Risa mengayunkan tungkainya dengan terseret, seolah pintu utama rumah yang berada 3 meter di depannya terlalu jauh digapai sedang tak ada lagi tenaga yang tersisa.
Untuk pertama kalinya tubuh yang selalu bersemangat itu tampak siap roboh kapan saja hanya dengan hembusan angin. Dengan mata yang berkaca-kaca dan rasa sesak entah dari mana, perempuan itu akhirnya berhasil merebahkan jasad letihnya di atas ranjang.
"Berbicara terkadang terlalu merepotkan dan melelahkan." gumamnya mengulang kembali ucapan Miko. Kembali ia mengingat akhir dari film itu ketika Lintang berteriak lantang pada tubuh kaku sang ayah yang tidak akan bisa lagi mendengar suaranya. Entah menyesal atau tidak, bagi Risa yang menonton reka ulangnya, ada perasaan yang merobek setiap inci hatinya begitu menyaksikan adegan tersebut.
“RISA!” jerit Santi begitu mendapati Risa terkulai lemas dan menangis tersedu. Perempuan itu tidak sanggup membuka mata meski Santi memohon padanya. Suara yang terakhir ia dengar adalah isakan ibunya juga Santi yang masih memohon agar ia mengatakan sesuatu.
Setelah tertidur untuk waktu yang tidak lama, Risa membuka matanya yang terasa perih begitu bertabrakan dengan cahaya lampu kamar. Di sisi kanan ranjang ada sang ibu yang setia menggenggam tangannya. Kali ini ia tahu bahwa dirinya merasa sedih karena kembali membuat ibunya khawatir.
“Risa? Ada apa? Sesuatu terjadi?” tanya Santi yang memasuki kamar Risa dengan segelas air putih. Risa hanya menggeleng pelan dan meminta sang bibi untuk tidak bersuara lagi karena ibunya bisa saja terbangun nanti.
“Aku menonton film bersama teman tadi, sebuah film singkat... menceritakan seorang anak yang ditinggal ibunya dan dirawat oleh orang asing. Anak itu sepertinya memiliki luka batin sehingga memilih jadi bisu dari semua perasaan yang dia rasakan. Pada akhirnya, ketika dia memilih untuk kembali bersuara, orang yang paling berhak mendengar suara itu telah tiada.” Risa memainkan gelas kecil dalam genggamannya. Setelah hari itu, ia mengalami demam selama dua hari dan kembali bersekolah pagi tadi. Perempuan itu memilih berkonsultasi pada Santi tanpa sepengetahuan ibunya.
“Kau merasa menderita untuk anak itu?” tebak Santi yang dijawab gelengan kecil oleh Risa.
“Aku tidak tahu, seperti apa rasanya penyesalan itu?” balasnya balik bertanya.
Santi tersenyum hangat, mengusap pipi Risa dengan ibu jari dan menatapnya lurus. “Menyesal itu seperti saat ayahmu meninggal, dan kau belum sempat mengatakan padanya bahwa kau mencintainya. Kau tahu bahwa ayahmu tidak akan mendengar ucapan itu sekeras apapun kau berteriak.” jelasnya. Risa terdiam, mungkin sedang mengingat lagi perasaan itu dengan dahinya yang mengkerut.
“Aku tidak yakin pernah merasakannya. Ini sesuatu yang baru dan aku merasa lelah karena tidak bisa mengatakannya. Apa yang harus kulakukan?” keluhnya setelah menyerah. Tidak ada apapun yang bisa ia bayangkan. Punggungnya bersendar penuh pada sofa besar, sedang kepalanya ia biarkan terkulai kebelakang, membuat rambut panjang itu bersentuhan dengan lantai.
“Kenapa perasaan sangat sulit untuk diungkapkan dan kenapa harus diungkapkan?” gumamnya mengakhiri sesi tanya jawab singkat bersama Santi dengan dengkuran halus. Santi memperbaiki posisi tidur Risa dan meninggalkan perempuan itu untuk beristirahat sejenak. Rasa lelah membuat Risa tidak menyadari getaran yang berasal dari saku seragam putihnya.
Miko S XI Ipa C
BTW, Aku lupa ngasih tau... mahasiswa yang ngasih film itu namanya Lintang, anak pak Tono.
Risa kembali bersekolah setelah izin selama tiga hari karena demam. Wajahnya yang selalu pucat kini kian pasi. Semua siswa di kelas menatapnya penasaran termasuk Miko. Setelah mengantar Risa pulang, pri itu tidak menyangka bahwa Risa akan jatuh sakit. Pasalnya mereka berpisah dengan baik-baik.
Melihat Risa yang telah duduk manis di tempatnya membuat jerit heboh Dita tak terbendng. Perempuan itu segera menghamburkan dirinya pada Risa. Mengeluh tentang hari-hari membosankan yang ia lalui tanpa Risa.
“Apalagi si MIko, dia hampir tiap detik nengokin bangku kamu, Sa.” celoteh Dita melirik wajah padam Miko. Telinga pria itu menjadi merah begitu Risa juga ikut meliriknya.
“So-soalnya kan aku yang terakhir main sama dia.. terus tiba-tiba dia sakit... ya gimana gak khawatir?” belanya dengan terbata.
“Khawatir karena yang lain juga gak ada yang larang, kok. Iya kan, Sa?” goda perempuan berambut pendek itu masih belum menyerah.
Risa menepuk bahu Dita pelan, memberi isyarat bahwa ia harus berhenti menggoda Miko. Dita memberengut, pura-pura kesal kemudian duduk di sisi Risa dengan tenang. Miko mencuri pandang ke arah Risa tanpa berani mengucapkan kata-kata yang sudah ia simpan sejak tiga hari yang lalu.
“Sa, mau makan siomay?” ajak pria berdasi miring itu ketika jam istirahat tiba. Risa yang masih sibuk dengan lembar-lembar soal hanya memberi gelengan sebagai jawaban. Tidak lama kemudian sebuah teh kotak telah bertengger manis di hadapan perempuan itu.
“Kalau tidak makan, nanti sakit lagi.” jelas suara serak itu.
“Terima kasih.” balas Risa menerima teh kotak dingin dengan canggung.
“Kenapa gak makan tadi pas diajak Eko?”
“Aku tidak lapar.”
Miko mengagguk pelan mendengar jawaban Risa. Perempuan itu selalu memberikan pernyataan singkat dan membunuh percakapan. Tampak seperti tidak ingin diganggu padahal ia menikmati setiap keusilan Dita.
“Kemarin... kau sakit apa?” bukanya lagi berharap Risa bersedia membuka suara. Kelas saat ini tidak terlalu sepi. Gelak tawa di bangku seberang salah satu kebisingan yang mendominasi selain petikan gitar dan nyanyian merdu siswa di pojok kelas. Rida belum menjawab pertanyaan Miko hingga pria itu mengira bahwa ia tidak akanmendapatkan jawaban dari Risa. Langkahnya untuk meninggalkan bangku kemudian terjeda oleh gumaman kecil perempuan tersebut.
“Demam. Bukan salahmu.”
Miko mengurungkan niatnya dan kembali duduk di tempat semula. Dengan kursi yang sudah di putar sempurna menghadap Risa, pria itu menyondongkan badannya dan menopang dagu dengan malas. Menikmati kesibukan perempuan di hadapannya.
“Kau sangat suka belajar?”
“Belajar bukan sesuatu yang bisa disukai atau tidak. Itu sebuah keharusan.” jawab Risa tanpa melepaskan perhatiannya dari lembar soal.
“Apa yang kau sukai selain belajar?” gigihnya setengah usli ingin menguji kesabaran Risa. Perempuan itu mengangkat pandangannya hingga menatap lurus ke mata Miko tanpa gentar.
“Kau.”
Miko terbatuk dengan hebat, wajahnya memerah padam meski ia tidak sedang meminum teh jelly.
“Apa kau sangat mudah terkejut?” Risa memberikan air mineral yang selalu ia sediakan di laci meja kepada Riko. Dengan segera botol kecil tersebut berpindah tangan dan habis setengah dalam seketika.
“Kau selalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku duga.” sangkal pria itu menyembunyikan kegugupannya.
“Kau bilang ingin menjadi sutradara nantinya... bolehkah kita belajar bersama?”
Risa memejamkan matanya sembari menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Di depannya Miko sedang merapal doa meminta keselamatan. Ia baru saja menyemburkan sisa air mineral itu tepat di wajah Risa.
“Kenapa kau ingin belajar bersama?”