Part 3 Mantan Pacar Menggoda
“Aku lelah, mau tidur dulu! Besok pagi aja mainnya.” Reynaldi membalikkan tubuh, memunggungi sang istri. Air hangat yang mengguyurnya tadi membuat Reynaldi langsung mengantuk.
“Huh! Siapa juga yang mau ngajak main,” gerutu Diana yang kemudian ikut membalikkan tubuhnya, memunggungi sang suami. Rey tersenyum samar mendengar gerutuan sang istri dengan mata yang terpejam. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halusnya.
Diana tidak bisa terlelap, malah bayangan wajah Denny yang semakin tampan dan keren hadir di pelupuk matanya, membuatnya terus mengingat laki-laki yang ditinggalkannya begitu saja dulu karena terpikat oleh Reynaldi yang lebih dewasa dan mapan.
“Apa besok aku temui aja si Denny di mall, ya? Aku harus bilang padanya langsung, agar jangan menghubungi aku lagi. Ntar, kalau Mas Rey tahu, bisa berabe jadinya,” pikir Diana resah.
Tangan Reynaldi yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, membuat Diana sadar dari memikirkan sang mantan pacar. Ia membalikkan tubuh menghadap suaminya. Ujung jemarinya mengusap halus garis wajah tampan dengan cambang tipis yang tercukur rapi. Wajah Reynaldi tampak tenang dengan dengkuran yang halus. Tangannya masih memeluk tubuh Diana dengan erat. Diana tersenyum getir. Hanya dalam kondisi tidak sadar, Rey akan melakukan hal romantis itu terhadap tubuh langsing miliknya.
“Mungkin kau pikir aku hanya sebuah guling, Mas,” bisik Diana sembari menyembunyikan wajahnya di d**a sang suami, memeluk lelaki tercintanya. Tidak lama kemudian ia pun tertidur pulas.
***
“Aku siang ini mau ke Berau, mungkin sekitar seminggu. Ada teman yang ngajak nambang di sana,” ujar Reynaldy saat sarapan pagi bersama istri dan kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Tian dan Kevin yang masih di taman kanak-kanak.
“Lama banget seminggu, Mas. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti.” Diana menatap suaminya dengan netra yang tiba-tiba mengembun. Ia memang tidak pernah menutupi perasaannya terhadap sang suami selama ini.
“Ah, kamu kayak ABG aja, masa udah tujuh tahun berlalu masih juga rindu-rinduan.” Reynaldi tertawa geli melihat istrinya yang sejak awal mereka menikah sangat terobsesi padanya. Bahkan hampir tiap hari istri cantiknya itu meminta jatah batin padanya, gak ada bosan-bosannya. Kadang Rey heran dengan kecanduan istrinya yang tidak berubah sejak awal mereka menikah.
“Jadi, Mas gak pernah merasa rindu sama aku ya, saat berjauhan?” Diana bertanya dengan sedih. Meski suaminya sering pergi ke luar kota, tapi hanya dua-tiga hari saja. Ia pasti akan sangat merindukan suaminya itu nanti, meskipun selama berada di rumah pun, Rey juga tidak terlalu memperhatikannya. Laki-laki itu hanya sibuk dengan rokok dan ponselnya di teras rumah mereka hingga tengah malam.
“Duh, males deh, pagi-pagi udah bahas hal yang gak penting kayak gini. Diana-Diana, udah anak empat juga, kok, masih membahas cinta dan rindu. Udah, sana! Anterin Tian sama Kevin! Ntar telat lagi sekolahnya.” Reynaldi tanpa peduli dengan perasaan istrinya, membawa gelas kopinya ke teras. Ia pasti akan merokok lagi di sana sebelum berangkat.
Airmata Diana hampir saja luruh, jika Tian tidak menyentuh tangannya.
“Ma? Kakak udah selesai sarapannya.” Sang putri sulungnya menatap dengan wajah polos.
“Oh, udah selesai ya, Sayang. Pinter anak mama.” Diana membantu mengusap mulut Tian dengan tisu. “Ayo, Kevin, cepatan habisin makanannya, Nak.” Diana mengalihkan perhatian pada anak keduanya. Ia berusaha menghilangkan rasa sedih atas sikap sang suami dengan sibuk mempersiapkan keperluan sekolah kedua anaknya. Pekerjaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Mengantar dan menjemput kedua anaknya itu sekolah.
Tidak ada sopir pribadi di rumah mereka. Suaminya bilang, anak-anak itu lebih aman kalau diantar oleh salah satu orang tuanya. Diana pun dengan senang hati melakukannya, karena ia tidak punya kegiatan lain selain mengawasi keempat anak-anak mereka. Apalagi ada dua orang babysitter yang membantu mengurus semua anak-anaknya. Untuk urusan mengurus rumah juga ada Tuti--Asisten Rumah Tangganya. Hidup yang sudah sempurna sebenarnya. Namun, hanya satu yang kurang, yaitu waktu dan perhatian dari suaminya.
***
Denny melambaikan tangannya begitu melihat Diana yang berjalan masuk ke dalam kafe. Wanita itu terlihat sangat menawan dengan rambut panjangnya yang diwarnai kecoklatan. Kacamata lebar berlensa coklat menghiasi wajah cantiknya yang putih bersih. Siapa yang menyangka di tubuh ramping itu pernah melahirkan empat orang anak.
“Sorry, Den. Nidurin anak-anak dulu, repot kalau harus membawa mereka,” ucap Diana seraya duduk di kursi kafe paling pojok yang dipilih Denny.
“Gak apa-apa, aku juga baru tiba kok,” balas Denny sambil tersenyum tipis. Padahal ia sudah satu jam menunggu di kafe itu.
“Kamu mau makan apa, Diana?” Denny menyodorkan buku menu makanan ke hadapan Diana.
“Aku pesan minuman aja deh, barusan habis makan di rumah.” Diana mengedarkan pandangan ke penjuru kafe. Ia berharap semoga saja tidak ada orang yang mengenalnya.
“Jus alpukat?” suara Denny membuat wanita cantik itu kembali menatap pria yang duduk di hadapannya.
“Kamu masih aja ingat sama minuman kesukaanku.” Diana tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi, membuat Denny diam-diam menelan saliva.
“Iya, dong. Aku mengingat semua kesukaanmu, semua yang ada padamu.” Denny menatap tajam mantan pacarnya itu.
Diana memalingkan wajahnya ke arah lain dengan rasa bersalah. Ia tidak menyangka Denny masih mengingat semua tentang dirinya, padahal sudah tujuh tahun berlalu.
“Kamu kerja di mana sekarang, Den?” Diana mengalihkan pembicaraan.
“Di perusahaan leasing mobil,” jawab Denny singkat.
“Terus di sini kamu sendirian?”
“Iya.”
“Kenapa kamu belum menikah juga sih, Den?” tanya Diana penasaran.
“Karena, aku masih menunggumu, Diana,” jawab Denny mengagetkan Diana.