Fandy tampak sangat bahagia bersama Putra dan Santi. Ikatan darah memang tidak dapat dibohongi, sebab Fandy memang terlihat sangat nyaman dan entah kenapa ia yang biasanya susah dekat dengan orang baru, kali ini malah seakan tidak mau lepas dari nenek dan ayah kandungnya itu. “Nenek, Andi mau itu.” Fandy menunjuk salah satu kios es krim merek terkenal. “Fandy mau eskrim itu?” tanya Santi. Fandy mengangguk. “Sama om saja saja ya. Biar om yang belikan.” Putra dengan sigap bersiap mengeluarkan Fandy dari kursi makan bayi. “Nggak usah, biar mama saja yang temani. Kamu di sini saja temani Windy.” Santi lalu bangkit dan berjalan mendekati cucunya, “Fandy, yuk ke sana sama nenek.” Fandy mengagguk. Ia merentangkan ke dua tangannya minta dikeluarkan dari kursi makan bayi oleh Santi. Santi te

