“Terkadang kita melihat sesuatu yang berbeda dan terasa lebih hangat ketika itu datang dari keluarga orang lain. Entah senyuman yang terlihat lebih tulus atau sekedar canda yang tidak perlu disertai sindiran terselubung.”
-Nash
***
Nash memperhatikan bagaimana Siren berinteraksi dengan anggota keluarganya. Bukan karena dia tidak memiliki keluarga yang bisa diajak bercanda, tetapi dia tidak memiliki waktu seperti itu. Keluarganya sangat baik tetapi mereka juga pekerja keras, keluarganya cukup hangat tetapi ada malam di mana dia merasa kedinginan karena kesepian dan tidak bisa memeluk siapapun.
“Jadi kapan kamu kenal anak Om?” tanya Ayah Siren, wajahnya terlihat lebih serius dari yang ditunjukkan di depan keluarga tadi. “Sudah lama?”
“Sudah cukup lama,” jawab Nash tenang. Dia sudah menduga bahwa tidak mungkin dia hanya diajak untuk melihat ikan saja karena bagaimana pun orang yang ada di hadapannya ini adalah seorang Ayah.
“Kalian menjalin hubungan yang serius?” tanyanya lagi. “Maaf karena Om bertanya seperti ini, putri Om itu tidak akan mengatakan apapun meskipun dia disakiti orang lain. Dia anak tengah, dia sudah terbiasa menghadapi sikap Kakaknya yang selalu memerintah dan Adiknya yang tidak ingin diberi perintah. Jadi saat dia mengatakan bahwa dia ingin mengeja mimpinya dan tinggal di Jakarta, Om paham kalau dia juga bosan di rumah dan menghadapi emosi kami yang tidak menentu. Kamu paham, ‘kan?”
“Iya, Om.”
“Mungkin Om bisa menceritakan ini karena kamu bilang kalau kalian sudah mengenal cukup lama. Siren sudah lama tidak pulang ke rumah, terakhir beberapa tahun lalu dan dia tidak keluar dari kamar Adiknya dan menangis di sana karena komentar kasar dari beberapa orang. Saat itu tidak ada yang berani mengajak dia bicara dan hanya Akhtar yang berkomentar, dia menyuruh Kakaknya berhenti jika Siren hanya akan menangis dan menjadi tidak nafsu makan,” Om terkekeh pelan. “Akhtar membalas komentar-komentar kasar itu, dia memang terlihat tidak peduli tetapi pada kenyataannya mungkin diantara kami semua tidak ada yang bisa menandingi kasih sayang Akhtar kepada Siren.”
Nash mendengarkan, dia ikut tersenyum karena meskipun sekilas dia sudah tahu kalau Adik Siren itu cukup perhatian. Dia bahkan menyuruh Siren menginap ketika Kakaknya itu mengatakan akan segera kembali ke Jakarta.
“Mungkin kalian memang menjalin hubungan sekarang tetapi tidak apa-apa jika nanti kamu tidak lagi menyukai anak Om, hanya saja jika itu terjadi.. tolong jujur saja dengan perlahan dan jangan mencampakkannya dengan cara menghilang tiba-tiba kalau kamu tidak mau Akhtar terbang ke Jakarta dengan kostum superman nya,” ujar Ayah Siren yang lagi-lagi diiringi candaan di akhir kalimatnya.
“Apakah tidak apa-apa menceritakan ini semua kepada saya?”
“Tidak apa-apa,” Ayah Siren tertawa. “Om mengatakan ini agar kamu merasa terbebani dan segera mengambil langkah yang bagus- entah itu langkah mundur atau semakin maju. Bukankah Om sangat baik kepadamu?”
Nash tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Maaf sebelumnya, tetapi kalau saya boleh tahu kenapa tidak ada yang memberitahu Siren tentang pindahan rumah, Om?” tanya Nash.
“Itu?” Ayah Siren tertawa lagi. “Sengaja. Istri Om itu usil, apalagi kalau sudah ditambah Adelia- beuh.. mereka itu nomer satu kalau urusan seperti ini. Mereka berdua sekongkol karena kesal Siren jarang menghubungi mereka, bahkan awalnya mereka berniat untuk mengganti nomor ponsel tetapi karena Akhtar sudah berkomentar, mereka tidak jadi melakukannya.”
“Jadi pemegang tahta di sini adalah Akhtar?” gurau Nash sambil tersenyum.
“Sebenarnya Adelia, tetapi akhir-akhir ini dia kalah talk-talk dengan Akhtar-“
“Kalian sedang bergunjing?” celetuk Siren yang muncul tiba-tiba dari balik pintu. “Kalian sepertinya menjadi sangat akrab sampai-sampai mengadakan acara ghibah bersama seperti ini.”
Ayah Siren dan Nash langsung berdiri dari yang sebelumnya berjongkok di samping kolam ikan. Nash tidak tahu harus menjawab apa jadi dia hanya tersenyum sambil menatap Siren yang terlihat berantakan dengan wajah yang telah dicoreng dengan spidol.
“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Ayah Siren. “Kamu kalah main sama Adelia? Kalian main spidol siapa?”
“Salwa,” jawab Siren kesal, dia melihat wajahnya di kaca jendela dan menggerutu. “Anak itu baru saja pulang dari sekolah tetapi langsung mengacaukan wajahku dengan alasan kangen Tante segala macam. Cih, memang ya Salwa adalah copy paste dari Adelia, kenapa tidak ikut perilaku Papanya saja, sih?”
“Justru yang nanti paling nyebelin itu anak kamu sepertinya,” sahut Ayah Siren. “Kalau anak kamu sama persis seperti kamu, kasian calon suami kamu karena dua-duanya tidak tahu cara berkomunikasi sampai harus memendam semuanya sendiri. Nanti kalau anak kamu punya sifat seperti itu jangan kesal seperti Ayah dan Ibu, ya? Itu semua nurun dari kamu, lho.”
“Ayah mainnya sindir-sindiran terus,” kesal Siren. “Juga, kenapa menyindirku di depan Nash seperti ini? Ayah sengaja, ya- oh? Jangan-jangan Ayah sudah menceritakan banyak hal tentangku pada Nash, ya?” tebaknya agak panik.
“Tante! Tante Ve! Salwa belum selesai main corar-coret kangennya!”
Seorang anak SD yang bahkan belum sempat berganti baju muncul. Dia menarik-narik ujung baju Siren dan Nash yang sejak tadi diam saja menyapa anak kecil itu dengan diakhiri senyuman khas di akhir kalimat sapaanya.
“Halo!” sapa Nash. “Namanya Salwa, ya?”
“Ih, Om siapa?” tanyanya dengan nada lucu, dia bahkan melupakan Siren dan menghampiri Nash dengan senyuman centil. “Om itu jodoh yang dikirim Allah buat Salwa, ya? Ih, jodohnya Salwa ganteng banget!”
“Jodoh apaan?” Siren berdecak. “Jauh-jauh kamu dari jodohnya Tante, enak saja main klaim sembarangan, masih kecil juga sudah bicara jodoh-jodohan. Jodoh kamu masih ada di antrian, kata Allah kamu harus banyak belajar ngaji sama belajar sholat yang benar dulu! Cih, wudhu’ saja sering salah urutan sudah ngomongin jodoh.”
“Kenapa Tante jadi marah sama Salwa, sih? Mana ada Om ganteng yang mau sama Tante? Cantikan juga Salwa. Kata Mama, Salwa itu yang paling cantik di rumah ini!” serunya tidak mau kalah. “Kata Mama juga, Tante itu aneh dan cowok Tante itu lebih banyak hidup di buku.”
“Wah, kamu sama Mama kamu sama saja, ya?” Siren menjewer telinga Salwa. “Sini kamu, Tante bakal tunjukin di kaca siapa yang lebih cantik. Kamu ini tidak tahu saja kalau Om itu keluar dari dalam buku baru Tante, dia itu hologram, fiksi.”
Nash tertawa mendengar ucapan Siren, dia bahkan tidak mau kalah dengan keponakannya yang kata Ayah Siren baru berusia enam tahun itu. Siren benar-benar lucu dan menarik seperti yang sudah dia tebak di pertemuan pertama mereka kemarin.
“Telinga kamu masih baik-baik saja, kan, Nash?” canda Ayah Siren. “Hahaha, rumah Om memang ramai semenjak Salwa lahir, apalagi kalau Siren sudah pulang. Ayo masuk lagi, kita harus makan siang, kamu sudah pasti lapar, kan?”
Benar, rumah ini sangat ramai dan penuh dengan kehangatan. Nash tidak menyesal karena sudah menyetujui ajakan Siren untuk datang ke rumahnya melihat bagaimana dia menemukan hal-hal baru. Rigel, teman Nash itu tidak akan percaya bahwa ada keluarga yang seperti ini karena keluarga mereka berdua sama saja.
“Loh? Kak Siren benar ini bawa barang antik yang bersinar terang ke rumah?” Seorang perempuan yang menguncir rambutnya berlari kecil dan mengulurkan tangannya kepada Nash. “Halo, nama aku Karin, umur 22 tahun, sepupu Kak Siren yang paling cantik karena sepupu yang lain semuanya cowok. Salam kenal, Kakak.”
“Centil-centil semua orang-orang di rumah ini,” ujar Siren menyindir, dia menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan menatapku dengan tatapan horor dan membunuh seperti itu. Kalian semua persis seperti ikan piranha yang lapar- apa? Aku hanya mengutarakan isi hati Nash.”
Nash yang dituduh seperti itu hanya menatap Siren sejenak sebelum menjabat tangan sepupu dari ‘pacarnya’ itu. “Halo, Karin. Panggil saja Kak Nash, itu nama Kakak. Salam kenal.”
“Tante Karin centil, ya ... lebih centil dari Salwa,” ujar Salwa polos. Dia baru selesai mengganti bajunya menjadi dress di bawah lutut berwarna merah muda. “Tante Karin tahu? Om ini jodohnya Salwa, tahu!”
“Ada-ada saja, bocah.” Siren kembali bersuara, dia berdiri di depan Nash seakan-akan ingin menghalangi Nash dari godaan gila ponakan dan sepupunya. “Salwa apa Tante bilang tadi? Kata Allah kamu belum boleh ngomongin tentang jodoh-jodohan dan Karin ... bagaimana kabar skripsi kamu?”
“Aduh mental aku!” keluh Karin lebay. “Aku baru pulang dari nyari dosen pembimbing tapi Kakak malah bahas skripsi lagi.”
“Lagi garap skripsi? Jurusan apa, Karin?” tanya Nash ramah. “Siapa tahu Kakak bisa bantu.”
“Manajemen Bisnis, Kak,” jawab Karin. “Aku ambil judul yang ada kaitannya sama product knowledge dan keputusan pembelian. Tapi ada sesuatu yang buat aku sedikit bingung di bagian ....”
Pada akhirnya acara kumpul keluarga menjadi acara nonton bersama sebuah film yang dibintangi oleh Nash dan Karin. Mereka berdua sangat serius membicarakan tentang skripsi Karin, Nash banyak memberi masukan dan Karin terlihat seperti orang yang baru saja mendapat hidayah dari Allah. Wajahnya benar-benar bersinar terang.
“Calonmu cerdas itu, Ren,” goda Tante Siren. “Dia kerja di bidang manajemen, ya? Sudah tampan, pintar pula.”
“Kalau begitu aku boleh minta nomer ponsel Kak Nash, tidak?” tanya Karin yang membuat Siren langsung meradang.
“Woy lah, apa-apaan baru bertemu langsung minta nomer ponsel,” Siren memelototi Adik sepupunya itu. “Hubungi Kakak kalau ada yang mau kamu tanyakan sama Nash- dan, Nash! No! Jangan berikan nomer ponselmu padanya!”
“Ya Allah, Nash, sepertinya kau tidak bisa melakukan apapun karena pawangmu adalah singa betina,” ledek Adelia. “Lihat, dia bahkan langsung menunjukkan taringnya sebelum kau sempat mengeluarkan ponselmu.”
“Iya, aku singa betina. Mau aku cabik-cabik, iya?” Siren memperlihatkan giginya kepada Adelia sambil mengaum dan berhasil membuat semua orang di dalam rumah tertawa akan tingkahnya. “Mau aku cabik-cabik sampai kulit dan tulang Kakak pisah-pisah seperti di film-film itu? Mau begitu?”
“Idih, jelek itu loh mukamu!” ledek Adelia sambil menjulurkan lidah.
“Tidak apa-apa,” ucap Nash, membuat perhatian teralih padanya. “Terima kasih kepada Siren karena memberi saya pengalaman untuk bisa menjadi pawang singa. Saya bisa menjadi pawang singa seumur hidup jadi kalian semua bisa tenang.”
“Wah, akhirnya Kak Siren nemu pawang juga.” Akhtar tertawa paling keras daripada yang lain.
Siren dan Nash saling bertatapan, Nash melempar senyum sementara gadis yang ditatapnya merengut kesal.
“Sudah, mana makanannya?” Siren mengetuk-ngetuk meja dan berjalan sambil mengoceh ke arah dapur. “Aku sudah lapar, aku benar-benar akan memangsa kalian semua kalau tidak menyediakan makanan segera. Ya Allah, tamu jauh-jauh begini, dikasih alamat lama, harus drama dulu baru dikasih alamat baru tetapi sampai di sini malah diledek sampai mampus. Maunya apa, toh?”
“Jangan kaget ya, Kak Nash,” ujar Akhtar, adik Siren itu terkekeh. “Kak Siren memang begitu orangnya, dia sekarang bukan marah tapi malu karena Kak Nash bilang begitu.”
“Benar kata Akhtar,” dukung Adelia. “Dia malu karena kau berkata seperti tadi. Dia memang penulis romansa tetapi dia tidak pernah diperlakukan romantis di kehidupan nyata jadi sekali ada orang yang berkata sepertimu tadi ... dia akan menjadi sangat malu.”
Nash tidak bisa menahan senyumnya. “Begitukah?”
“Ibu, mana makanannya?” terdengar teriakan Siren dari dapur.
“Haduh anak itu! Kalau malu jangan teriak-teriak, Siren Vegakira!”
Bagi Nash, dia tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi hari ini. Dia benar-benar banyak tersenyum dan tertawa karena Siren padahal mereka baru menjalin hubungan sejak kemarin. Tiba-tiba Nash ingin memperpanjang masa ‘sewa’ nya.
***