Bab 6. Sahabat Rasa Keluarga

1045 Words
Kali keduanya Kayla berurusan di kantor polisi. Wajahnya terlihat lelah juga kurang tidur setelah kejadian semalam dilaporkan Om Arfan. Beruntung pria itu pulang lebih cepat dan dia tidak sebejatt Beno. Kalau tidak mungkin Kayla memilih tidak ingin lagi melihat hari esok. Laporan sudah dibuat, Beno masuk penjara sambil menunggu berkas perkaranya masuk ke pengadilan. Sedang di ruang tunggu kantor kepolisian, Rosi duduk diseberangnya terus menatap sinis pada Kayla. Bayangkan saja, yang jadi korban Kayla tapi justru dia dianggap sebagai gadis yang sudah menyusahkan keluarga orang lain. “Apa jadinya kalau Beno dipenjara. Kamu tahu aku dan anakku bergantung hidup dengannya. Orang tuaku juga sakit dan aku masih harus memikirkan cara mengeluarkan suamiku. Kamu sendiri juga tidak ada yang terluka kan. Kenapa kamu begitu kejam, Kay!” Ucapan Rosi membuat emosi Kayla naik. Selama ini dia selalu diam, tidak mau tahu urusan orang lain, selalu menghindari keributan. Tapi ketika bahaya datang ingin merengut kehormatannya, justru dia malah dianggap kejam. “Bukan mau saya menyusahkan keluarga Kakak. Masalah ini bukan saya juga yang memulai. Suami Kakak yang kurang ajar, kenapa saya yang disalahkan.” “Dia salah aku tahu. Tapi tidak perlu sampai melapor ke polisi dan membuatnya di penjara. Kamu dulu menggoda dia, kalau tidak mana mungkin dia bakal senekat itu ke kamarmu.” Kayla sampai terkekeh tidak habis pikir, dimana hati nuraninya. Padahal secara langsung Rosi sudah dikhianati suaminya sendiri tapi masih berkeras mempertahankan laki-laki berengsek itu hanya karena butuh uang. Kayla teringat lagi dengan mamanya. Meski caranya berbeda, tapi prosesnya sama. Demi uang dan hidup layak, mereka sampai menutup mata, mematahkan harga diri dan kehormatannya sebagai manusia bermartabat. Malas dan lelah harus terus berdebat, Kayla memilih pergi. “Setelah ini saya tidak akan menyulitkan. Hukum sudah berjalan, kesalahan harus dihukum. Anggap kita tidak kenal. Anda punya anak perempuan, saya harap nasibnya tidak akan mengalami karma buruk papanya.” Tutur Kayla telak menusuk Rosi. Wanita itu menatap nyalang Kayla namun tidak berani lagi merutuk karena dia tahu apa yang diucapkan Kayla benar. Keluar dari kantor polisi, Brina sudah menunggu di luar. Melihat Kayla, dia langsung menghampiri dan memeluknya. “Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang luka kan?” Tanya Brina dengan raut wajah khawatir. “Kay… Semua sudah selesai. Tidak apa-apa.” Ucapnya lagi memegang tangan Kayla yang mulai tremor, sorot matanya berkaca-kaca. Namun Kayla masih tidak menjawab, menumpahkan perasaannya menangis dalam pelukan Brina. Satu-satunya sahabat yang ada untuknya di kala susah. Brina yang paling tahu seperti apa jalan hidup yang ia jalani selama ini. “Sh… Semua sudah berlalu. Kamu sudah aman. Tidak apa-apa, malam ini menginap di rumahku saja. Mama, Papa, Oma dan Opa semua khawatir sama kamu. Oma sudah masak sup kaki ayam kesukaan kamu. Kita pulang sekarang yah.” “Hem, makasih yah, Bri. Setidaknya aku masih punya kamu.” Ungkap Kayla terbata-bata kemudian melepaskan pelukannya. Brina tersenyum, mengusap air mata sahabatnya. Bersyukur Kayla tidak apa-apa, itu yang terpenting. Brina tinggal di rumah yang tidak begitu besar dan sederhana, satu rumah dengan delapan anggota keluarga. Orang tua, kakek dan nenek dari papanya, nenek dari mamanya, Brina dan dua adiknya. Hanya ada tiga kamar di rumah itu. Meski sempit tapi keluarga ini kompak saling membantu. Brina dan kedua adiknya tidur sekamar. Hari ini Kayla menginap tidur sekasur dengan Brina. Itu sebabnya Kayla tidak enak hati harus menumpang tinggal disini meskipun orang tua dan kakek nenek Brina selalu menyuruhnya tinggal bersama mereka saja. Setidaknya masih ada satu keluarga yang menganggapnya keluarga. Menerimanya dengan tangan terbuka ketika ia kesulitan. Ketulusan keluarga Brina selalu menimbulkan rasa iri Kayla. Meski bukan orang kaya tapi hidup mereka bahagia, penuh canda tawa saling menopang satu dan lainnya. Di rumah ini yang menghasilkan hanya papa Brina yang memiliki toko kelontong sederhana tapi cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Itu sebabnya Brina pilih langsung bekerja daripada meneruskan kuliah karena tidak mau menambah beban orang tuanya. “Ayo makan mumpung masih panas, Oma langsung cari bahannya di dapur. Untung ada jadi bisa langsung di masak.” Ucap Oma Brina. “Terima kasih, Oma. Maaf jadi merepotkan.” Jawab Kayla merasa terharu, matanya sudah berkaca-kaca lagi karena masih sedih. Oma Brina langsung mengusap rambutnya lembut. “Sh… Sudah… Sudah jangan menangis lagi. Kamu sudah disini sama kita.” “Tinggalah disini sampai kamu dapat tempat tinggal, jangan kembali ke daerah itu lagi berbahaya. Tenang saja kami tidak akan mematok sewa ke kamu.” Ucap mama Brina yang diangguki oleh semua anggota keluarga. Bukannya reda, air mata Kayla makin deras diselimuti rasa haru dengan perhatian mereka yang hanya orang asing tapi perhatiannya malah melebihi mamanya sendiri. Dunia ini seperti sedang mempermainkan hidupnya saja. “Hais… Sudah jangan diajak bicara lagi. Bisa-bisa air sup Oma bertambah banyak nanti.” Celetuk Brina membuat Kayla terkekeh memukul lengan sahabatnya itu. *** Lamunan akan masa lalu di rumah petak membuat Kayla menghela nafas kasar. Tentu saja kembali ke rumah petak tidak akan pernah ada dalam pikirannya setelah kejadian buruk dulu. Meski sudah bekerja tapi dia masih kesulitan menabung untuk membayar sewa rumah yang lebih layak dekat tempatnya bekerja. Mendapatkan pekerjaan di kota bukan berarti biaya hidupnya sepadan dengan gaji yang ia terima sebagai editor junior. Sekarang dia harus mencari tempat untuk pindah, entah dimana dia baru bisa menemukan rumah mungil yang layak dan jauh dari lingkungan berbahaya. Pagi hari seperti biasa, Kayla membuatkan sarapan dan membersihkan rumah ini sebelum pemiliknya bangun. Menu hari ini bihun goreng sosis, mengenyangkan perutnya sampai malam nanti. “Pagi, Kay.” “Pagi, Kak Leta.” Leta duduk di meja makan mini miliknya dengan wajah serius menatap Kayla. “Kay, seminggu lagi rumah ini harus dikosongkan. Kemarin sudah ada pembelinya dan dia setuju dengan harganya. Rencananya rumah ini akan dirombak total. Jadi, ehm kamu harus segera menemukan tempat tinggal secepatnya. Maaf banget yah, Kay.” Mendadak, tentu saja. Kayla benar-benar bingung tapi mau gimana lagi. Tersenyum mengangguk, Kayla malah menghibur Leta agar tidak merasa bersalah. “Kay, gelang biru yang selalu kamu pakai rusak? Kok sudah tidak kamu pakai lagi sudah dua hari Ini.” Tanya Leta membuat Kayla ngeh menatap lengannya. “Loh, iyah. Aku baru sadar kak.” Tunggu! Kayla teringat dua hari lalu dia habis dari restoran itali. Mungkin gelangnya terjatuh di sana. Dia harus kembali menanyakan, siapa tahu masih ada. Gelang itu bukan perhiasan tapi cukup berarti baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD