Lahir dengan wajah cantik, otak pintar ditambah dengan bentuk tubuh idaman adalah sebuah anugerah terindah untuk semua wanita. Tapi tidak dengan Kayla, terkadang dia kesal dengan anugerah idaman wanita lain. Bukannya tidak bersyukur tapi justru wajah cantiknya kadang jadi boomerang bagi dirinya sendiri. Kejadian seperti tadi sudah beberapa kali ia rasakan meski bukan dia yang berulah, salahkan mata para lelaki yang suka melebarkan radar mereka padahal di hadapan mereka sudah ada perempuan yang jadi pasangan mereka. Naasnya cemburu buta itu nyata, yang genit siapa tapi justru Kayla yang disalahkan dan dianggap menggoda pasangan mereka duluan.
Disiram air bahkan pernah kena jambak dan tampar juga sudah pernah ia alami sejak masa kuliah sampai sekarang. Padahal dia tidak pernah memikirkan soal pacaran saat kuliah demi mempertahankan beasiswa yang ia raih susah payah. Tapi tetap ada saja yang mencoba peruntungan menggapai hatinya.
“Hah! Maksudnya?” Meski gugup tapi Kayla berusaha bersikap normal.
“Aku dengar pertengkaran kalian soal uang.” Ucap Enda.
Kayla terus menatap Enda, kenapa dia seperti tidak mengenalinya. Apa wajahnya berubah setelah delapan tahun? Tapi meski begitu rasanya aneh karena dia saja masih bisa mengenali wajah Narendra setelah sekian lama.
“Ada yang salah dengan ucapanku?” Tanya Enda meski wajahnya terlihat sinis.
Sadar sudah melamun, Kayla balik memperlihatkan ekspresi tidak senang.
“Tentu salah, kalau tidak tahu masalahnya jangan asal bicara. Menghakimi namanya. Soal tadi pun bukan urusanmu.” Ketus Kayla kemudian mengembalikan handuk dan jaket pemberiannya.
“Terima kasih sudah membantu!”
Kayla yang hendak pergi mematung saat lengan Enda menarik bahu hingga punggungnya menabrak tubuh pria itu.
“Dibilang penggoda tidak senang tapi rela tubuhmu dilihat orang. Pakai jaket ini.”
Setelah itu Enda pergi meninggalkan Kayla yang masih berdiri mematung di depan toilet restoran. Jantungnya seperti mau meledak meski dia tahu yang dilakukan Narendra tadi bukanlah sebuah pelukan sayang. Pria itu hanya menghentikannya dari sikap keras kepala dan melindunginya.
“Kay…” Tersentak saat Brina datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari setelah mendapat pesan dari sahabatnya itu.
“Bri…”
“Sudah dapat bajunya?” Lalu Brina meringis. “Karena buru-buru gua lupa bawain baju ganti buat loe.”
“Ngakpapa. Gua pakai ini saja barusan ada yang pinjamin.”
Tanpa curiga Brina hanya mengangguk. “Yah sudah mau gua antar pulang atau nginap di rumah gua?”
“Mesti pulang, besok masih kerja. Loe saja yang nginap di kamar gua. Kak Leta juga sudah kenal sama loe kan.” Pinta Kayla namun Brina menolaknya.
“Gua juga mesti kerja besok. Gini deh, gua temani loe nunggu bus sampai loe dapat bus.”
“Oke, gua pamit sama teman-teman kantor dulu. Ada bos gua juga ngak enak.”
Brina menyeringai lalu terkekeh.
“Padahal kalau loe mau tinggal bilang Pak Deva pasti rela pulang telat buat nganterin loe pulang.” Ejeknya.
“Ck, Bri… Gua ngak mau kasih harapan ke siapapun. Lagian gua ngak mau nambah musuh di kantor, penggemar dia juga banyak.” Sahut Kayla lebih pilih nyaman damai sentosa. Setelah memakai jaket pemberian Enda dia berjalan ke meja rombongannya untuk pamit.
“Mau saya antar saja, Kay?” Tanya Deva membuat Brina mengulum senyuman sudah menduganya.
“Oh, saya pulang sama Brina, Pak. Terima kasih buat tawarannya. Kalau gitu saya permisi dulu.”
“Sebentar.” Deva berdiri kemudian menghampiri Kayla menyodorkan paperbag berisi makanan.
“Tadi makanan kamu belum habis, jadi saya minta dibungkus. Ini bawa pulang.”
Kayla menerima makanan tersebut tersenyum ramah. “Terima kasih, Pak.”
Sambil keluar dari restoran Brina memberitahu orang tuanya dia akan mengantar Kayla ke halte bus.
Karena sudah malam, bus tujuan ke rumah sewa Kayla tidak banyak lagi yang lewat. Mereka duduk menunggu di sana. Kayla masih memikirkan pertemuannya dengan Narendra, membayangkan wajahnya saja jantungnya mulai meletup-letup lagi.
“Bri, loe tahu ngak yang kasih jaket ini siapa?”
“Yang punya restoran kali atau staf di sana, hais… Mana gua tahu, Kay.”
Kayla yakin sahabatnya ini pasti kaget kalau diberitahu dirinya habis bertemu siapa.
“Enda yang kasih jaket ini ke gua, Bri.”
Brina menoleh lalu tertawa kencang seolah tahu Kayla sedang mengolok-olok dirinya sendiri.
“Dih ngarep banget loe, Kay.”
Namun melihat ekspresi serius Kayla membuat keyakinan Brina luntur, ikut serius menatap sahabatnya.
“Loe lagi serius yah?”
Kayla mengangguk dengan ekspresi yang sama membuat bola mata Brina melotot terkejut.
“Sumpah loe! Seriusan…”
“Iyah, gua juga kaget. Tapi…”
“Tapi apa? Dia marah sama loe atau gimana?” Potong Brina takut Narendra dendam pada Kayla.
Gadis itu menggeleng. “Kayaknya dia lupa sama gua deh soalnya cara dia ngomong ke gua kayak dulu dia ngomong sama orang lain, asing banget gitu. Apa muka gua banyak berubah ya?”
“Yah kita semua kan mahkluk hidup, Kay. Bertumbuh dan berubah, ehm menurut gua sih muka loe masih sama cuma lebih dewasa saja, model rambut juga berubah. Mungkin saking sakit hati sama loe dia sampai lupa ingatan kali.” Sahut Brina sedikit bercanda karena tahu Kayla itu tipenya seriusan dan mudah terbawa perasaan kalau memikirkan sesuatu.
Kayla pun terkekeh tidak lagi membahas soal Narendra. Tapi ada satu hal yang ia tahu dari pertemuan singkat dengan laki-laki itu. Meski ucapannya dingin dan ketus tapi tatapannya itu masih sama, netra hitamnya meski terasa tajam tapi Kayla dapat merasakan kehangatan mengalir di sekujur tubuhnya.
Bus yang ditunggu sudah datang, Brina menunggu sampai Kayla naik barulah ia jalan pulang ke rumahnya yang memang tidak jauh dari sana. Sepanjang jalan Kayla melamun kembali, membayangkan tatapan mata elangnya, suaranya yang berat tapi terasa lembut meskipun nadanya ketus. Perlakuan manis seorang Narendra Ethan kepadanya di masa putih abu-abu dulu masih ia ingat satu per satu, kejadian demi kejadian manis meski belum ada pernyataan cinta. Tautan jemari kelingking mereka di bawah meja kantin sekolah saat istirahat makan masih begitu terasa indah dan membuncah. Sadar lamunannya semakin ngawur, Kayla mengusap kasar wajahnya sendiri.
Sampai suara rem bus menghentikan tontonan dalam khayalan Kayla akan masa lalu, ia turun dari halte tidak jauh dari tempatnya tinggal. Rumah ini milik seorang wanita bernama Leta. Dia tinggal seorang diri dan Kayla tidak perlu mengeluarkan biaya tinggal hanya perlu membantunya membersihkan rumah setiap hati juga membayar tagihan listrik saja. Mau cari dimana lagi tempat tinggal murah dan masuk di kantongnya sebagai staf biasa.
Saat masuk ke dalam rumah, Kayla merasa ada yang sedang membuntutinya. Menoleh ke belakang ia melihat sebuah mobil mewah berwarna biru berjalan lambat. Pikiran negative seketika lewat membuatnya cepat-cepat masuk dan mengunci pintu.
“Tidak mungkin iblis itu kan. Dia tidak mungkin punya mobil semewah itu.” Gumam Kayla merasa ketakutannya akan masa lalu kambuh lagi.