Untuk pertama kalinya semenjak Windy kecelakaan, rumah Santi menjadi sepi. Sebulan lebih lamanya rumah itu ramai dengan kehadiran anak-anak Windy. Hal itu membuat hidup Santi berwarna dan indah. Tapi malam ini, matanya enggan untuk terpejam. Ia masih berdiri di depan teras rumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Ma, mama belum tidur?” tanya Putra. “Mama nggak bisa tidur, Nak. Mama kepikiran anak-anak terus. Biasanya mama selalu dengar celotehan Fandy di rumah ini. Lantunan suara indah Langit yang sedang memurajaan hafalannya dan keusilan Mentari. Tapi hari ini semuanya tidak ada. Hidup mama terasa hampa.” Santi tidak mampu menahan luapan lahar bening yang keluar dari ke dua matanya. Putra mendekat. Ia peluk bahu sang ibu dari belakang. “Sabar, Ma … Semoga saja suatu

