Gelang yang dipakai Kayla selama ini sebenarnya bukanlah perhiasan yang harganya mahal. Hanya saja gelang tersebut sudah melekat di pergelangan tangannya sejak SMA dan tidak pernah ia lepas. Gelang manik-manik berwarna biru dengan motif mata kucing mirip bulan sabit putih ditengahnya dengan hiasan bintang dan bulan biru menjuntai.
Gara-gara gelang itu, Kayla samoai uring-uringan di kantor. Sesekali dengusan nafasnya terdengar.
"Loe kenapa sih, Kay. Tuh nafas kayak ada pompanya aja, kenceng banget sampai kedengaran." Sindir Livia yang sedari tadi memperhatikan teman sekantornya itu dari bilik sebelah.
"Gelang gua hilang, Liv." Sahut Kayla cemberut. Setidaknya ada yang bisa ia ajak bicara untuk meluapkan kekesalannya.
"Yang biru cakep itu?"
Kayla mengangguk. "Gua juga ngak sadar. Tapi kata teman serumah gua dia bilang sudah dua hari ngak lihat gua pakai."
"Dua hari lalu kan kita ke restoran. Apa pas kejadian loe disiram trus loe ke kamar mandi kan. Apa jatuh disitu ngak?" Ujar Livia mencoba membantunya mengingat lagi.
"Sepertinya. Nanti malam gua mau kesana, siapa tahu ada yang ketemu trus disimpan sama karyawannya."
Giliran Livia meringis dan cemberut.
"Yah, Kay. Gua hari ini dijemput pacar pas pulang kerja."
Kayla tersenyum, meski belum meminta tolong Livia memang teman di kantor yang ringan tangan membantunya.
"Ngakpapa, Liv. Rencananya gua mau kesana sendiri juga."
Sore hari itu Kayla bersiap meninggalkan meja kerjanya. Namun mendadak seseorang meletakkan setumpuk berkas di mejanya membuat Kayla menatap ke atas dari tempat duduknya.
"Jangan pulang dulu, dua artikel paling atas mesti loe cek dulu. Ditungguin sama bagian copy editing, hari Senin mau proses cetak." Marsha yang selalu sinis ke Kayla memang paling getol cari masalah dengannya.
Livia saja yang melihat kelakuannya langsung merengut. Jabatan Marsha adalah editor senior, harusnya urusan deadline adalah tanggung jawabnya. Siapapun di lantai kantor ini tahu apa penyebab Starla bersikap seenaknya pada Kayla.
"Harus hari ini juga, Kak?"
"Ya iya lah. Kalau ngak urgent masa gua nyuruh loe kerjain sekarang." Celetuk Starla dengan wajah sengitnya.
"Gua bantuin satu artikel sini, Kay. Biar cepat." Ucap Livia tidak tega.
"Ngakpapa, gua juga ngak ada janjian apa-apa. Dah sana balik kasihan pacar loe nungguin." Tolak Kayla tidak mau merepotkan.
"Beneran?"
"Iyah, ish..."
Meski kasihan tapi Livia pulang duluan karena memang sudah terlanjur janjian dengan pacarnya.
Kayla mengambil dua artikel yang diminta Starla lalu membuka salah satunya. Tangannya terulur hendak membuka kembali komputer di mejanya.
"Astaga!" Kayak sampai terkejut melihat kehadiran bos nya sedang berdiri di sana lalu mengambil berkas di meja Kayla.
Wajahnya terlihat geram, tangannya mengambil speaker telepon dari meja kerja Kayla lalu menghubungi kode ruangan Starla.
"Apaan lagi, Kay? Pasti mau minta undur Senin kan? Gua ngak tanggung jawab kalau bagian copy editing ngoceh trus percetakkan jadi telat gara-gara loe." Oceh Starla padahal dia belum mendengar sepatah protes pun dari Kayla.
"Ke ruangan saya sekarang!" Hentak Deva meski tidak membentak tapi dari suaranya saja semua tahu Deva sedang mode marsha.
"Pak... Pak Deva! Kok di meja Livia?"
"Sebelum saya turunkan jabatan kamu, ambil berkas yang saya suruh kamu dari meja Kayla dan bawa ke ruangan saya sekarang juga!"
Tanpa menunggu Starla jawab, Deva sudah menutup teleponnya.
"Kamu pulang saja sekarang. Ini bukan tanggung jawab kamu."
"Baik, Pak. Tapi saya juga tidak keberatan..."
"Pulang sekarang, Kay."
Kayla pun menyerah meski akhiranya dia juga yang bakal kena damprat Starla. Bergegas mengambil tas slempangnya, Kayla pilih segera menghilang dari sana sebelum Starla lewat malas lihat muka sinisnya nanti.
Untung Livia masih menunggu di depan lift. Melihat Kayla berlari kecil menyusulnya, dia langsung menekan tombol agar pintu lift tetap buka.
"Pelan-pelan aja nanti jatuh lagi."
"Thanks, Liv."
Kayla naik bus menuju restoran Italia tempat dia dan rekan kantor makan bersama dua hari lalu.
Sampai di sana, Kayla masuk dan memperhatikan restoran itu sudah mulai ramai pengunjung. Di depan sudah ada resepsionis yang menghampiri.
"Sore Ibu, sudah reservasi meja?"
"Ehm, saya kemari mau menanyakan apa ada yang menemukan gelang saya. Sepertinya tidak sengaja terjatuh di depan toilet atau di dalam."
"Oh begitu. Sebentar saya tanyakan dulu biasanya barang customer yang tertinggal di simpan di lemari lost and found." Resepsionis tersebut langsung menghubungi rekannya di dalam.
"Ibu ehm Nona, sepertinya pernah datang kemari dua hari lalu, yang kena siram bukan?" Tanya seseorang pria yang menghampiri. Mungkin rekan yang dimaksud resepsionis, tapi dilihat dari penampilannya yang rapi sepertinya pemilik restoran ini.
"Iyah betul, Pak. Gelang saya sepertinya jatuh disini."
"Kenalkan saya Robin. Mari saya antar untuk mencari benda yang hilang."
Robin meminta Kayla duduk di stoolbar. “Tunggu disini dulu, saya ambil ke dalam box lost and foundnya.”
Kayla mengangguk tersenyum. Ia mengambil ponsel miliknya sambil menunggu. Di ujung matanya menangkap seseorang sedang berdiri dengan posisi memunggungi sambil mengelap meja tersebut. Dia mengenali punggung tersebut dan jantungnya berdegup makin kencang ketika laki-laki itu balik badan. Saking gugupnya Kayla sampai menjatuhkan ponsel miliknya ke lantai bahkan tubuhnya sampai reflek bergerak turun lalu mundur sampai pinggulnya menabrak kursi yang barusan ia duduki sampai hampir terjatuh.
Laki-laki itu maju mendekat, satu tangannya terulur melingkar menangkap tubuh Kayla yang limbung. Setelahnya ia melepaskan tangannya lalu memungut ponsel Kayla dan meletakkannya di atas meja tanpa berniat memberikan langsung pada orangnya.
Rasa canggung, jantung Kayla yang tidak berhenti berdetak cepat juga gugup membuat tangannya basah mulai berkeringat.
“Ceroboh!” Hanya satu kata menyebalkan yang keluar dari mulut laki-laki yang selama ini sudah memenuhi isi pikiran Kayla dan hal itu membuatnya kesal.
“Kamu duluan yang ngagetin!” Sahut Kayla tidak mau kalah. Toh memang benar gara-gara dia balik badan mendadak sampai dirinya kaget.
Enda mendecih dengan seringai meledeknya. “Ternyata masih sama saja!” Sahutnya lalu pergi masuk ke dalam meninggalkannya begitu saja membuat Kayla makin melotot, tidak menyangka ternyata Narendra yang sekarang begitu menyebalkan.
Robin sudah kembali membawa dua box khusus lalu ia tunjukkan pada Kayla. Namun beberapa kali Robin mengeluarkan seluruh isi box tersebut ia tidak menemukan gelang yang dimaksud Kayla.
"Sepertinya tidak jatuh di sini, Nona..."
"Kayla. Nama saya Kayla."Ucapnya mengerti.
"Maaf, tapi gelang biru seperti itu tidak ada."
Menghela nafas panjang, wajah Kayla terlihat kecewa namun ia memaksa tersenyum.
"Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkan dan terima kasih." Ucapnya sopan kemudian berbalik pamit balik pulang.