Dua hari berlalu sudah semenjak Andini me -request acara All About First Love untuk datang ke kampusnya. Anak-anak satu kampus pun sangat antusias menyambut acara tersebut hingga akhirnya kampus mereka meraih suara terbanyak dan akhirnya terpilih untuk didatangi minggu ini oleh tim dari acara itu.
Di sebuah rumah yang cukup elit yang dihuni oleh tiga orang anak laki-laki yang usianya masih sebaya dan mereka pun berkuliah di tempat yang sama, rumah itu tampak ramai meski hanya ada tiga orang penghuni saja. Mereka selalu membuat kegaduhan sendiri.
"Hans, elo tuh ya kalo pas lagi giliran masak, pasti cuma masak mi instan, nggak sehat tau keseringan makan mi instan," kata Jackson sambil mengeringkan rambut jabriknya dengan handuk kecil karena dirinya baru saja selesai mandi pagi ini.
"Ya terus, makan apa kita?" todong Hanson yang biasa disapa Hans.
"Udah deh, mulai sekarang kita pakai jasa kathring aja, gue udah dapet alamat kathring online yang menunya nggak cuma enak tapi yang lebih penting lagi sehat," kata Jack dengan sangat yakin.
"Bagus deh, kalau gitu gue nggak jadi masak, gue mandi dulu deh," Hans bergegas untuk mandi.
"Gue udah pesan untuk pagi ini, katanya sih sebelum jam 8 kirimannya udah nyampe, kita tunggu aja," kata Jack dengan nada semangat.
"Ya udah elo aja yang tunggu, gue mau mandi dulu," kata Hans sekali lagi.
Ben baru saja muncul dari dapur dengan membawa segelas cappuccino di tangannya, ia duduk santai kemudian menyalakan televisi, "boleh juga ide lo Jack, kenapa nggak dari dulu aja kita pakai jasa kathring," ungkap Ben yang setuju.
"Ya, tadinya sih gue pikir akan lebih terjamin kalau kita masak sendiri, tapi ternyata kita nggak terlalu jago masak dan nggak sempat juga untuk terus masak," balas Jack.
"Semoga aja untuk pertama mereka nggak mengecewakan dengan datang terlambat. Hans buruan kita harus segera buka showroom nih!" teriak Jack.
"Bawel, tukang kathring aja belom nongol!" teriak Hans dari ujung kamar mandi.
"Buka jam berapa kita?" tanya Ben.
"Nyantai bro, kitakan baru belajar usaha showroom," jawab Jack.
"Justru itu kita nggak boleh nyantai, kita harus serius," Ben yang tipe pekerja keras tak mau kalah bicara.
"Iya gue tau, nanti juga kita pasti serius. Tenang aja Ben, begitu setelah sarapan, kita langsung berangkat buka showroom," sahut Jack lagi.
"Lagian, mana pesanan lo, sampe ubanan gue nungguin?" tanya Ben sedikit bernada protes.
"Sabar dikit dong bro, dia janji sebelum jam 8, ini baru jam 7 lewat dikit," balas Jack. Jack duduk di samping Ben kemudian menaikkan kakinya di atas meja. Matanya kini fokus pada televisi. "Eh, ngomong-ngomong setelah tampang kita bertiga masuk acara percintaan itu kita jadi agak tenar ya, buktinya cewek-cewek yang datang ke showroom kita selalu ngebahas itu. Wah ..., secara nggak langsung showroom kita jadi ikut tenar, promosi gratis gitulah." Jack tampak semringah.
"Iya, benar juga kata lo Jack. Gue cuma berharap satu hal, gue yang anti fans acara itu, bisa berubah jadi nge -fans, ya walau pun sedikit, karena pada akhirnya rasa malu gue nggak sia-sia ikutan nampang di acara murahan kaya gitu."
"Alaaah ...!" Jack melayangkan satu tangan di hadapan wajah tanda menganggap ucapan Ben remeh. "Apa sih, yang bikin elo malu, huh?"
"Gue nggak suka kehidupan pribadi gue ter-ekspous. Terutama itu soal cinta pertama gue yang bagi gue sangat berharga," jawab Ben dengan ketus dan serius.
Jack kembali tertawa remeh, "lo lebay! artis yang segitu terkenal dan banyak fans aja nggak gitu-gitu amat!" katanya.
"Ya, gue bukan artis yang sok tenar tapi murahan dengan menjual semua kehidupan pribadi ke media ini dan itu dengan kedok acara talk show. Najis!" ucap Ben dengan tampang jijik.
"Eh tapi ngomong-ngomong kesalahan apa yang udah elo perbuat sampai elo nyesel dan sekarang pengen balikan sama cinta pertama lo itu?" tanya Jack.
"Panjang ceritanya," kata Ben dengan santai kemudian menyeruput cappuccino di gelasnya. Kemudian Ben meletakkan kembali gelas di atas meja sebelum ia melanjutkan jawaban kepada Jack yang sudah menunggu dengan tampang penasaran. "Jadi, dulu gue pernah ngucapin kata-kata yang nggak pantas ke dia. Pokoknya kasar banget deh, sampe sekarang aja gue masih ingat dan nyesal setengah mampus, gimana coba dengan dia yang nerima kata-k********r itu dari gue."
"Sekasar apa ucapan lo itu Ben?" tanya Jack lagi, seperti benar-benar ingin tahu kehidupan percintaan Ben yang hingga kini masih bertahan dengan status jomblo. Sejak awal mengenal Ben, dia memang belum pernah melihat sahabatnya itu tertarik pada seorang gadis.
"Pokoknya ... ucapan gue waktu itu udah nyakitin dia banget, hatinya pasti udah terluka karena kegoblokan gue. Parahnya lagi gue ngucapin k********r itu di hadapan banyak temannya. Gue udah nyebut dia cewek murahan, gampangan, dan ... liar. Padahal jauh di lubuk hati gue tau bahwa itu semua nggak benar. Tapi gue dibutakan oleh rasa cemburu, gue dibutakan oleh cinta. Sampai gue percaya aja semua fitnah tentang dia. Akhirnya gue paham, semua itu karena rasa cinta gue yang dalam. Sebulan kemudian dia nggak ada lagi di sekolahan, dia pindah, dia nggak ada kabarnya. Dan sejak dia benar-benar hilang, gue makin sadar bahwa ternyata cinta gue terlalu besar buat dia."
"Kisah cinta pertama yang terlalu dalam," kata Jack sambil menepuk pundak Ben dan sengaja bersikap sedikit dramatis.
"... Makin banyak temannya yang mengatakan ke gue tentang sifat baik dia yang sebenarnya. Dia cewek yang baik, lembut dan tulus perasaannya, itu sebabnya dia dekat dengan siapa aja. Hal itulah yang akhirnya dimanfaatkan sama seseorang untuk memfitnah dia, mantan gue yang nggak suka dengan kedekatan gue dan dia."
"Mantan? artinya elo udah pernah jatuh cinta sebelum dengan si dia?" tanya Jack dengan tampang penasaran.
Ben menoleh ke wajah Jack, "kan gue udah bilang di acara percintaan itu bahwa menurut gue pacar pertama bukan berarti cinta pertama. Mantan gue itu hanya pacar pertama gue, alias gue cuma pacarin dia tapi gue nggak punya rasa sama dia. Lo paham maksud gue Hans?" Ben menjelaskan dengan tegas.
Hans menganggukkan pelan kepalanya, "paham, bro. Jadi yang bikin elo jatuh cinta untuk yang pertama kali justru si dia yang udah elo campakkan itu, kan?" Hans duduk miring menghadap Ben dan menaikkan kedua kakinya di sofa. "Kebetulan banget elo bisa nampang di acara itu dan speak up, siapa tau aja si dia ngeliat tampang keren kita ya nggak bro!"
"Gue juga berharap banget dia ngeliat gue. Masalahnya gue udah benar-benar nggak bisa ngebuka pintu hati gue buat yang lain, bro. Dia ngilang seolah ngebawa kunci pintu hati gue." Tatapan kedua mata Ben terlihat berbeda ketika mengungkapkan kalimat itu. Kalimat yang sungguh-sungguh keluar dari dalam dasar hatinya.
Hans kali ini menepuk kedua pundak Ben dengan cukup kuat untuk bisa menguatkan hati sahabatnya itu, "bro, elo dengerin gue baik-baik, sebagai laki-laki sejati yang punya cinta sejati, kalau emang cuma dia yang bisa buka perasaan lo, elo harus bisa nemuin dia, dan ngedapetin dia lagi. Bisa gawat kalau elo cuma bisa cinta sama dia tapi nggak bisa nemuin dia. Bakalan jomblo seumur hidup lo."
"Gue rela jomblo seumur hidup demi untuk menebus rasa bersalah gue yang udah ngancurin hatinya," ungkap Ben dengan sisa emosinya.
"Ah, gila lo! Lo pikir enak jadi jomblo sampai mati? cari mati!"
"Ngapain cari mati, mendingan cari duit cewek, cari cewek, cari binik buat ngewek," sambar Hans yang baru saja selesai mandi. "Pada ngomongin masalah apa -an sih, serius amat?!"
"Biasalah soal cewek. Soal acara kemaren tuh, masalah first love, Ben kan ngarep banget bakal balikan sama first love -nya itu," jawab Jack.
"Oh ..., itu, yeah jodoh mah nggak ada yang tau bro Ben. Berkali-kali putus nyambung banyak tuh yang ujungnya ke pelaminan juga," sahut Hans dengan santai saja. "Eh, bay the way perut laper nih abis mandi, delivery belom nyampe juga?" tanya Hans kemudian sambil menepuk-nepuk pelan perutnya yang six pack.
Jack menatap jam di tangannya lalu berkata, "iya juga, gara-gara si Ben yang kena kutukan cinta pertama, gue jadi lupa dengan masalah sarapan. Biar gue telepon deh."
Jack menghubungi nomor jasa kathring delivery yang sudah ia simpan di kontak ponselnya.
Hans menatap jam di dinding sambil berkata, "ngomong-ngomong, berapa hari lagi kita bakal kelaparan gini? apa harus nunggu sampai gunung krakatau meletus lagi?" kesal Hans kemudian menghitung detik.
"Kita hitung!" kata Ben.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas ...!"
Terdengar suara ketukan pintu.
Mereka bertiga lalu berhenti menghitung seperti anak TK yang belajar menghitung.
"Ternyata benar, angka tiga belas nggak selalu s**l!" ucap Jack sambil berlari ke arah pintu, kemudian diikuti oleh Hans. Jelas mereka berdua benar-benar sudah kelaparan.
"Permisi ...! Delivery katring Khairunisa!" seru si pengantar yang tampangnya seperti super model.
"Wow, mantab!" seru Jack tanpa berpaling dari wajah si pengantar katring tadi.
"Au... Au..., mantab banget...!" lanjut Hans dengan tampang genit.
"Ehm, maaf, tolong diterima! saya sedang buru-buru, ini tanda terimanya," kata si pengantar yang menyodorkan selembar kertas nota berukuran kecil kepada Jack atau pun juga Hans.
"Oh ya, baiklah. Berapa?" tanya Jack yang sengaja menubrukkan bungkusan kotak nasi di tangannya ke d**a Hans yang langsung menangkap dengan tampang tak siap. Jack memandangi kertas nota bon tagihan tadi lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku celana jeans yang ia kenakan untuk kemudian membayar sesuai tagihan yang tertera di nota.
"Jadi, kembaliannya dua puluh lima ribu, ya," kata si pengantar yang lalu mengeluarkan lembarang uang dari dalam tas yang menggantung di bahunya untuk memberikan kembalian. "Terima kasih," ucapnya pada saat menyerahkan uang kembalian. "Berikan kesan dari kalian ke alamat sosial media kami yang tertera pada kotak nasi," katanya meminta.
"Oke, baiklah kami akan mampir ke halaman sosial media kalian, tunggu saja kesan dan tanda sayang dari kami!" jawab si Jack yang sedikit menggoda dan tanpa berkedip demi untuk memandangi wajah menarik si gadis petugas Delivery itu.
"Selamat menikmati makan pagi kalian, permisi...!" ucap si pengantar.
"Oke, terima kasih...!" sahut Jack dan Hans tanpa berkedip.
Jack dan Hans lalu memandangi gadis pengantar makanan itu tanpa berkedip hingga ia tak terlihat lagi.
"Jackson, elo mesen makanan dari kayangan ya, kok yang nganter bidadari!" ucap Hans yang masih terkesima.
"Yeah, elo benar Hans. Sepertinya gue memang mesen ini sarapan dari negri kayangan tempat tinggalnya para bidadari," jawab Jack yang juga masih terpesona pada keelokan dan pesona gadis si pengantar makanan tadi.
Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam rumah untuk segera menyantap apa yang sudah mereka tunggu sejak tadi.
"Ayo makan, lambung gue udah nggak tahan nih, suara perut gue terdengar sampe radius tiga kilo meter saking laparnya!" celoteh Hans ketika sudah kembali duduk di samping Ben yang juga sudah menunggu dengan rasa lapar pastinya karena menunggu makanan tiba sedari tadi.
"Wuih..., rasanya asli nggak tipu-tipu, mantab kali bro!" ucap Jack dengan mulut yang penuh.
"Oy, makan yang benar!" bentak si Ben dengan menepuk punggung Jack hingga membuatnya tersedak rendang.
"Uhuk... uhuk...!" Jack menjulurkan satu tangan untuk mengambil air minum di atas meja. "b*****t lo, kira-kira dong! kalo gue mati keselek rendang, nggak lucu, kan. Tapi pasti lo berdua seneng!" kesalnya setelah berhasil menghabiskan satu gelas air putih dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah.
"Sorry bro! mana jatah gue?" sahut Ben dengan santai saja dan justru ia tak sanggup menahan ledakan tawa akibat melihat perubahan wajah Jack.
"Tuh di atas meja! lo nggak buta kan, Ben?" balas Jack masih dengan rasa kesal.
"Akhirnya..., berakhir juga penderitaan lambung gue yang nahan lapar sejak bangun tidur tadi!" ungkap Ben. "Menu apa nih, mantab nggak?" ia bertanya sambil menatap kotak nasi yang sudah diangkatnya.
"Elo coba aja sendiri, bawel!" bentak Jack yang cukup kesal.
"Mantab luar biasa bro Ben...!" sahut Hans yang sejak tadi hanya diam menyantap makanan tanpa peduli dengan pertengkaran Ben dan Jack. Sepertinya, misalkan Ben dan Jack saling tembak pun dia tak peduli.
Ben pun menikmati menu makan paginya yang berupa nasi dengan lauk rendang, sambal balado, cah kangkung dan juga tidak lupa dengan lalapannya. "Wah, beneran mantab nih, juara!" ungkap Ben.
"Ah, elo kurang beruntung Ben," kata Jack kepada Ben. "Menunya masih kalah mantab sama si cewek pengantar tadi."
Hans pun mengangkat kepalanya dari santapannya karena tertarik untuk berpendapat dengan kata-kata Jack tadi. "Iya Ben, cewek yang nganterin katring pesanan kita tadi, wuih... mantapu banget bro...!" imbuhnya sambil mengangkat jempol.
"Ini sih namanya makan receh, pelayannya mewah!" seru Jack yang belum juga merasa puas untuk memuji pesona gadis pengantar katring tadi.
Sambil tetap mengunyah, Ben mengangkat pandangannya menatap Hans dan Jack secara bergantian karena menurut dirinya kedua makhluk kasat mata di hadapannya itu sudah bersikap sangat berlebihan.
"Kalau sampe besok gue liat itu cewek tampangnya biasa aja, awas lo berdua pada ya!" kata Ben mengancam.
Sementara itu Jack dan Hans hanya diam saja sudah tidak peduli apa pun juga, dan hanya ingin menikmati santapannya tanpa ada gangguan apa pun lagi.
...
* * *