DUA LAKI-LAKI YANG BERBEDA

1983 Words
“Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari masa lalu, tetapi ada banyak juga plester luka di setiap tempat di mana kalian memetik pelajaran itu. Karenanya, usahakan untuk tidak diam terlalu lama dan berpikir untuk melepas plester luka itu hanya karena kalian penasaran apakah luka itu sudah benar-benar sembuh atau tidak. Berjalan saja seperti biasa dan tabur apa yang sudah kalian petik untuk hidup lebih baik.” -Siren Vegakira- ***  Rencana mengambil penerbangan sore dibatalkan dan mereka berdua akhirnya mengambil penerbangan malam setelah melalui perdebatan panjang. Keluarga Siren menyuruh mereka berdua untuk menginap tetapi Siren memberitahu mereka kalau Nash harus masuk kerja besok paginya.  “Padahal aku bisa pulang sendiri,” ujar Nash, entah sudah keberapa kalinya sejak laki-laki itu mengatakan kalimat yang sama. “Mereka sepertinya masih sangat merindukanmu, karena itu mereka terus menahan kita untuk kembali.”  “Aku membawamu agar aku bisa segera kembali ke sini secepatnya,” sahut Siren, dia mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu keluarganya bahwa dia sudah sampai di Jakarta. “Aku harus segera menulis novelku, setidaknya harus ada peningkatan mulai dari besok sehingga ada yang bisa aku konsultasikan dengan editorku.”  Nash mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menatap ke arah jalanan sejenak dan menunjuk sebuah taksi. “Itu taksi kita, ayo pulang!”  “Huh?” Siren sedikit terkejut. “Kau sudah memesan taksi? Temanku menawarkan untuk menjemput kita di sini, aku benar-benar tidak tahu kalau kau akan memesan taksi, bagaimana ini?”  “Temanmu akan menjemput kita ke sini?” tanya Nash dan ketika dia melihat Siren mengangguk, dia kembali berkata, “Kalau begitu tidak apa-apa, kau bisa kembali bersama temanmu dan aku akan kembali dengan taksi. Tetapi sebelum itu biar aku menunggu di sini bersamamu sampai temanmu sampai, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini, bukan?”  “Tapi dia baru saja berangkat,” ujar Siren lagi. “Kau bisa pulang terlebih dahulu, aku tidak apa-apa menunggu sendiri di sini, lagipula ada banyak orang di sini.”  “Anggap saja ini bagian dari pekerjaanku.” Tersenyum manis, Nash menatap Siren. “Kau bilang kau harus menulis novel romansa, bukan? Lalu anggap saja apa yang aku lakukan sekarang sebagai bagian dari pekerjaanku, siapa tahu apa yang aku lakukan ini bisa membantumu menemukan ide baru?”  Tertawa pelan, Siren mengangguk. “Tetapi bagaimana dengan taksimu? Kau jelas tidak bisa membiarkannya menunggu lama, bukan?”  “Sebentar, ya?” Nash berlari kecil ke arah taksi yang sudah menunggunya dan sepertinya mereka membicarakan sesuatu selama beberapa saat sebelum kemudian Nash kembali menghampiri Siren. “Kau ingin duduk saja? Kita bisa menunggu sambil duduk.”  “Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Siren. “Oh ya, Nash? Aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau sudah percaya padaku padahal kita baru bertemu kemarin. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi tetapi aku tetap menganggapmu sebagai anugerah yang Tuhan berikan kepadaku. Wah, aku rasa editorku akan memuji kerjaku kali ini setelah cukup lama dia mengalami frustasi karena pekerjaanku.”  Terkekeh, Nash menatap Siren lembut. “Aku juga tidak tahu kenapa aku menyetujui penawaranmu dan bahkan ikut denganmu pulang kampung untuk bertemu keluargamu tetapi aku menyukainya. Karenanya jika kau masih terus berterima kasih, rasa terima kasihku padamu juga sebanyak itu. Lagi, aku juga akan merasa senang jika turut andil dalam kesuksesan karyamu yang berikutnya.”  “Apa matamu memang selalu seperti itu?” tanya Siren heran. Dia secara terang-terangan membalas tatapan Nash tanpa malu. “Jika begini caramu menatap perempuan, aku jadi bertanya-tanya bagaimana mantanmu bisa menikah dengan orang lain. Hm, sepertinya pemikiranku terlalu sempit karena tidak semua yang aku pikir sempurna juga begitu di mata orang lain tetapi tetap saja, bagaimana bisa?”  “Terima kasih atas pujiannya,” ujar Nash, dia membungkuk sedikit dengan hormat. “Kau selalu pandai memuji orang lain dan sepertinya keluargamu juga begitu. Tetapi memangnya ada apa dengan mataku?”  Siren memicingkan matanya, dia menunjuk Nash dengan jari telunjuknya. “Kau hanya ingin kembali mendengar pujian dariku, bukan? Matamu itu bersinar dan terlihat tulus. Wah, kau pasti sudah banyak memakan korban perempuan, aku yakin kafe tempatmu bekerja akan menjadi sangat terkenal karena ketampanan salah satu baristanya.”  Puas membuat Nash tertawa, Siren tersenyum kecil sambil sesekali mengecek ponselnya. Dia merasa tidak nyaman karena baru bertemu saja sudah banyak merepotkan seperti ini, dia bahkan tidak bisa memberi apapun kepada Nash.   “Siren?”  Menoleh ketika mendengar ada yang memanggilnya, Siren sedikit terkejut melihat mantan kekasihnya sudah berdiri di belakangnya sambil menggendong putrinya yang tertidur. Dia hanya berdua saja dengan anaknya itu, tidak ada istri seperti yang pernah Siren lihat beberapa hari yang lalu di kafe.  “Hei?” sapa Siren canggung.   “Ternyata benar kamu, aku sudah takut salah mengenali orang,” katanya, dia tersenyum manis sebelum melirik Nash yang berdiri tanpa mengatakan apapun. “Editor baru kamu? Kak Deni bukan editor kamu lagi?” tanyanya kemudian.  “Editor aku tetap Kak Deni,” jawab Siren sopan. “Dia pacar aku.”  “Ah, maaf, aku pikir editor baru kamu,” katanya dengan nada menjengkelkan. Dia kemudian mengulurkan tangannya kepada Nash. “Perkenalkan, saya Ken, temannya Siren. Maaf, saya tidak tahu kalau Siren sudah memiliki pacar karena saya pikir dia masih sibuk dengan pekerjaannya, apalagi tokoh-tokoh novelnya.”  Nash membalas uluran tangan Ken, mantan pacar Siren itu. “Ah, ya, saya Nash. Maaf juga karena saya tidak tahu kalau Siren memiliki teman seperti Anda.”  Siren yang sudah memasang wajah masam tiba-tiba tidak bisa menahan senyumnya. Dia merasa teman-temannya harus melihat adegan ini, mereka harus melihat bagaimana Ken kehilangan senyum mengejek di wajahnya itu setiap membicarakan tokoh novelnya yang selalu membuat dia cemburu ketika mereka sedang menjalin hubungan dulunya.  Ken berdehem, dia kembali menatap Siren. “Kamu baru datang jalan-jalan? Untuk riset?”  “Bukan, aku baru datang dari rumah Ayah sama Ibu.” Siren tersenyum menis, dia kemudian menggandeng tangan Nash. “Aku ingat saran kamu dulu kalau mau menjalani hubungan yang serius itu harus segera dibawa ke rumah orang tua, jadilah sekarang aku bawa Nash ke rumah dan karena semua keluarga suka sama dia, aku yakin hubungan kami akan lebih serius.”  “Yakin?” cibir Ken, dia tersenyum tetapi nada suaranya sangat tidak nyaman didengar telinga. “Nanti kamu terlalu fokus ke novel kamu sampai lupa kalau punya pacar.”  “Kalau itu tenang saja,” sahut Nash. Dengan wajah tampan yang tersenyum manis itu, dia juga melingkarkan tangannya di bahu Siren. “Saya memang memintanya untuk fokus dengan pekerjaannya kali ini karena saya juga mengambil bagian dalam proyek novelnya kali ini. Ah, jika Anda penasaran dengan maksud saya, tolong bersabar sampai novel baru Siren diterbitkan. Saat itu Anda akan mengerti apa yang saya katakan hari ini.”  “Kenapa ini?”   Luna dan Lami yang sudah datang langsung berdiri di hadapan Ken, mereka memasang tubuh mereka untuk melindungi Siren dari makhluk jahat yang lebih memilih barbie setelah memutuskan hubungan dengan sahabatnya dengan alasan yang jelas dibuat-buat.   “Bukannya kau pernah mengatakan kalau kau tidak ingin berhubungan dengan Siren lagi? Kau tidak ingat dulu pernah mengatakan ‘kalau suatu hari nanti kamu bertemu aku di manapun itu, kamu pura-pura saja tidak mengenalku, tidak perlu menyapa atau tersenyum. Jujur saja, aku tidak mau semua orang mengenalku sebagai mantan kekasih dari perempuan yang kerjaannya hanya bisa mengkhayal terus seperti kamu’. Lalu sekarang kau sedang apa, huh?” Luna melotot, dia bahkan sudah menggulung lengan bajunya, siap bertarung kapan saja.  Siren terpana, dia bahkan tidak mengingat apa yang sudah Ken katakan kepadanya saat mereka putus beberapa tahun lalu. Dia hanya ingat kalau perkataan Ken saat itu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu menusuk hatinya, tetapi sahabat-sahabatnya bahkan ingat dengan jelas tanpa melupakan satu kata saja.  “Kau memang tidak pantas bersama dengan temanku, sebaiknya dulu aku menghasut dia untuk mencampakkanmu sebelum kau merendahkannya seperti itu. Kau terus menyalahkan pekerjaannya sebagai alasan utama hubungan kalian hancur padahal kau saja yang tidak memiliki kepercayaan diri berdiri di samping perempuan berbakat.” Lami berdecak di akhir perkataannya.  Kali ini Siren menghela napas, teman-temannya memang memegang prinsip bahwa hanya mereka yang boleh bermain-main dengan pekerjaannya tetapi tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang ingin melakukan hal sama. Mereka berkata seperti itu tetapi kadang mereka juga akan mengingatkannya kepada alasan yang diberikan Ken saat memutuskan hubungan mereka.  “Ken?”  Siren menarik mundur kedua sahabatnya saat istri Ken datang dan terlihat bingung melihat suaminya ‘dihadang’ oleh dua perempuan dengan penampilan siap untuk bertengkar. Bahkan Luna dan Lami datang dengan baju tidur mereka untuk menjemput Siren ke bandara.  “Sudah,” bisik Siren. “Kalian berdua ini sebenarnya tidak sepenuhnya membelaku tetapi kalian melakukan itu karena suka melihat tampang tidak berkutik Ken, ‘kan?”  Luna tertawa. “Kau tahu sa- WOW!” Menutup mulut dengan kedua tangannya, Luna melotot takjub ketika menyadari ketampanan dari laki-laki yang berada di sebelah sahabatnya. “Kau bertemu malaikat saat terbang dengan pesawat? Kau membawa malaikat yang terbang dari langit untuk ikut bersamamu ke bumi?”  “Hah, dia mulai lagi,” gumam Siren, dia memutar bola matanya. “Lami kita-“  “Halo!” Lami sudah mengulurkan tangannya kepada Nash. Dia tersenyum sangat manis dan entah sejak kapan rambutnya yang dicepol asal kini sudah digerai dengan cantik. “Nama aku Lami. Jangan tergoda sama Luna karena dia sudah punya tunangan dan jangan juga jatuh hati dengan wajah ‘kelihatan polos’ nya Siren karena sebenarnya dia otak pro dan menguasai banyak teori, dia juga cinta mati sama Oliver Kei- jadi, Mas tampan siapa namanya?”  “Wuah, orang ini bahkan lebih tidak waras,” gerutu Siren sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah dia sudah memberi mimpi buruk seperti apa pada Nash hanya dalam waktu satu hari tetapi dia hanya berharap Nash akan tetap menjalin hubungan yang baik dengannya dan tidak menyerah menjadi rekan kerjanya.  “Halo!” sapa Nash balik. “Teman-temannya Siren, ya? Nama saya Nash.”  “Nash?” Luna mulai heboh lagi. “Nash yang setuju untuk membantu Siren- WOW! Maaf, bukannya aku ingin menyinggungmu tetapi kenapa kau mau bekerja sama dengan makhluk seperti Siren? Hah, meskipun calon suamiku tidak setampan dirimu- tidak, dia lebih tampan- tidak, kau lebih tampan-“  “Kau bilang kau hanya akan menganggap Delon sebagai yang paling tampan sedunia, tetapi baru bertemu satu pria saja kau sudah kehilangan akalmu,” cibir Lami pada Luna, tetapi saat menatap Nash, dia kembali tersenyum cantik. “Tetapi bagaimana ini? Nash memang sangat tampan.”  “Mereka berdua mulai lagi.” Siren berdecak, dia kemudian menarik Nash sedikit menjauh dari kedua temannya. “Kau tidak apa-apa pulang sendiri, bukan? Maaf jika keluarga dan kedua temanku akan membuat kau mengalami mimpi buruk malam ini tetapi jangan putuskan kontrakmu denganku karena aku masih membutuhkanmu.”  “Keluarga dan teman-temanmu sangat lucu, aku hanya bersenang-senang dan sebaliknya aku akan bermimpi indah. Terima kasih padamu,” katanya. “Kalau begitu aku pulang dulu, kau dan teman-temanmu berhati-hatilah di jalan dan kabari aku jika kau sudah sampai di rumah atau kau juga bisa menghubungiku jika membutuhkan sesuatu.”  “Pulang? Kau tidak akan ikut dengan kami?” tanya Luna tidak rela.  “Dia sudah memesan taksi,” sahut Siren malas.  “Kalau begitu kami yang akan mengantarmu pulang saja, biar Siren yang pulang dengan taksinya,” usul Luna lagi yang diikuti oleh anggukan setuju Lami.  Nash tertawa, dia tahu kedua teman Siren itu hanya bercanda meskipun eskpresi wajah mereka terlihat cukup serius. Karena itu Siren sama sekali tidak terlihat marah atau kesal, gadis yang kini menjadi ‘kekasihnya’ itu hanya menghela napas melihat tingkat teman-temannya.  “Terima kasih atas tawarannya tetapi saya juga masih harus mengunjungi teman,” jawab Nash sopan, dia mengangguk sekilas kepada Luna dan Lami sebelum melambaikan tangan dengan ceria kepada Siren yang juga melakukan hal yang sama.  “Sempurna!” puji Siren ketika Nash sudah masuk ke dalam taksi dan menjauh dari pandangannya. “Sangat sempurna ... tokohnya akan banyak disukai oleh wanita.”  Dan kedua temannya turut mengangguk, menyetujui perkataannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD