KEBIASAAN SIREN

1905 Words
“Tidak ada yang bisa mengetahui sedalam apa perasaan seseorang sampai kau melihatnya menangis tersedu-sedu sambil menyalahkan diri sendiri setelah yang dicintainya pergi. Bukan karena dia berkhianat, bukan karena dia tidak mencurahkan perhatiannya, melainkan karena dia mengalah demi kebahagiaan orang yang dia cinta meskipun sebelumnya melepas tidak pernah ada dalam pilihan dalam kisah romasanya.” -Siren Vegakira- ***  “Rinai gila!” seru Lami begitu dia membuka pintu apartemennya. “Rinai, kau benar-benar kurang beruntung karena tidak melihat malaikat yang dibawa dari langit Malang-Jakarta oleh teman kita yang entah bagaimana bisa mendapatkan malaikat itu sebagai pacar sewaannya!”  Rinai yang juga sudah memakai baju tidurnya hanya memutar bola matanya melihat kehebohan temannya itu. Jadi malam ini mereka berempat menginap di apartemen Lami setelah tidak bertemu selama seminggu sekaligus karena mungkin ini kali terakhir mereka menghabiskan malam bersama sambil bermain-main sebab Luna akan segera menikah.  “Apakah setampan itu?” tanya Rinai kepada Siren langsung. “Kemarin kau hanya mengatakan kepada kami kalau kau sudah menemukan laki-laki yang akan kau jadikan sebagai tokoh di novelmu, tetapi kau tidak menyebutkan kriterianya atau bahkan menyebutkan namanya-“  “Namanya Nash!” potong Luna, dia terkekeh. “Rinai, dia setampan itu sampai-sampai aku kebingungan antara lebih tampan dia atau Delon! Kau tahu kalau aku tidak pernah membandingkan Delon dengan siapapun karena aku percaya diri dia sangat tampan sampai aku bertemu dengan Nash- Oh Tuhan, dia juga sangat manis, dia bahkan melambaikan tangannya saat pamit!”  Siren meringis, dia melempar tasnya ke sofa dan membaringkan tubuhnya di atas karpet. “Sudah lama aku tidak pergi dengan pesawat, rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi kalian tahu?” Siren langsung bangun dan menatap ketiga temannya. “Ternyata orang tuaku pindah rumah dan aku tidak tahu.”  “APA?” Mereka bertiga berseru heboh sebelum kemudian meledak dalam tawa seperti mereka sudah mengetahui hal seperti itu akan terjadi.  “Lalu bagaimana? Aku yakin mereka tidak akan memberitahu tempat tinggal baru mereka dengan sangat mudah, kau berakting lagi seperti yang sudah-sudah?” tanya Rinai, dia jelas mengenal Siren dengan baik.   “Dia pasti melakukannya,” sahut Lami dan Luna bersamaan.  “Dia selalu melakukannya,” lanjut ketiganya kemudian sebelum kembali meledak dalam tawa.  “Sudah jelas aku menangis, mereka pindah ke Batu- Oh Tuhan, mereka bahkan tidak memberiku kamar di sana apa kalian mengerti seberapa kesalnya aku? Haish, mereka pasti berniat sekali menendangku dari kartu keluarga!” dengus Siren, dia menceritakannya dengan berapi-api. “Lalu mereka kembali bersikap cukup ‘gila’ kepada Nash, beruntungnya dia terlihat menikmati lelucon keluargaku tanpa masalah, dia juga membantu sepupuku dengan memberi masukan mengenai skripsinya.”  “Skripsi?” Lami memiringkan kepalanya. “Jika dosen pembimbingku adalah laki-laki tampan sepertinya, aku akan berusaha keras menemuinya setiap hari tanpa mengenal jenuh dan lelah. Tetapi apakah dia mengerti tentang manajemen?”  Siren mendengus. “Sepupuku kuliah di jurusan itu!”  Lami langsung menyesal karena dia tidak bertemu dengan Nash lebih dulu daripada Siren, dia juga melantur dengan mengatakan bahwa teman sekelas Nash pasti sangat bersemangat pergi kuliah atau berdandan cantik setiap harinya. Katanya orang seperti Nash memberi motivasi padanya untuk bangun pagi dan berdandan supaya terlihat lebih menarik.  “Setampan apa dia?” tanya Rinai lagi. “Kau memiliki fotonya di ponselmu?”  “Fot- Oh Tuhan, aku hampir lupa kalau dia memintaku mengiriminya kabar kalau aku sudah sampai di rumah,” gumam Siren, dia berbicara cepat sekali dan mengetik sebuah pesan dengan kecepatan kilat. “Bagaimana juga kami berdua adalah sepasang kekasih meskipun ada batas waktunya.”  “Yah, aku sudah terlihat seperti orang yang memiliki kekasih,” ujar Rinai, dia mengangguk-angguk. “Kau tidak memiliki fotonya?”  “Tidak,” jawab Siren, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat polos. “Aku baru ingat kalau aku tidak memiliki fotonya, bagaimana ini?”  “Tinggal minta saja,” celetuk Luna. “Pasti dia langsung mengirimkannya kepadamu.”  “Bagaimana cara memintanya- tidak, apa alasannya?” Ekspresi wajah Siren sangat polos sampai teman-temannya berpikir apa saja yang dia lakukan selama ini sebagai penulis novel romasa.   “Untuk novelmu tentu saja, memangnya apa lagi?” Lami berdecak. “Dengar, dia bekerjasama denganmu karena novelmu, bukan? Jadi tinggal katakan saja bahwa kau butuh wajahnya untuk lebih memantapkan imajinasimu-“  “Aku tidak akan melakukan itu!” Siren mendengus. “Aku hanya akan mengembangkan perlakuannya kepadaku, jika aku juga memakai visualisasinya- tidak, itu sudah melanggar hak cipta dari Yang Maha Kuasa.” Siren mengerucutkan bibirnya. “Sebenarnya aku terlalu malu untuk memintanya, bagaimana jika dia berpikir aku aneh? Kalian lupa aku baru mengenalnya kemarin?”  “Ya, dan kau juga langsung mengajak laki-laki yang kau temui kemarin untuk bertemu dengan orang tuamu hari ini,” ujar Rinai memperingatkan. “Orang tuamu sudah mengenalnya, dua temanmu ini juga sudah mengenalnya dan kalian berdua selama seharian ini dengan gilanya, kau mengabarkan bahwa kau sudah sampai di rumah- haish, terserah kau saja. Jangan lakukan jika kau malu.”  Tetapi setelah Rinai mengatakan hal itu, ponsel Siren berdering menandakan ada panggilan masuk dan tentu saja panggilan itu berasal dari laki-laki yang sedang mereka ghibahi. Seorang Nash yang sangat tampan itu menelpon Siren.  “Apa itu si tampan?” tanya Luna dan Lami bersamaan.  “Dia menelpon?” sambung Rinai. “Angkat!”  Setelah Siren mengangkat telponnya, ketiga temannya yang duduk di atas sofa itu turun guna menempelkan telinga mereka untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Nash kepada teman mereka tercinta- ah, sebenarnya mereka penasaran karena akan menjadikan Siren sebagai bahan ledekan semalaman.  “Halo?” sapa Siren.  “Hei! Kau sudah sampai di rumahmu?”  “Hm, sebenarnya bukan di rumahku tetapi aku menginap di tempat Lami malam ini,” jawab Siren. Dia menjawab Nash sambil berusaha menendang ketiga temannya. “Bagaimana denganmu? Kau sudah sampai di rumah- ah, kau akan menemui temanmu, ya?”  “Oh, kau cepat tanggap sekali,” puji Nash sambil tertawa kecil. “Aku pikir kau hanya akan menjawab pertanyaanku tanpa menanyakan balik. Ya, aku sudah bertemu temanku dan sekarang aku baru sampai di rumah.”  Siren hanya tersenyum dan ketiga temannya mulai menutup mulut mereka untuk menahan tawa sambil menunjuk Siren dengan wajah jahil. Sudah lama mereka tidak melihat Siren berbicara di telepon dengan laki-laki selain editornya, malam itu salah satu keajaiban dunia sudah bertambah.  “Good night, Ren,” ucap Nash setelah diam beberapa lama.  “Kau juga.”  Lalu telpon terputus begitu saja dengan Siren yang membeku karena dia baru saja menyadari betapa bodohnya dia.   “Kau juga?” ulang Luna kesal. “Kau juga? KAU JUGA? APA-APAAN ITU?”  “Wah, dia pasti sudah terbawa perasaannya sendiri,” ujar Lami, dia tahu betul Siren seperti apa. “Memang bermain-main dengan laki-laki tampan dan juga terlihat sangat perhatian tidak pernah baik untuk kesehatan.”  “Dia bertingkah seperti ABG lagi, bukan?” Rinai menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hubungi dia lagi, dia pasti bingung kenapa kau langsung memutuskan sambungan begitu saja dan pakai alasan kalau kami mengganggumu. Ini juga untuk kesuksesan novel barumu dan juga agar Kak Deni tidak terus komplain kepadamu, bukan?”  “Ya,” jawab Siren setelah cukup lama diam. “Tetapi aku tidak berani, biar aku temui saja dia langsung besok di tempat kerjanya, aku benar-benar akan datang besok pagi jam sembilan untuk menyemangatinya. Bagaimana?”  Rinai mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sudah mengerti sifat Siren yang sebenarnya sangat pemalu itu. Lami hanya menguap sambil mengelus-elus rambut Siren sementara Luna malah ditelepon oleh Delon karena ingin menanyakan sesuatu.   “Sebaiknya kau tidur saja,” ucap Lami. “Kau tidur saja tetapi makan dulu karena Rinai sudah memasak makanan khusus untukmu.”  Siren berdiri, hendak berjalan menuju dapur ketika dia mendengar Lami dan Rinai menggodanya.  “Good night, Rinai,” ucap Lami, dia sengaja membuat suaranya mirip seperti seorang laki-laki.  “Kau juga,” balas Rinai singkat.  Hah, hidup Siren tidak akan tenang setelah ini karena setidaknya teman-temannya itu baru akan berhenti mengejeknya setelah dua minggu berlalu. ***  Keesokan harinya, dengan penampilan cukup santai yakni hanya dengan menggunakan t-shirt putih polos serta celana kulot coklat dan sneaker berwarna senada yang Siren dapatkan dari rumah Lami, dia pun berangkat ke tempat kerja Nash tepat di jam sembilan pagi.  “Apa di sana sedang ramai?” tanya Siren. “Kau cukup sibuk sekarang, ‘kan?”  “Iya, syukurlah ada banyak pengunjung datang untuk memesan kopi jadi aku memang lumayan sibuk tadinya. Kau benar-benar akan datang? Sudah sampai di mana sekarang?”  “Entahlah, aku tidak tahu sekarang aku berada di mana tetapi aku akan segera sampai ... mungkin?”  Nash terkekeh pelan. “Hati-hati, ya?”  “Oke. See you.”  “Hm ... see you.”  Rasanya kaku sekali, tetapi ini memang pertama kalinya bagi Siren setelah enam tahun tidak membuka hati kepada siapapun- bukan berarti dia membuka hatinya untuk Nash tetapi dia juga merasa kalau dia membutuhkan laki-laki itu untuk kesehatan jiwanya agar tidak terus-menerus memikirkan Ken.   “Tunggu, tentang Ken ... aku baru sadar kalau Nash tidak menanyakan apapun tentang itu, dia bahkan tidak berkomentar apapun ketika Luna dan Lami ada di sana dan menyerang Ken seperti itu,” gumam Siren. “Dia tidak ingin ikut campur atau memang dia takut aku menganggapnya lancang? Hah, sudahlah.”  “Sudah sampai, Non,” ujar supir taksi memberitahu.  “Ah iya, Pak.” Siren membayar dan langsung turun setelah mengucapkan terima kasih.  Menghela napas dalam sebelum masuk ke dalam kafe tempat Nash bekerja, Siren memantapkan dirinya bahwa ini hanyalah urusan pekerjaan dan dia tidak perlu melibatkan perasaan yang tidak perlu tetapi harus tetap ada sopan santun.  “Kafenya terkenal, ya?” gumam Siren ketika melihat ada banyak orang keluar masuk tanpa henti. “Aku tidak pernah jalan-jalan dan sekalinya keluar tempat tongkronganku selalu kafe Delon karena nyaman saja. Aku benar-benar tidak tahu apapun bahkan setelah bertahun-tahun hidup di tempat ini.”  Saat membuka pintu, Siren langsung mencari keberadaan Nash dan dia menemukan laki-laki itu sedang sibuk dengan mesin kopi di hadapannya. Wajahnya jelas mencerahkan tempat ini, apalagi dilihat dari banyaknya perempuan yang mengamatinya.  “Mantan kekasihnya pasti sangat cantik,” gumam Siren lagi. “Aku harus menyerap ingatan ini dan memasukkannya ke dalam novelku. Oke, sip!”  “Mbak, jangan ngehadang jalan, dong!”  Siren terkejut ketika suara yang terdengar tidak santai sama sekali masuk ke dalam telinganya. Dia hanya bisa tersenyum dan meminta maaf sebelum kemudian menjauh dari pintu, beberapa pengunjung yang lain juga meliriknya. Hah, lihat bagaimana pandainya Siren mempermalukan dirinya sendiri.  “Sebenarnya kau sedang apa di sini, Vegakira?” gerutunya. “Seharusnya kau memesan kopi atau dessert yang dijual di sini dan bukannya berdiri seperti orang bodoh.”  Ddrrtt  Merasakan getaran dari ponsel yang dia genggam sebagai pertanda bahwa ada pesan yang masuk, Siren segera melihat ponselnya.  Nash: Apa yang kau lakukan di sana?  Siren mendongak dan tatapannya bertemu dengan Nash yang juga sedang menatapnya. Dia memberi isyarat untuk menunggu karena dia masih harus melayani beberapa pengunjung lain dan Siren langsung mengangguk sambil mencari tempat duduk yang kosong.  Ddrrrttt  Nash: Tunggu di sana. Kau mau kopi, es krim atau dua-duanya? Aku akan segera selesai.  Tersenyum, Siren mengetikkan sebuah balasan.  Siren: Cappuccino, please  Tidak ada balasan karena Nash sudah kembali sibuk. Tangannya begitu terampil dan dilihat dari sudut manapun, hal itu memancing imajinasi Siren jadi dia segera mencatat apa yang muncul di otaknya sebelum semua ide bagusnya hilang. Hah ... jika otaknya sudah kembali lancar seperti ini, Siren tidak bisa diinterupsi oleh siapapun atau dia bisa mengamuk karena kesal. Hehehe, kehidupan para penulis yang sudah menyatu menjadi kebiasaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD