Bab 4. Sebatang Kara

1037 Words
Kayla berbaring di atas kasur dalam kamarnya, sepasang netranya menatap kosong ke langit-langit. Helaan nafas kasar sudah berkali-kali terdengar. Pertemuan dengan Ethan-nya meskipun menyebalkan karena pria itu salah paham mengira dirinya perempuan materialistis, tapi tetap saja tatapan hangatnya meninggalkan bekas di hatinya lagi. Malam ini terasa panjang bahkan matanya sudah mengantuk tapi otaknya terus berputar-putar diisi dengan bayangan kisah masa lalu. Hanya sepuluh bulan tapi rasanya seperti dekat bertahun-tahun saking tiap hari bertemu dikala itu. Kalah dengan rasa kantuk Kayla memejamkan matanya kembali. Bayangan wajah Narendra di masa SMA terbit lagi sedang tersenyum. Kepalanya masih merasakan hangat usapan tangan Enda ketika sedang memberinya perhatian kecil. Kayla masuk dalam tidur lelapnya berharap malam ini masa-masa itu akan datang ke dalam mimpinya malam ini. “Pagi…” Ucap Leta si pemilik rumah yang baru keluar dari kamarnya. “Pagi, Kak. Sarapan sudah di meja. Hari ini aku buat yang simpel saja, roti telur mayonnaise dan selada.” Sapa Kayla lalu memberitahu sarapannya hari ini seperti kebiasaannya setiap hari. Meski tinggal satu rumah tapi mereka berdua jarang bahkan hampir tidak pernah mengobrol. Leta adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar di kota ini. Cita-citanya ingin di terima sebagai sekretaris ataupun asisten pribadi di sebuah perusahaan fashion terkenal di New York. Hanya itu yang Kayla tahu, sedangkan latar belakang, keluarga apalagi soal percintaan perempuan yang usianya tiga tahun diatasnya itu tidak pernah sekalipun mereka bahas. Bagi Kayla sedikit tahu lebih baik daripada jadi manusia kepo. Hidupnya saja sudah rumit dan Kayla juga tidak suka membuka tentang hidupnya pada siapapun. “Wow! Mewah banget. Kamu tahu ngak harga sandwich di kafe berapa. Aku malah dapat gratisan dari kamu. Makanan buatan kamu selalu enak loh.” Sanjung Leta terkekeh menikmati roti seperti sandwich buatan Kayla. “Sama-sama, Kak.” Jawab Kayla. Toh sudah kewajibannya juga ganti uang sewa yang tidak perlu ia bayar. “Ehm, Kay…” Kayla menoleh menatap Leta yang wajahnya tampak serius. “Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Hentikan dulu pekerjaan kamu, duduk sini temani aku sarapan.” Ajak Leta membuat Kayla menerka-nerka apa yang ingin Leta bicarakan. “Apa dia akan mematok uang sewa atau aku melakukan kesalahan atau jangan-jangan dia mau nikah dan suaminya bakalan tinggal disini? Kalau iya berarti aku harus bersiap-siap mencari tempat tinggal baru. Argh!! Kenapa ngak langsung ngomong saja sih Kak Leta.” Gumam membatin Kayla bermonolog menerka-nerka apakah berita baik atau berita buruk yang akan ia dapat. Duduk di sebelah Leta setelah mencuci bersih tangannya, Leta memotong roti-roti tersebut lalu menancapkan garpu kecil dan diberikan ke Kayla. “Kamu tahu kan cita-citaku ingin bekerja di luar negri.” Ucap Leta langsung ditanggapi Kayla sambil tersenyum meski hatinya miris berharap tidak terjadi. “Jangan bilang Kak Leta sudah diterima kerja di luar negri.” “Bilang bukan, bilang bukan…” Sahut Kayla dalam hatinya. Leta tersenyum dengan binar mata bahagianya lalu mengangguk bak memecah harapan Kayla. “Iyah, aku diterima kerja di salah satu perusahaan fashion terkenal di New York. Aku bakal jadi wakil asisten pribadi salah satu perancang terkenal di sana. Gaji, tempat tinggal sudah disediakan sama mereka.” Leta memekik girang membagikan rasa sukacitanya karena cita-citanya sudah terkabul. “Selamat yah, Kak. Aku ikut senang akhirnya impian jadi kenyataan yah, Kak.” Jawab Kayla meski dalam hatinya meringis sedih tahu bakal kemana arah pembicaraan mereka. Jantung Kayla mulai berdegup menyiapkan diri. “Ehm soal rumah ini, sebenarnya aku mau menjualnya setelah pindah ke New York.” Soal itu Kayla memang sudah tahu dari cerita rencana Leta beberapa bulan lalu. “Kak Leta kapan berangkat ke New Yorknya?” Leta meringis sedikit merasa bersalah karena sudah menyembunyikan soal dirinya diterima kerja. “Sebenarnya waktu aku bilang ke kamu soal rencana mau kerja ke New York itu… Aku sudah dihubungi pihak agensi sana untuk menyiapkan semua dokumen perpindahan. Jadi visa bekerja ku ke sana sudah diterima dan baru jadi kemarin. Maaf, aku baru beritahu ke kamu soalnya aku takut pamali sudah gembar-gembor cerita malah akhirnya tidak jadi nanti aku yang malu.” Ungkap Leta merasa tidak enak hati. Leta sebenarnya senang Kayla tinggal bersamanya, selain jadi punya teman ngobrol tiap pagi meski basa-basi, tapi dia merasa punya teman saat pulang kerja. Pergaulan kerja di kantor Leta memang banyak teman tapi teman yang tulus sulit di dapat di area kerja yang penuh sikut-sikutan. Kayla juga orangnya rajin, bersih dan bertanggung jawab. Lihat saja rumah mungilnya tampak seperti orang habis pindahan bersih kinclong, padahal Kayla juga bekerja. Leta sudah menganggap Kayla seperti adiknya sendiri. Leta menggenggam tangan Kayla tersenyum setelah menghela nafas panjang. “Kay, selama rumah ini belum terjual dan aku masih di luar negri maka kamu masih bisa tetap tinggal disini. Jangan khawatir yah, kamu masih punya waktu untuk mencari tempat tinggal yang layak. Syukur-syukur bertemu dengan pemilik rumah yang baik. Kalau aku boleh saran, jangan lagi tinggal ke rumah petakan kamu yang dulu. Berbahaya buat kamu, Kay. Misalkan tabungan kamu kurang sedikit, aku masih bisa bantu-bantu biar kamu dapat rumah sewa yang lebih baik dari petakan itu. Jangan sungkan yah…” Kayla ikut menghela nafas lega, tersenyum dan mengangguk. Meski akhirnya dia harus mencari rumah baru dan pastinya hidup pas-pas an lagi seperti dulu, setidaknya dia masih punya waktu untuk menabung. Uang tabungannya sekarang sepertinya sudah cukup kalau hanya mencari rumah mungil petakan seperti dulu. “Iyah Kak, terima kasih sudah perhatian sama aku.” Di sini Kayla juga merasa lebih bebas daripada harus tinggal di rumah petakan tidak jauh dari stasiun kereta dulu. Anak kuliahan sambil bekerja paruh waktu, Kayla tidak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah kecil apalagi apartemen mini. Untuk mencukupi kebutuhannya saja dia harus memasak tiap hari dan menjual makanannya di kampus supaya perutnya kenyang. Soal berbahaya, Kayla juga sudah pernah punya pengalaman buruk tinggal di sana. Hanya Brina yang tahu sesulit apa hidupnya harus berjuang sendiri sejak kecil sampai sekarang. Dimasa anak-anak remaja sedang menikmati masa bebas mereka dalam bereksperimen dan meluapkan perasaan, Kayla justru harus berjuang hanya sekedar untuk mendapatkan rasa adil sebagai seorang anak gadis yang butuh dibela ibunya sendiri. Yah, Kayla memang sudah ditinggal meninggal papanya sejak kecil. Dia hanya memiliki seorang mama. Tapi sejak papanya meninggal, Kayla memang memiliki fisik mamanya tapi kenyataannya hingga sekarang dia seperti anak yang hidup sebatang kara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD