Putra yang baru saja kembali dar rumahnya setelah mandi dan berganti pakaian, melihat raut wajah sang ibu sekembalinya dari ruang ICU. “Ada apa, Ma?” tanya Putra. “Tidak ada apa-apa. Mama hanya kasihan melihat Windy. Kamu tahu, tadi ketika mama membisikkan sesuatu ke telinga Windy, beliau menangis.” “Oiya? Terus gimana kata suster?” Santi menggeleng, “Ketika suster memeriksa pupil mata Windy, kondisinya masih sama saja. Ia masih belum memberikan reaksi apa-apa. Setelah mama coba mengobrol lagi, Windy kembali tidak memberikan reaksi apa-apa.” Putra menghela napas, “Ya Allah … Berikanlah keajaiban pada Windy,” lirih Putra. “Putra, selama Windy sakit, bagaimana kalau Fandy, Langit dan Mentari tinggal sama mama dulu.” “Mama serius? Mama nggak keberatan? Nanti mama kerepotan.” “Mana mun

