11. Jangan memaksakan kehendakmu pada teman. Hargai pendapat dan keputusannya.
“Naik.” titah pria berseragam olahraga itu ketika memberhentikan motornya di hadapan Risa.
“Tjiieeeee, kayak drama oppa Koreaaak!” sorak Dita menyenggol bahu Risa dengan gemas berulang kali. Perempuan berbandana hitam itu masih diam terheran.
“Katanya mau nonton film. Jadi, kan?” jelas Miko memberikan helm cadangan yang selalu dibawanya di bagasi motor kepada Risa.
“Kalian kapan jadiannya sih? Kok udah main nonton bareng segala?” goda Dita lagi masih menautkan lengannya pada Risa. Berharap akan ada penjelasan menarik dari perempuan itu.
“Mau tau aja urusan orang. Ayo, Sa. Biar pulangnya gak kesorean.” desak Miko menarik lengan Risa yang bebas dari Dita. Dita mencebik sebal melihat Risa dan Miko yang kompak tidak mau buka mulut soal hubungan mereka.
Padahal gak pernah kelihatan bareng, tiba-tiba udah sedeket itu? Gumamnya dalam hati menatap kepergian Miko dan Risa yang telah hilang di perempatan jalan. Hari ini rencananya ia dan Risa mau pulang bersama agar sebelum tiba di rumah Risa ia bisa menikmati es serut yang terkenal di komplek perumahan itu. Sayang sekali malah berakhir sendirian karena teman kakunya tersebut sudah ditikung oleh orang lain.
“Kupikir kau marah padaku.” ujar Risa membuka pembicaraan setelah mereka berhenti di perempatan yang memiliki durasi lampu merah yang lama.
“Memang. Tapi tidak usah dipikirkan. Aku yang salah paham padamu. Maaf.” jelas Miko memandangi layar disamping lampu apill yang menunjukkan hitung mundur kurang dari 60 detik.
“Salah paham? Apa?” Risa mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa mendengar ucapan Miko dengan jelas. Ramai kendaraan dengan deru mesin yang siap-siap berpacu menghalangi konsentrasinya pada suara kecil Miko di balik helmnya.
Menyadari sesuatu menyentuh punggungnya membuat Miko merinding. Perempuan itu terlalu dekat dengannya. Belum lagi desakan untuk menjawab pertanyaan itu hilang dari benaknya, pikiran pria itu mulai fokus ke tempat lain. Miko benci dengan apa yang ia pikirkan dan pada mulutnya yang terkatup rapat ia ucapkan terima kasih banyak, sialan.
“Sorry.” ucapnya dengan panik ketika Risa terjungkal akibat gerakan tiba-tiba motornya yang melaju saat lampu apill di depan mereka berubah hijau. Ia hanya ingin segera keluar dari situasi menyesakkan itu tapi justru menciptakan kecanggungan yang lebih parah karena demi menyemibangkan tubuhnya, Risa reflek menarik ujung kaos olahraga Miko dan memeluk pria itu dengan erat.
Ramai jalanan berpacu dengan waktu istirahat para pekerja membuat pemandangan sepasang anak SMA membelah jalan terasa menarik sudut bibir untul berkedut gemas teringat masa-masa kasmaran, hanya saja mereka tidak tahu bahwa dua siswa SMA tersebut merutuk dalam hati memohon agar tidak ditatap seperti akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Terlebih saat motor yang Miko kendarai berhenti di sebuah warnet.
“Warnet?”
“Kalau nonton di rumahku yang ada kau jadi sandera.” jelas Miko melangkah lebih dulu dari Risa. Penjaga warnet yang tersenyum penuh arti melihat Risa mengikuti Miko masuk ke dalam bilik nomor 9 itu membuat Miko mengelus d**a. Apakah wajahnya seperti pandai berbuat m***m? Renungnya selagi menunggu layar menyala dengan sempurna.
Setelah layar menyala dan Miko memasukkan nama pengguna serta durasi yang akan dihabiskan, Risa semakin terheran. Hanya 30 menit?
“Berbicara terkadang terlalu merepotkan dan melelahkan.” gumam Miko seolah menyindir ekspresi keheranan Risa saat ini tapi terlihat enggan untuk bersuara.
Pria itu mengeluarkan sebuah kaset polos dan meletakkannya pada penampan cakram dan tertelan masuk ke dalam kandar diska komputer. Risa masih diam mengamati tiap aksi yang Miko lakukan pada layar komputer hingga akhirnya ia sadar bahwa film yang pria itu maksud akan segera di mulai.
Layar yang hitam selama beberapa saat itu kemudian berangsur pudar berganti dengan pemandangan seorang pria tua yang mengambil sebuah ranting di depan rumahnya lalu menghantamkan ranting kecil itu pada betis seorang bocah SMP yang diberitakan sebagai anak sang pria tua. Anak itu menangis tersedu usai sang ayah pergi melanjutkan kerjaannya.
Risa menoleh pada Miko yang sudah tenggelam dalam tontonannya.
“Apa kau lupa menyalakan speaker? Atau volumenya terlalu rendah?” tanyanya kembali menatap layar yang menampilkan aktivitas sehari-hari pria tua tadi. Ternyata ia seorang buruh penyapu jalan. Hari-harinya ia habiskan di jalanan. Menyapu, dan memungut sampah yang bertebaran. Ketika pulang larut malam, ia tampak marah karena mendapati sang anak belum juga tertidur.
“Kau tidak membaca judulnya?” jawab Miko setelah membiarkan Risa penasaran beberapa menit. Risa melarikan pandangannya ke sudut layar. ‘Silent Voice’.
Film berdurasi lima belas menit itu berhasil membuat Miko dan Risa terhanyut dalam emosi yang berantakan. Ada amarah yang membakar ketika mengetahui bahwa sang ayah kerap menyiksa anaknya. Namun juga iba begitu sadar bahwa sang ayah tidak memiliki cara lain agar anaknya mau kembali bersuara. Bekerja sebagai buruh penyapu jalan tentu tidak dapat menjamin hidupnya di keesokan hari, apalagi untuk membawa anaknya berobat.
Pak Tono namanya, diakhir film ia bercerita bahwa anaknya berhenti berbicara sejak sang ibu meninggal. Tono sendiri ternyata bukan ayah kandung anak tersebut, ia hanyalah pria sebatang kara yang dititipi anak oleh perempuan tak dikenal beberapa tahun lalu sebelum perempuan itu meninggal. Setiap kali Tono pulang dari pekerjaannya, ia selalu menangis terisak sembari mengobati luka sang anak. Rasa cintanya saja tidak akan cukup untuk mengobati luka batin anak tersebut.
Dalam pikirnya yang terbatas, Tono berharap anak yang diberi nama Lintang itu paling tidak akan menjerit ketika dipukul. Tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan rasa cintanya tapi Lintang yang tetap bersedia memaafkan setiap pukulan Tono sejujurnya paham bahwa pria tua itu sayang. Tiap kali Tono menangisi luka yang ia buat, Lintang akan mengusap air mata sang ayah dan menenangkan pria itu dengan pelukan, seolah berkata ‘Aku baik-baik saja, Ayah.’
Setelah film berakhir, Risa memandangi Miko yang masih terkagum-kagum meski mengaku telah menonton film tersebut berulang kali. Alasannya, film pendek itu adalah garapan seorang mahasiswa yang tidak sengaja ia temui ketika SD dulu. Mereka bertemu saat mahasiswa tersebut menyelesaikan tahap pengambilan gambar terakhir bersama tokoh yang berperan sebagai pak Tono. Awalnya Miko sengaja lewat daerah itu karena terkesima dangan kamera yang mahasiswa tersebut gunakan. Setelah mendengar cerita dari sang mahasiswa, Miko dijanjikan sebuah kepingan cd film itu ketika selesai disunting nantinya.
Risa tidak banyak bersuara meski Miko telah panjang lebar menceritakan latar belakang sejarah film yang mereka tonton barusan. Bahkan ketika telah sampai di rumah, Risa tidak sempat mengucap terima kasih pada Miko karena tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beruntung Miko tidak mempertanyakan alasannya karena Risa sendiri tidak mengerti kenapa ia merasa begitu lelah saat ini. Perasaan yang mengganjal itu menyerap seluruh tenaganya.