Bab 8. Kenangan Kala Itu

1102 Words
"Kay!" "Bri!" "Loe ngapain kemari?" Tanya Brina sumringah bertemu sahabatnya. "Cari gelang." Jawab Kayla singkat dan langsung membuat Brina paham. "Kok bisa!?" Kayla mengendikkan bahunya. "Trus ngak ketemu?" Kayla hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. "Mau pulang? Loe tunggu gua bentar, gua antar pesanan dulu." Kemudian Brina menoleh mencari keberadaan seseorang lalu menghampiri dan memberikan barang pesanan tersebut. Ternyata Robin keluar lagi bersamaan dengan Brina yang juga keluar dari ruang staf. "Haduh, untung masih disini. Maaf Nona Kayla, ternyata gelangnya ketemu. Nyelip kayaknya sampai tidak kelihatan. Padahal tadi sudah cari dua kali." Ucap Robin memberikan gelang tersebut. Bola mata Kayla seketika berbinar senang melihat lagi gelang biru tersebut. "Terima kasih banyak yah. Tidak apa, yang penting ketemu." "Sepertinya punya arti khusus gelang ini yah." Ledek Robin yang juga sudah kenal dengan Brina. Restoran ini memang memesan beberapa barang keperluan restoran di supermarket milik papa Brina. "Gelang keramat itu, Kak." Ucap Brina malah ikutan meledek. Tanpa perlu dijelaskan ledekan Robin sudah terjawan dari wajah merona Kayla yang merengut malu. "Ehm, Nona Kayla. Tolong diisi form lost and found ini sebagai bukti juga nomor kontaknya." Ucap Robin memberikan formulir berisi data lost and found barang customer mereka. Kayla pulang diantar Brina. Setelah mandi ia mengambil ponselnya di atas meja. "Sebuah pesan membuatnya mengernyit. “Barang berharga harus dijaga dengan benar." Sepuluh menit sebelum kejadian itu, Enda sudah masuk ke dalam meninggalkan Kayla justru memperhatikan gerak-gerik Kayla di tempat tersembunyi. "Cari apa Bin?" Narendra pura-pura bertanya padahal dia sudah melihat Kayla masuk ke restoran saat ia berdiri di belakang lemari minuman bartender. Bahkan sempat berdebat kecil dengannya barusan. Disana adalah posisi favorit Enda karena dia bisa memantau situasi di sana dari meja kerjanya. "Itu, Nda. Cewek yang dua hari lalu kena damrat nyasar. Dia cari gelang biru tapi gua cek di box lost and found ngak ada." Jawab Robin saat mengembalikan box tersebut ke tempatnya. Lalu duduk di meja kerjanya yang membelakangi Enda. "Coba cari sekali lagi, kalau hilang disini pasti ada." "Ck, gua sudah cari dua kali tapi ngak nemu." "Mumpung belum balik coba loe cari sekali lagi. Siapa tahu ketemu." Bujuk Enda memaksa Robin. Sambil menggerutu tapi Robin tetap menurut berbalik badan mengambil lagi box yang ada di sebelah meja Enda. Saking setengah hati mencari box tersebut Robin tumplak biar semua barangnya keluar dari box. Bola matanya melebar ketika melihat gelang biru dengan ciri-ciri sama persis seperti yang disebutkan Kayla. "Hais, kenapa tadi ngak kelihatan sih." Seru Robin sambil berhambur keluar berharap gadis itu belum pergi jauh. Enda sangat percaya diri mengatakan soal gelang itu karena memang dia yang menemukannya. Mungkin saat Kayla memakai jaket pemberiannya, gelang itu tidak sengaja terlepas. Dari celah di balik lemari, Enda mengintip saat Robin memberikan gelang tersebut dan sempat melihat senyuman gadis itu lagi, tanpa sadar dia pun tersenyum . Senyuman Kayla seakan menjadi angin segar yang mengalir dalam darah dingin Enda. Kenangan manis akan delapan tahun lalu pun terbesit lagi dalam ingatannya. Kembali Masa 8 Tahun "Jam lima nanti aku tunggu kamu di taman biasa yah, Ya." Bisik Enda saat mereka bertemu di perpustakaan setelah pulang sekolah. "Mau ngapain hari ini?" "Ada deh. Pokoknya kamu datang saja atau kalau perlu aku temani ke rumah kamu sekalian minta ijin ngajak kamu keluar?" "Eh, Than jangan, ngak usah." Pekik Kayla setengah berbisik. Menyeringai senang sekaligus gemas, Enda pun mencuil hidung Kayla hingga gadis kesayangannya itu berdecak sebal tapi tidak berani berteriak protes karena mereka sedang di perpustakaan. Kayla adalah satu-satunya gadis yang berhasil membuat Narendra kepincut sampai rela menjilat ludahnya sendiri untuk tidak mau berpacaran. Gadis pendiam yang lebih suka menyendiri, temannya bahkan hanya satu saja. Kesehariannya di luar kelas yah ke perpustakaan. Penampilannya sederhana, tidak berdandan bahkan sebagai gadis remaja seusianya, seorang Kayla tidak pernah menjadikan penampilan dan kecantikan yang ia punya untuk tebar pesona. Cantik, seperti itulah tanggapan Narendra Ethan ketika tidak sengaja melihat gadis itu berjalan masuk dari gerbang sekolah. Beberapa siswa yang melihat Kayla ikut memuji dengan siulan dan panggilan genit mereka. Tapi Kayla justru tidak peduli dan merasa risih jadi pusat perhatian. Justru karena sikapnya itu, Enda penasaran ingin lebih mengenal seorang Kayla dan berakhir membuatnya terperangkap dalam jerat pesona gadis itu. "Jadi jam lima aku tunggu di taman biasa. Aku datang sepuluh menit lebih cepat, jadi kamu jangan datang sebelumnya." Ujar Enda malah membuat Kayla terkekeh tapi memang seperti itulah Enda. Enda pernah bilang laki-laki sejati tidak boleh sampai ditunggu perempuan. Itu sebabnya dia selalu datang lebih cepat dari Kayla dan memberitahu jam berapa dia pasti sampai di sana. "Iyah. Nanti aku datang." Tepat jam lima sore, Kayla sudah melihat Narendra sedang duduk di bangku taman tersebut. Saking terbiasa bertemu di tempat yang sama, penjaga taman itu sampai sudah mengenali mereka berdua dan mengira mereka berpacaran backstreet dari orang tua. "Aku tidak terlambat kan?" Tanya Kayla basa-basi saat menghampiri Enda. Remaja itu tersenyum senang lalu menepuk kursi di sebelahnya, Kayla pun menurut. "Ada apa? Ehm, aku tidak bisa lama-lama. Jam enam aku harus pulang takut dicariin." Tanpa banyak bicara, Enda mengeluarkan sesuatu dari kantung celana dan menyerahkannya ke tangan Kayla. "Apa ini, Than?" "Buka saja." Kayla terperanjat saat membuka kotak kecil biru tersebut. Narendra mengambil gelang biru langit bermata kucing di tiap batu batu bulat yang mengelilingi dan terdapat dua gandulan menjuntai berbentuk bintang dan bulat seperti bulan. "Katanya ini gelang keberuntungan, ini bintang seperti kamu dan aku yang ini bulannya. Dalam kegelapan akan selalu ada cahaya yang menerangi yaitu aku dan kamu. Seperti halnya dalam kesedihan selalu ada kebahagiaan menanti di ujung sana." Terharu dan senang melihat pemberian Narendra apalagi dia sampai memberitahukan artinya. "Suka ngak?" "Hem, suka. Terima kasih yah, Than." Kemudian raut wajah Kayla jadi serius. "Than, kamu ingat kan kalau aku belum..." Enda segera memotong ucapan Kayla. "Belum mau pacaran kan? Aku tahu kok. Tenang saja aku tidak sedang minta kamu jadi pacar aku. Tapi..." "Tapi apa?" "Gelang ini adalah bukti perjanjian kita berdua. Sampai waktu yang tepat, aku hanya ingin kamu yang nantinya jadi perempuan pilihanku saat kita dewasa nanti. Kamu mau kan nunggu aku?" Sempat meragu juga tidak percaya diri apa mungkin dia layak bersama Ethan-nya. Namun Kayla juga tidak memungkiri kalau hatinya juga menyukai Narendra Ethan. Pada akhirnya gadis itu mengangguk menerbitkan senyuman lega Narendra. "Dipakai terus yah, meski suatu hari nanti kamu lagi sebel banget sama aku. Lihat saja gelang itu lagi dan ingat kalau aku akan selalu sayang sama kamu meskipun kamu benci sama aku." Ucapan romantis Enda malah membuat Kayla tertawa geli. "Masih SMA saja sudah pintar ngegombal. Gimana nanti pas kamu kuliah, jadi idola satu kampus nanti." "Nyindir apa mulai cemburu nih?" Enda malah balik menggoda Kayla sampai wajah gadis itu bersemu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD