“Setiap keluarga memiliki kisahnya, setiap manusia memiliki titik terlemahnya dan setiap kehidupan memiliki saat-saat terindahnya.”
-Siren Vegakira
***
Siren tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangan sampai dua menit kemudian ketika ponselnya berbunyi dia langsung berhenti menangis.
“Kau baik-baik saja?” tanya Nash.
“Huh?” Siren mengusap air matanya, dia mengambil tisu. “Aku? Aku sangat baik.”
“Ya.. kau terlihat sangat baik,” Nash mengangguk. “Kau kesal?”
Mendengar pertanyaan Nash, Siren terkekeh. “Jelas aku kesal, tetapi tidak sekesal itu sampai harus membuatku menangis.”
“Jika kau lupa, kau baru saja berhenti menangis setelah hampir tiga menit.”
“Itu bakat terpendamku,” Siren membersihkan ingusnya. “Maaf, kau pasti jijik.”
“Tidak, lanjutkan saja.”
Tersenyum, Siren membersihkan ingus dan mengusap air matanya. Dia bahkan mengeluarkan bedak dan meringis karena kantong matanya yang terlihat mengerikan setelah menangis.
“Mereka sudah mengirimkan alamatnya,” Siren tertawa, dia memperlihatkan layar ponselnya kepada Nash. “Ayah, Ibu, Mbak dan iparku. Mereka semua mengirimkan alamat yang sama.”
“Tentu saja, mereka pasti merasa bersalah.”
“No!” Siren menggeleng tegas. “Mereka tidak merasa berslaah sama sekali, menurut mereka hal seperti ini wajar meskipun bagi orang lain terlihat memprihatinkan dan tidak sopan. Itu sama saja dengan mengusir anak mereka melalui cara yang sangat halus.”
“Lalu?”
“Aku harus mengeluarkan bakat terpendamku,” Siren menyerahkan ponselnya kepada supir. “Maksudku.. akting.”
Nash tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. “Akting?”
“Ini sebenarya rahasia tetapi bakatku ini aku peroleh sejak menulis novel. Terkadang aku harus terhanyut ke dalam ceritaku untuk membuat pembaca merasakan hal yang sama, dengan itu apa yang ingin aku sampaikan dapat diterima oleh mereka,” Siren menjelaskan. “Lalu apa hubungannya aktingku dengan keluargaku? Mereka sangat mengenalku dan suka melihatku kesal, tetapi jika aku merengek dan menangis seperti tadi mereka akan mengerti bahwa aku tidak sedang sendiri.”
“Lalu mereka akan mengirimkan alamatnya karena tahu kau tidak sedang sendiri?”
Siren menjentikkan jarinya. “Bingo! Jika aku mengatakan hal seperti tadi, keluargaku akan terlihat buruk dan pilihan terakhir adalah dengan memenuhi keinginanku. Ini sudah sering terjadi sebelumnya, jangan terkejut.”
Nash tidak mengerti keluarga seperti apa yang akan dia temui tetapi dia akan bersenang-senang hari ini. Keluarganya adalah keluarga yang sangat serius, ambisi dan kompetisi bukanlah hal yang tabu dan bisa bertemu dengan keluarga yang bertolak belakang seperti ini jelas merupakan hal yang tidak akan Nash sia-siakan.
“Kenapa menamai kontak Ayahmu dengan embel-embel mantan playboy?”
“Ah,” Siren tertawa. “Karena dia dulu memang begitu, bahkan sampai sekarang. Kau tahu saat aku duduk di bangku SMP dan SMA dulu aku tidak boleh naik sepeda motor sendiri dan Ayah akan selalu menjemput dan mengantarku, tiba-tiba suatu hari dia datang menjemputku dengan jaket kulit, motor gedenya dan kacamata hitam.”
“Sangat bergaya,” Nash tersenyum. “Ayahmu pasti orang yang sangat menyenangkan.”
“Koreksi, dia sangat menyebalkan,” Siren terkekeh. “Lalu kau tahu apa yang dia katakn setelah semua perhatian tertuju ke arahnya?”
Nash menunggu.
“Dia menatapku, menurunkan kacamatanya dan bersiul ‘suit.. suit.. cewek, butuh tumpangan? Sini sama Abang’. Saat itu semua orang menatapku dan Ayah masih tidak berhenti bersiul sampai aku naik ke atas motornya. Rasanya aku ingin pindah sekolah saja.”
Tawa Nash menyembur, dia benar-benar tertawa. “Ada lagi?”
“Ah, pernah aku pergi ke rumah temanku dan karena aku malas naik ojek, aku menelpon Ayah. Jadi aku menelponnya seperti, ‘Yah, jemput dong di rumah temen. Ve malas naik ojek’, aku mengatakan itu tetapi Ayah langsung menjawab, ‘Cepat banget mainnya, mbak? Diusir, ya? cuittt..’ Ouh, aku tidak tahu kenapa Ayah selalu bersiul sepanjang waktu.”
“Kau benar-benar diusir?” tanya Nash.
Siren melotot, “Kau ingin aku tonjok?”
Tetap tertawa, Nash menatap Siren. “Tetapi Ayahmu lucu.”
“Ya sampai kau bertemu dengannya,” ucap Siren akhirnya.
***
Menyuruh Nash untuk mengikutinya masuk, Siren memohon izin untuk menggandeng tangan pria itu tetapi Nash sudah melakukannya lebih dulu. Mereka berdua hanya membawa tas yang tidak begitu besar karena akan langsung kembali ke Jakarta dalam empat jam lagi.
Siren memberi salam, suaranya nyaring sekali dan dia melakukannya berulang-ulang sampai seseorang keluar dari pintu dan melempari Siren dengan kulit pisang.
“Suaramu akan merubuhkan rumah ini jadi berhentilah karena kami sudah menjawab salammu sejak ta- oh? Siapa laki-laki tampan di sebelahmu?”
Memberi kode agar Nash menundukkan kepalanya, Siren berbisik kalau orang yang sedang memakan pisang itu adalah kakak sulungnya yang sudah menikah, namanya Adelia.
“Orang yang aku paksa ikut,” jawab Siren, dia terus menggenggam tangan Nash dan masuk ke dalam rumah yang ternyata dipenuhi banyak orang. “Apa ini? Aku tidak mendengar seseorangpun menjawab salamku meskipun ada banyak pencuri makanan di rumah ini?”
“Siapa di sana?” tanya Ibu, dia menatap Nash sambil tersenyum lebar.
“Ibu, jangan menatap orang baru seperti itu. Ibu akan menakutinya,” tegur Akhtar, si adik bungsu penggila game.
“Oh? Pantas saja aku melihat ada cahaya yang bergemerlapan dari arah sini, ternyata ada laki-laki tampan yang datang.”
Siren langsung menghadang Tantenya yang ingin menyentuh Nash.
“Jangan sentuh, ini barang antik. Mahal.”
Nash hanya tersenyum kecil, sepertinya Siren tidak berbohong tentang Tantenya dan dia tidak hanya mengatakan omong kosong tentang perlindungan yang ditawarkannya.
“Jangan sentuh calon menantuku!” tegur Ibu pada Tante. “Laki-laki tampan yang sedang bergandengan tangan dengan anak Ibu, siapa namanya?”
“Ah, Nash, Tante,” jawab Nash sopan.
“Nash? Nama yang bagus, sini duduk, le!”
“Ve?” panggil Ayah Siren pada putrinya.
“Apa?” jawab Siren.
“Bukankah dia setampan Ayah saat masih muda dulu? Kamu sangat pandai mencari laki-laki, dia sangat tampan. Hahaha.”
Ibu melempar Ayah dengan kacang. “Berhentilah mengkhayal, kau tidak setampan itu.”
“Aku heran, saat aku mengenalkan suamiku dulu Ayah juga mengatakan bahwa suamiku memiliki wajah yang sangat tampan seperti Ayah, sekarang Ayah juga mengatakan itu juga. Sebenarnya Ayah memiliki berapa wajah? Ayah bisa berganti-ganti wajah? Ayah penduduk Torfa?”
Siren meringis, dia melirik Nash karena khawatir laki-laki itu akan memasang wajah kebingungan karena harus berhadapan dengan keluarganya. Tetapi di luar dugaan, laki-laki itu malah tersenyum dan tampak menikmatinya.
“Ya, dan Ayah sudah kehilangan kemampuan itu sekarang.”
“Auh..” Siren berdecak, dia menarik tangan Nash untuk duduk di sebelahnya. “Aku tidak akan lama di sini, aku akan pulang jam empat nanti.”
“Secepat itu?” tanya Akhtar, dia sebenarnya tidak peduli karena asyik bermain game di ponselnya. “Kau bisa menginap.”
“Dia tidak punya kamar di rumah ini,” sahut Adelia.
“Kalian tidak memberiku kamar?” Siren mulai melotot lagi. “Kenapa tidak sekalian mengeluarkanku dari kartu keluarga?”
“Kau akan melakukannya sendiri,” ucap Tante. “Bukankah kau akan menikah sebentar lagi? Anak tampan.. tolong nikahi keponakan Tante.”
Berdecak, Siren mengambil kue yang ada di atas piring. “Kau ingin kue? Kita bisa makan siang di luar setelah ini.”
“Kenapa makan diluar?” tanya Ayah. “Putri Ayah baru datang dan dia sudah bilang akan kembali sore ini, kalian harus makan siang di sini. Tidak apa-apa bukan, Nash?”
“Tentu saja,” Nash tersenyum.
“Kau boleh tidak menyetujuinya,” ucap Siren.
“Tidak apa-apa, aku menyukainya.”
“Dengar, dia mengatakan kalau dia suka di sini dan kau selalu mencoba menjauhkan laki-laki yang dekat denganmu dari kami. Memangnya kami seaneh itu?” Adelia menatap adik keduanya.
“Ya, keluarga mana yang tidak mengatakan apapun tentang kepindahan mereka kepada anak keduanya?” Siren menjulurkan lidahnya. “Kalian membuatku pergi ke Lawang.”
“Kamu bisa menyapa beberapa tetangga kita di sana,” Ibu mengedikkan bahu. “Mereka pasti menyukainya karena sudah lama sejak kamu terlihat di kota ini- Kau datag darimana? Keponakanmu datang dan kau keluar?”
“Dia membawa supir, aku hanya membawa beberapa cemilan keluar,” adik Ibu yang memang sudah lama tinggal di Batu, suami tante dan juga om ku itu mengacak rambutku. “Kau sudah terlihat lebih dewasa, Ve. Yah.. meskipun wajahmu mengatakan sebaliknya.”
“Hanya Om yang menyapaku dengan benar, orang ini,” Siren menunjuk Adelia. “Dia bahkan melemparkan kulit pisang padaku padahal sudah lama kami tidak bertemu.”
“Itu sambutan,” Adelia memberi pembelaan pada dirinya sendiri.
“Mana Salwa?” tanya Siren, dia kemudian menoleh pada Nash. “Salwa adalah keponakanku, dia anak Adelia.”
“Dia sedang dijemput Papanya dan akan datang sebentar lagi, tetapi Ve.. kenapa pria tampan seperti Nash mau menjadi kekasihmu?” Adelia menatap Nash. “Dengar, Nash, dia lebih gila dari apa yang dia tunjukkan padamu. Bahkan kami tidak khawatir jika kau akan melecehkannya karena sebelum itu terjadi, dia yang akan melecehkanmu.”
“Dia datang dari keluarga yang tidak pernah mendengar kata-kata kotor seperti itu,” Siren mendengus. “Jangan dengarkan itu, Nash, mulutnya memang sangat kotor.”
Nash mengangguk dan tersenyum, dia kemudian menatap Adelia. “Akan aku terima saranmu.”
“Bagus.”
“Sepertinya kau juga memalingkan wajahmu dariku,” bisik Siren kepada kekasih sewaannya itu. “Jangan memihak mereka atau aku akan meninggalkanmu di kota ini.”
“Itu hanya ancaman sia-sia,” Akhtar berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya dengan mata tetap menatap ponselnya.
“Aku do’akan kau akan jatu-“
Brukkk
“Auh..”
Siren mengedip-ngedipkan matanya. “-oh, sudah jatuh rupanya.”
“Sudah Ibu bilang jangan bermain ponsel saat sedang berjalan!”
“Dia tidak akan mendengarkannya,” sahut Tante dan Om bersamaan.
“Bukankah di sini sangat berisik?” bisik Siren pada Nash. “Katakan kalau kau sudah muak jadi kita bisa pergi.”
“Aku senang di sini.”
“Haish..”
Nash tersenyum.
Ayah berdiri. “Nash, kau ingin ikut Om?”
“Kemana?” tanya Siren, dia menatap Ayahnya curiga.
“Melihat ikan,” jawab Ayah polos. “Pasti di Jakarta tidak ada ikan, kan? Om punya banyak ikan cantik yang pandai berenang. Kau tahu siapa yang mengajari mereka berenang? Itu Om.”
Siren menatap Nash, dia pikir sekarang laki-laki itu akan terlihat muak tetapi Nash malah tertawa. Jika sudah begini.. Siren menyerah. Benar-benar menyerah.
***