“Maaf, Putra. Abang tidak bermaksud ikut campur, tapi rasanya memang kurang pantas.” “Aku tahu, Bang. Tapi mau gimana lagi. Suaminya sudah meninggal. Ia meninggal diwaktu yang bersamaan ketika kecelakaan terjadi, sementara saudaranya Windy tidak ada yang bisa menemani Windy di sini dengan berbagai alasan. Anak-anaknya masih kecil-kecil dan saat ini tinggal bersama mama. Salah satunya adalah anak aku.” “Anak kamu? Jadi kamu punya anak dari Windy?” Putra tersenyum seraya mengangguk, “Aku juga baru tahu, Bang. Aku tidak sengaja bertemu dengan Windy di transmart bersama putra bungsunya. Entah naluri apa yang membawaku mengikutinya. Aku perhatikan anak itu, sangat mirip dengan wajahku waktu masih kecil.” “Oiya? Berapa umurnya?” “Sekitar satu setengah tahun.” “Masyaa Allah, selamat, Putra.

