pernah cerita tentang teman yang ingin menjadi sutradara...” buka Risa ketika hening terlalu panjang meneyelimuti mereka berdua. Santi meilirik Risa sekilas dan kembali fokus pada jalan di hadapannya.
“Ya. Miko. Kenapa?”
“Dia sering membuatku tidak nyaman. Seperti sesak dan ingin melarikan diri.” tuturnya dengan hati-hati.
“kenapa? Dia berbuat sesuatu padamu? Dia melukaimu?” Risa menggeleng dengan cepat mendengar Santi menebak dengan salah arah pembiaraan mereka.
“Bukan seperti itu. Hanya saja... aku merasa tidak aman. Ketika dia menatapku.. itu membuatku tidak percaya diri.” cicit Risa dengan kepala tertunduk.
“Impiannya membuatku merasa tertekan. Aku pikir sepertinya aku...”
Santi menunggu Risa menyelesaikan kalimatnya dengan tidak sabar. Ini sebuah momen penting dalam hidup perempuan itu. Ia tidak boleh legah jika tidak ingin semuanya berantakan.
“Sepertinya aku iri pada Miko. Aku merasa harus lebih baik darinya. Bukankah itu perasaan yang jahat? Aku bisa menyakitinya suatu saat nanti.”
Santi menghela napasnya dengan kasar, kecewa juga gemas. Risa ternyata tiak cukup peka dengan dirinya sendiri, tapi tidak ada yang bisa diharapakna dari perempuan itu. Ia memang terbiasa dengan logikanya dibanding merenungi perasaan, maka hanya denga memikirkan bahawa Risa khawatir akan melukai orang lain dan mencoba mengenali apa yang dirasakannya sudah cukup membuat Santi lega.
Tadinya santi khawatir harus mengatakan sesuatu yang kejam untuk membunuh perasaan Risa. Perasaan itu mungkin sesutua yang meyenangkan bagi orang lain, diidamkan dan dicintai... tapi bagi Risa perasaan itu bisa dengan mudah mendepaknya jauh ke dalam kegelapan dan bahakan bisa membunuhnya secara perlahan.
“Risa... kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Kalau kau merasa tidak nyaman, katakanlah dengan baik-baik. Miko pasti mengerti jika kau mengatakannya dengan baik.” ujar Santi sembari mengusap bahu Risa, memberi ketenangan juga hangat. Risa tersenyum, meski tidak bisa membayangkan apa reaksi Miko nantinya, ia merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Santi. Sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan karena bom yang sudah bersarang di hatinya itu sebentar lagi akan meledak.
Santi menatap punggung Risa yang menghilang di balik pintu rumahnya dengan cemas. Meski berpura-pura tenang di hadapan Risa sangatlah mudah, bukan tidak mungkin hal itu justru membuat Risa salah bertindak nantinya.
I am not a Monster