Kamu tak tahu hancurnya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku yang masih cinta...
___
Lagu dari band Kotak yang kebetulan mengalun sendu di play list radio yang sedang berputar dari mobil Andini mengingatkan akan bayangan perasaan Billa sahabatnya itu kepada lelaki yang telah mencampakkannya.
"Mbak Dini lagi cari pacar ya?" tuduh Andre yang langsung membuat Andini terbelalak.
"Hah? Ah, eng...gak kok, And!" elaknya.
"Lah itu ngapain pakai sibuk ngurusin acara begituan?" semprot Andre.
"Oh, itu, gue cuma lagi bantu temen yang nyari mantannya."
"Mantan dicari, kurang kerjaan banget tuh cewek! siapa sih, kak Billa ya?"
"Ha?! ah, mm... bukan kok!" dusta Andini kepada adiknya itu untuk melindungi perasaan Billa dari bulyan si Andre.
"Alah... pakek ngelak segala kayak sinyal aja, gue tau dah kalo Mbak udah berkorban sepenuh jiwa dan raga itu pasti demi kak Billa! Udah deh, nggak usah nutup nutupin percuma."
"Diem lo! bacot bocah dasar nggak bisa ada rahasia dikit!"
"Tenang aja kalau ada dana tambahan mah semua rahasia aman tentram damai..."
"Otak lo duit aja, nilai tuh diperbaiki, jangan jeblok melulu!" semprot Andini. Tepat saat itu ia sudah berhenti di depan gedung sekolah Andre. "Turun lo!"
"Iya tau, nggak sabaran banget."
Setelah mengantarkan adik semata wayangnya sampai di depan gerbang sekolah, Andini langsung tancap gas menuju kampus tercinta. Ia yang biasa datang lebih siang kini datang lebih pagi lagi.
Ketika sampai di kampus, Andini tak menyangka jika dirinya disambut dengan begitu antusias oleh beberapa anak kampus yang juga setuju untuk mendatangkan tim dari acara All About First Love.
"Wah..., Din kebetulan banget gue juga kepingin acara itu ada di kampus kita, cuma aja gue terlalu malu buat nge-request itu acara buat datang, itung-itung cari hiburan...," ungkap Nino si cowok yang fashioned.
"Alah, elo No, pake bilang malu segala, gengsi doang lo, ngaku aja!" sembur Andini.
"Yakin aja, pasti kita yang tampil minggu ini di tivi," Genta nyamber kayak bensin. "Gue udah sebarin ke seluruh manusia yang ada di dunia twitter dan f*******:, pasti kita dapat suara banyak," lanjut si cewek tomboy itu.
"Ssst...!" Andini tiba-tiba menutup mulut Genta yang masih ingin mengoceh dengan mulut berisi permen karet.
"Kenape lo, Din?" katanya sewot.
"Itu!" Andini memonyongkan bibirnya, "noh, si anti acara percintaan, jangan bahas acara ini di depan dia, bisa berantakan rencana gue!" kata Andini lagi.
"Memangnya kenapa," tanya Nino penasaran tingkat dewa.
"Nino, pokoknya jangan, gue bilang jangan!" balas Andini.
"Dia juga pasti bakal tau dari yang lain," kata Genta dengan santai.
"Iya juga, sih," Andini menggaruk kepalanya. "Ah, tapi itu urusan nanti, bisa gue kendaliin," kata Andini dengan enteng.
Dari kejauhan Billa sudah tersenyum pada tiga temannya itu. "Selamat pagi..., lagi pada ngomongin apa-an sih, dari jauh gue liat pada serius banget tampangnya?" tanya Billa dengan senyum mengembang kemudian mengernyit.
"Yaaa, biasalah!" Andini menggedikkan pundaknya. "Kita tuh lagi pada bahas tentang tugas kemarin yang kita nggak paham amat, makanya itu kita bertiga nungguin elo, Bil. Kira-kira kita bakal ngulang nggak ya." Andini dengan sengaja mencari-cari alasan untuk menutupi apa yang sedang ia rencanakan kepada Billa. Harapan Andini sangat besar untuk bisa mempertemukan Billa sahabatnya itu dengan laki-laki yang ia yakini Billa masih cinta...
"Oooh..., kirain apa-an, kalau ngulang sih mudah-mudahan enggak, tapi mungkin ya nilainya pada pas-pasan," jawab Billa dengan santai saja dan tanpa ada rasa curiga.
Suasana kelas semakin ramai, saat melewati lorong-lorong kampus menuju kelas tadi, sekilas Billa mendengar banyak yang berbicara tentang All About First Love, acara televisi yang paling ia benci. Tapi Billa sama sekali tak ambil peduli untuk tahu permasalahan apa yang sedang mereka bicarakan itu. Dan sekarang begitu ia tiba di kelas, pembicaraan masih sama. Andini memang mengatakan bahwa ia sedang membicarakan tentang tugas yang diberikan oleh dosen kemarin, tapi Billa masih dapat mendengar dari anak-anak yang lain di dalam kelas meski tak begitu jelas.
"Duduk napa Bill, kayak orang nagih utang!" semprot Nino.
Billa tak peduli kata-kata Nino tadi, ia berbalik badan menatap tajam ke arah Andini seolah sahabatnya itu adalah seorang pengkhianat. "Apa jangan-jangan ada yang nge-request acara menjijikkan itu untuk datang ke kampus kita? Apa? Apa elo orangnya, Din?"
"Y... ya, memangnya kenapa sih Din? acara itukan acara nomor satu di hati para remaja di Indonesia. Memangnya elo nggak buka sosial media, semua pada heboh berkomentar supaya tim All About First Love datang ke kampus tercinta ini."
"Gue males!" balas Billa dengan nada kesal. "Kenapa sih, Din?" protesnya.
"Iyaa, sory deh Bil, gue tau elo memang anti fans acara itu, tapikan nggak gitu juga kali Bil. Buktinya banyak yang setuju, itu artinya banyak yang suka, dan bisa jadi juga banyak yang membutuhkan pertolongan cinta, contohnya... Nino," serang Andini tiba-tiba dengan mata yang dikedip-kedipkan ke temannya yang duduk di belakangnya itu. "Nino kehilangan cinta pertamanya, dan dia berharap bisa balik ke first love-nya itu," dusta Andini.
Nino yang pura-pura saja mengerti meski sebenarnya sama sekali tak tahu apa maksud Andini menyerangnya dengan kebohongan seperti itu untuk apa, ia lalu berkata, "iya betul Bill, semoga siapa pun yang kehilangan cinta pertamanya bisa balikan lewat bantuan acara itu," ucapnya asal saja namun mengena di hati Billa.
Billa terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "oh, kalau begitu semangat ya, Nin." Kemudian ia tersenyum meski dipaksakan.
"Trims," balas Nino singkat.
"Nyemangatin orang aja bisanya, nggak peduli dengan perasaan sendiri," kata Andini menggumam namun samar masih dapat didengar. "Ya Tuhan..., terbuat dari apa hati sahabat gue yang satu ini, hatinya selembut sutra!" ucap Andini dengan menengadah dua tangan ke udara.
"Din, elo kenapa?" tanya Billa merasa heran dengan sikap Andini.
"Ah, kagak ada Bil, gue lagi pengen muji elo aja, nggak boleh. Pokoknya gue lagi ngerasain sesuatu..."
"Gila!" semprot Billa menyaksikan tingkah aneh Andini. Billa bergidik kemudian mulai mengalihkan pikirannya pada pelajaran, pada buku mata kuliah yang ia bawa di dalam tas. Dia tak peduli lagi dengan apa yang akan dibicarakan anak se-kampus tentang acara itu. Baginya perasaannya adalah rahasianya, tidak dapat diganggu gugat, tidak bisa dipublikasikan apa lagi melalui siaran televisi yang akan disaksikan oleh rakyat seluruh jagad raya Indonesia.
Di balik ketidakpedulian Billa pada acara All About First Love yang telah di-request oleh Andini, ia sangat optimis bahwa rencananya akan berhasil. Andini tersenyum meski ia menyembunyikan senyuman kemenangan yang tertunda itu dari Billa, sahabatnya. Genta menatap tanya padanya lalu ia balas dengan kedipan sebelah mata yang membuat Genta sontak mengernyit.
Andini meluruskan pandangannya ke depan, tidak peduli dengan tampang jijik Genta yang ditujukan padanya. Dengan rasa tidak sabaran dan penasaran untuk menyambut tim acara All About First Love, ia siap menyambut dosen paling s***s pagi ini dengan wajah senyum.
Billa yang sudah sejak tadi membuka buku mata kuliah pertama melirik pada Andini kemudian geleng kepala.
___
Kamu tak tahu rasanya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku yang masih cinta...
...
____