Bab 2. Salah Paham Lagi

1046 Words
Jumat sore yang sendu, hujan turun rintik-rintik terlihat dari jendela di sebuah restoran mewah ini. Kayla termenung meratap buliran hujan yang menyapa kaca jendela di sampingnya. Setiap kali melihat hujan ekspresi gadis cantik berambut panjang ini berubah. Helaan nafasnya kentara memikirkan kembali penyesalan akan perbuatannya di masa lalu. Sesuatu yang harus ia lakukan meski jerit tangis dalam dirinya meronta. Apanya yang dapat luntur seiring waktu, Kayla merasa seperti sedang dihukum Tuhan atas kejahatan yang sudah ia lakukan di masa lalu. Suara hujan rintik itu selalu mengingatkannya kembali pada kejadian delapan tahun lalu dan sampai sekarang hatinya masih mengeras bahkan makin memadat meski banyak yang sudah datang mendekat. Tawa teman-teman disekitarnya seolah tidak mengganggu lamunannya. Kayla seperti terjebak dalam lorong waktu penyesalan, dalam benaknya terpatri satu nama tiap kali melihat rintik itu menyapa. “Hei! Kok malah bengong.” Livia menepuk pelan lengan Kayla tapi mampu membuatnya tersentak seperti habis ketahuan mencuri saja. “Eh, sori. Gua ngak maksud kagetin loe. Lagian loe bengong lihatin hujan.” Kayla meringis lalu menyeringai tersenyum malu karena ketahuan melamun lagi. “Lagian segitu terobsesinya loe sama hujan, ngelamunin apaan kali.” Celetuk Starla salah satu senior Kayla di kantor yang duduk di sebelah si bos. Cita-cita Kayla akhirnya tercapai, susah payah dia berjuang agar bisa diterima masuk jurusan sastra demi mengejar cita-citanya sebagai penulis. Kini Kayla diterima bekerja sebagai editor junior di kantor penerbit incarannya sejak masih jadi anak magang di sana. Perusahaan ini milik anak muda bernama Deva yang kebetulan menyukai cara pandang Kayla dalam sebuah penulisan karya apapun, termasuk menyukai sifat Kayla yang tertutup dan tidak banyak bicara. “Maaf, Kak.” Meski tidak seharusnya tapi Kayla pilih mengalah daripada cari masalah dengan seniornya itu. “Sudah, semua orang punya kesukaan masing-masing. Kayla menyukai hujan, yang lain pasti suka dengan hal-hal aneh juga kan?” Ucap Deva memecah suasana kikuk padahal sebenarnya dia sedang membela Kayla. Sedang Starla mendengus kecil merasa tersentil dengan ucapan Deva. Ia tidak suka sikap Deva yang selalu saja membela Kayla. Entah apa kelebihan Kayla darinya, sama-sama cantik tapi soal penampilan sudah pasti Starla melebihi segala-galanya dari Kayla yang lebih suka memakai kemeja longgar dan celana bahan. Sedang Starla selalu berpenampilan modern dan berkelas sampai kehadirannya selalu menarik perhatian para pria disekitarnya karena pakaian yang dipakai bukan hanya elegan tapi juga menonjolkan sisi-sisi tertentu yang disukai kaum pria hidung zebra, “Betul, saya suka cium wangi tanah waktu hujan. Kayak khas banget gitu.” Sahut Jeremi. “Untung bukan doyan yang udah bau tanah.” Celetuk Livia membuat yang lain tertawa mendengar ledekannya pada Jeremi yang sudah seperti anjing dan kucing tapi mesra. Kayla ikut terkekeh mendengar candaan Livia, namun sudut matanya menangkap sesuatu di seberang sana. Dengusan nafas pelannya membuat Kayla merutuk dalam hati. “Mana mungkin itu dia, sudah delapan tahun pasti sudah berubah.” Gumamnya dalam hati tapi pandangannya masih terus ke depan sana. Kayla memilih berhenti menatap ke depan lalu mengambil garpu dan memutar lagi spageti di piringnya sambil menunduk. Kalau sedang kumpul seperti ini, dia lebih senang jadi pendengar dan ikut tersenyum kalau teman-teman sekantornya sedang bercanda. Byur… Kayla yang sedang menikmati spageti dengan tenang sampai gelagapan ketika seorang perempuan menyiram minuman ke wajahnya. “Heh! Dasar perempuan kegatelan loe yah. Loe ngak lihat ada suami gua ada istrinya masih berani main mata kedip-kedip godain laki orang!” Cerocos perempuan itu nampak geram, tangannya bahkan berusaha ingin menjambak rambut Kayla. Beruntung suaminya menyusul dan menarik tangan dan tubuh istrinya mundur. “Lepasin! Dia kan selingkuhan kamu. Janjian disini rupanya kalian!” Teriaknya menuding suaminya. Kayla yang masih tercengang diam mematung, bingung jadi salah sasaran. “Mam, kamu jangan main tuduh sembarangan dong. Malu dilihat orang banyak…” Ucap pria bertubuh gempal itu terlihat tidak enak hati. “Maaf yah, Neng. Istri abang salah paham.” “Apa! Neng! Abang! Betulan kamu main gila, kamu kira aku ngak tahu hah tadi kamu senyam-senyum sama dia main kedip mata segala.” Kemudian menoleh berang kembali ke Kayla. “Gua ngak bakal biarin loe morotin uangnya, dia bisa jadi bos semua karena bokap gua. Mending loe mundur sekarang sebelum gua habisin loe. Dasar perempuan madu!” Tudingnya kemudian tangannya sempat membalikkan piring spageti sampai tumpah terkena kemeja Kayla yang sudah basah. Robin, yang mengurus operasional restoran itu datang melerai menyuruh anak buahnya membantu. “Maaf atas ketidaknyamanannya. Bagaimana kalau saya gantikan makanannya untuk Nona sebagai permintaan maaf kami.” Ucap Robin yang kasihan pada gadis ini. Dia juga melihat kejadiannya dan tahu bukan Kayla yang memulainya, hanya saja gadis ini sedang tidak beruntung karena matanya kebetulan mengarah ke meja pasangan tersebut. “Kay, kemeja loe tembus.” Ucap Livia pelan sekali memberitahu Kayla karena basah kemejanya jadi menempel ke kulitnya. Sadar dan tidak ingin jadi pusat perhatian, Kayla bergegeas ke toilet untuk membersihkan diri. Di dalam sana dia mengusap wajahnya dengan aliran air dan menggosok kemejanya yang terkena saus spageti setidaknya dia pulang tidak bau saus tomat nanti. Tapi justru kemejanya jadi semakin basah dan makin melekat memperlihatkan lekuk tubuh di dalamnya. Membuka pintu toilet tersebut, Kayla berusaha menutupi kemejanya yang tembus pandang itu sambil melirik ke arah meja tempatnya makan tapi Livia tidak menoleh ke arahnya. “Haduh, ngak mungkin pulang kayak gini kan. Mana dingin banget lagi, mereka juga ngak mungkin bawa baju ganti.” Gerutu kecil Kayla, lalu mengambil ponselnya hendak mengirim pesan ke Livia atau minta tolong pada Brina, sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari sana. “Minta tolong Brina saja,.” Pandangan Kayla jadi gelap ketika sebuah handuk kecil hinggap di kepalanya. “Keringkan rambutnya lalu pakai jaket ini pulang!” Kayla tersentak kaku bahkan kakinya lemas seketika mendengar suara itu. Suara yang sudah lama tidak ia dengar lagi, suara yang membuatnya terhempas pada rasa bersalah dan penyesalan. Suara yang membuatnya galau pada hujan. “Suara itu!” Tangannya menggapai handuk kecil di kepalanya, perlahan mendongak dengan debaran jantung berpacu menggila Kayla memberanikan diri menatap sosok yang sedang berdiri di depannya. Kemeja dan celana panjangnya sama seperti orang yang ia cari tadi. Sampai sepasang matanya melihat jelas wajah orang yang memberinya handuk itu. Sekujur tubuhnya seperti tersengat membawanya kembali ke masa lalu, tepat di saat hujan deras bergemuruh tengah membasahi bumi ini. “Ethan…” “Jadi masalahnya soal uang?” Ketus Enda dengan otak salah pahamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD