Selama nafasku berhembus
Hanya ada cinta di doaku
Selama mataku memandang
Hanya dia cinta matiku
Dergarlah dunia, rintihan hatiku
Yang terbalut hanya di dalam doaku
Sumpah mati sumpah
Sumpah mati cintaku hanya untukmu...
Sumpah mati maaf ini selalu kunanti sampai mati
___
Hans melompat duduk di samping Ben hingga ia mengumpat. "Serius lo rela jadi jomblo seumur hidup demi itu cewek?" ia masih penasaran dengan masalah kemarin mengenai Ben dan si gadis yang merupakan cinta pertamanya.
"b*****t lo, bisa nggak sih nggak pakai lompat segala!" umpat Ben dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Sory...!" ucap Hans tanpa ada rasa sesal.
"Mati pun gue rela demi untuk bisa nebus kesalahan gue ke dia," jawab Ben kembali serius.
"Soal cewek, ternyata elo yang paling nekat, Ben!" ucap Jack.
"Wah, gila tuh cewek jadi bikin gue penasaran aja, se-sempurna apa sih, dia?" kata Hans dengan rasa penasaran.
"Pokoknya, nanti kalau memang kita semua bakal ditakdirkan Tuhan buat ketemu dengan dia, si mantan gue itu, elo berdua akan tahu definisi cantik, anggun, lembut, itu seperti apa." Ben berkata dengan sangat yakin bahwa cepat atau lambat hal itu akan terjadi.
Mereka bertiga kembali menunggu makanan tiba, atau lebih tepatnya lagi menunggu si pengantar yang membuat pagi mereka kemarin menjadi heboh.
_ _ _
Pagi hari yang selalu sibuk di dapur rumah Billa. Gadis itu berlari kecil saat menuruni tangga dari kamar menuju ruang makan di lantai bawah.
"Pelanggan baru ya, Kak?" tanya Billa ketika berhenti di samping Kak Anisa yang selalu saja sibuk di balik laptop untuk menerima dan mencatat pesanan katring on line.
"Iya, dari i********:," jawab Anisa seadanya saja tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop. Satu detik berikutnya Anisa mengangkat pandangan matanya kemudian bertanya dengan nada yang entah serius atau hanya bercanda saja, "kenapa? ganteng, naksir ya? kalau memang ini foto asli, itu artinya dia memang ganteng. Um, kayak pernah liat deh, di mana ya?"
"Di dalam mimpi. Ah, biasa aja, lagian juga aku nanya bukan karena itu, kok. Kakak aja yang aneh," sungut Billa.
Anisa mengernyit, "aneh di mananya?"
"Gini loh, Kak. Kemarin itu waktu aku nganter makanan buat dia, sikapnya itu aneh banget," Billa menjawab sekaligus juga menjelaskan.
"Aneh gimana loh Bill..., dari tadi bilangnya aneh melulu ke kakak!" sahut Anisa dengan sedikit bernada protes.
"Ya, pokoknya aneh gitu loh, kak. Mereka itu seperti orang yang nggak pernah liat cewek aja gitu," jawab Billa yang kali ini sambil melipat kedua tangannya dengan kesal.
"Ah, masak sih!" seru Anisa yang belum percaya. "Yeah, tapi ya cowok mana sih, yang nggak terpesona dengan cantiknya adik aku ini," puji Anisa kemudian mengacak rambut adiknya.
Billa mengerutkan kening karena tak terima jika rambutnya diacak, tapi lalu ia merapikan kembali.
"Kak, pulang kuliah nanti aku nggak langsung pulang ke rumah ya," kata Billa.
"Hm, memangnya kamu mau ke mana? ke rumah cowok aneh itu, huh?" tanya Anisa yang sudah jelas hanya bercanda saja atau memang lebih ke arah tuduhan.
"Apa an sih, Kak. Aku mau ke rumah Andin doang kok," sahut Billa sambil memprotes.
"Oh..., kalau itu sih udah nggak heran lagi. Oke, laporan diterima! ada lagi?"
"Kakak jangan terlalu banyak duduk," Billa hampir tidak pernah lupa untuk mengingatkan hal yang satu itu.
"Huh, kamu ngelarang kakak jangan terlalu banyak duduk, itu sama aja kamu ngelarang ikan jangan terlalu banyak berenang di air," kata Kak Nisa memprotes.
"Ayo jalan dulu Kak, stop dulu ngurusin kerjaan, adikmu ini ditunggu seantero kampus."
"Iya!" sahut Kak Nisa yang kemudian beranjak dari kesibukannya di depan laptop.
"Kakak nanti nggak perlu jemput aku."
"Memang kenapa? ada cowok yang mau nganterin kamu balik? alhamdulillah... akhirnya!"
"Apa sih, Kak! Aku tuh mau minta dianter Babe naik angkot. Beda kalau yang namanya naik angkot, ada sensasi tersendiri, gitu." Billa bertutur seperti itu karena sejak kecil dia memang suka sekali naik angkutan kota alias angkot. Kebetulan sekali Babe-nya Andini memang seorang juragan angkot. Sampai-sampai Billa dulu pernah berkata pada Andini untuk bertukar nasib menjadi anak juragan angkot. Andini sih mau aja andai hal itu benar bisa dilakukan.
"Doyan banget sama angkot, heran!" seru Kak Nisa.
Billa hanya memonyongkan bibirnya kemudian ia membuka pintu mobil.
___
Billa sudah tiba di kampus tercinta dan tepatnya ia sudah sampai di ambang pintu kelas. Terlihat sekali bahwa keadaan ruang kelas sedikit berbeda, hari ini para penghuninya tampak lebih heboh dari hari yang biasanya.
"Woy, lagi pada asik ngomongin apaan sih?" Billa mengetuk pintu kelas kemudian berjalan masuk, dia berhenti di tempat Andini berkumpul.
"Eh, yang lagi diomongin, udah nongol aja!" ucap Andini.
"Emang pada ngomonging gue apa, sih?" tanya Billa yang jadi penasaran total.
"Itu loh, biasalah ... soal... First Love...,"
Andini berkata dengan girangnya.
"Astaga..., apa sih, yang ada di otak kalian pada, gue pikir ... kalian berkumpul sampe heboh itu karena urusan tugas kuliah hari ini, tapi ternyata, soal acara nggak penting itu!" dumal Billa kemudian menggeleng tak percaya.
Andini bangkit dari tempat duduknya kemudian menggantungkan lengan di pundak Billa yang kini melipat kedua tangannya di d**a kemudian berkata, "Nabilla yang manis, cantik, baik hati dan tidak sombong, itu acara bakal ada di kampus kita yang tercinta ini. Jelas aja kita semua heboh, dong!" ucapnya seolah tidak ingin ambil peduli dengan apa pun yang terjadi pada perasaan sahabatnya itu.
Billa menepis tangan Andini dari atas pundaknya kemudian mendengus dengan kesal , "terserah kalian semua deh," sungut Billa sambil beranjak ke tempat duduknya lalu berkata, "pokoknya gue nggak peduli, gue mau meriksa tugas gue sekali lagi, awas kalian nggak bakal aku kasih contekan!" Billa mendumal dikursinya.
"No, urusin tuh, Billa nggak suka kita ngundang acara itu," Andini berkata pada Nino yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan pandangan yang meneliti.
"Ehm!" Nino berdeham kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Nabillaku yang tersayang, kita mengundang acara itu untuk datang ke kampus bukan semata untuk ngebahas tentang pengalaman first love, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari pada itu."
"Yang lebih pentingnya itu apa, No?" tuntut Billa.
Nino justru menggaruk kepalanya yang sudah pasti nggak gatal, " ... yang lebih penting apa ya, And? oh... masuk tipi, tuh yang lebih penting kita pada masuk tipi!" kata Nino lagi.
"Nino!" gertak Andini tak suka.
Nino pun mengangkat tinggi dua jari dengan wajah tanpa dosa, kemudian nyengir kuda.
* * *