ROMANSA SEWAAN

2004 Words
“Hidup ini menyajikan banyak kisah indah dan juga suram, tergantung bagaimana kita mengartikannya dalam setiap jalan.” -Nash- *** Nash melirik ke arah Siren yang duduk diam sendirian tanpa merasa terganggu dengan sekitarnya. Senyum di wajah laki-laki itu terlihat jelas sebelum kemudian menghilang karena dia kembali serius melayani para pengunjung yang datang. Sebentar lagi berubah menjadi satu jam kemudian karena banyaknya pengunjung yang datang dan pergi sehingga Nash benar-benar menjadi sibuk. Namun meskipun begitu, setelah dia yakin semua sudah dilayani dengan baik, Nash pamit sebentar kepada rekan kerjanya sambil membawa cappucino dan es krim di kedua tangannya. Siren terlihat sangat fokus, dia menulis sesuatu di ponselnya dengan sangat lancar. Wajahnya berubah menjadi serius, dia benar-benar fokus tetapi di satu sisi siapapun bisa melihat kalau dia menikmati apapun yang sedang dia kerjakan saat itu sehingga Nash tidak menganggu dan hanya berdiri sambil memperhatikan Siren. Dia melakukan itu selama hampir sepuluh menit tanpa bicara sama sekali. “Selamat datang!” sapa Nash ramah kepada pengunjung yang baru datang. Dia melirik Siren sekali lagi dan memutuskan untuk meletakkan cappucino serta es krim di meja dengan pelan sebelum pergi untuk melayani pengunjung yang datang. “Siapa dia?” tanya rekan kerjanya. “Apakah kau membawa kekasihmu ke sini untuk menunjukkan kepada para penggemarmu bahwa kau tidak tersedia?” goda rekannya itu sehingga membuat Nash tertawa. “Aku tidak berniat menunjukkannya tetapi benar, dia memang kekasihku,” jawabnya tanpa ragu. “Dia mungkin akan sering datang karena pekerjaannya tidak tergantung kepada tempat dan waktu- americano dan macchiato? Baik.” Pekerjaannya sebagai barista membuat Nash sangat bahagia hanya dengan memikirkannya. Sudah lama dia ingin melakukannya tetapi baru kesampaian baru-baru ini- bukan karena dia tidak belajar dengan giat, Nash bisa melakukan apapun hanya dalam sekali belajar tetapi dia baru memiliki kesempatan setelah Ayahnya cukup percaya kepadanya untuk melakukan apapun yang dia suka. Dia ingin melayani banyak orang dalam jangka waktu yang lama, dia benar-benar ingin melakukannya dengan sangat baik. Karenanya kesempatan seperti ini tidak bisa dilepaskan begitu saja, Nash akan terus menggenggamnya selama yang dia bisa. “Another long days,” bisik rekan kerjanya. “Sebentar lagi akan masuk jam makan siang, itu artinya pekerjaan kita akan selesai. Hah, kau harus meminta maaf kepada kekasihmu karena meskipun dia datang, kalian tidak berbicara sama sekali selama berjam-jam. Lagipula kenapa kalian berkencan di jam kerjamu? Seharusnya kau juga melarangnya datang sepagi itu.” Nash hanya tersenyum sebagai tanggapan, dia memang tidak sadar waktu ketika sudah bekerja karena dia memang menikmatinya tetapi Siren juga sama. Entah sejak kapan dia sudah menghabiskan cappucino dan es krim nya tetapi dia sedang tersenyum sambil terus mengetik sesuatu di ponselnya. Suasana hatinya pasti sedang sangat baik. “Jangan menatap seperti itu,” goda rekan kerjanya lagi. “Gara-gara kau menatapnya dalam seperti itu, beberapa perempuan di sini sepertinya juga menjadi sangat penasaran dengan kekasihmu. Lihat bagaimana mereka melirik dan berbisik.” “Ah, ya.” Nash menghela napas, sepertinya dia juga harus mengontrol ekspresi wajahnya untuk tidak menempatkan Siren di dalam bahaya. Untunglah gadis itu sepertinya tidak terpengaruh sama sekali dengan keadaan di sekitarnya jadi Nash bisa langsung membawanya pergi begitu pekerjaannya sele- oh? Dia menatap ke arahnya! “Kapan selesai?” tanya Siren dengan mengandalkan gerakan bibirnya. Bukan hanya itu, dia sekarang sedang tersenyum lebar seakan-akan menunggu bukanlah hal yang membosankan meskipun sebenarnya dia sudah duduk di tempatnya itu selama lebih dari tiga jam. “Setengah jam lagi,” jawabnya, ikut mengandalkan gerakan bibir dan juga jari-jari tangannya. Nash sebenarnya juga merasa khawatir tetapi Siren hanya mengacungkan jempolnya dan kembali sibuk dengan ponselnya. “Kak Nash, itu pacar Kakak, ya?” tanya seorang gadis kuliahan yang entah sudah sejak kapan berdiri di hadapan Nash bersama kedua temannya. “Perempuan yang pakai kaos putih polos itu, benar pacar Kakak? Tidak mungkin, ‘kan?” Rekan kerja Nash memberi Nash tatapan ‘apa aku bilang’ tanpa suara. Dia bahkan berdehem dan sibuk merapikan gelas-gelas dengan dalih sebentar lagi adalah pergantian shift bagi mereka berdua. Benar-benar tidak ada niatan untuk membantu sama sekali. “Iya,” jawab Nash tanpa ragu-ragu. “Dia pacar saya.” Siapa yang menyangka Nash akan mendengar tiga anak kuliahan mengejek Siren padahal mereka bahkan tidak mengenal gadis itu? Nash tidak tahu para gadis kuliahan itu akan langsung mengatakan kalau Siren hanya menang karena bersikap sok imut saja sebelum kemudian bertanya di mana Siren berkuliah dan mengambil jurusan apa. “Saya tidak berpacaran dengan anak kuliahan,” jawab Nash sopan sekaligus menampar tanpa perlu meninggikan nada suara atau mengernyitkan keningnya. “Maaf, tetapi kekasih saya sudah lulus kuliah sekitar lima tahun yang lalu.” Wajah anak-anak kuliahan itu jelas mengeluarkan ekspresi tidak percaya tetapi Nash tidak ingin repot-repot menjelaskan kalau Siren memiliki wajah baby face yang membuatnya tetap terlihat seperti seorang mahasiswa baru. Hal itu mungkin juga didukung oleh penampilannya yang polos sehingga mungkin banyak yang tidak percaya kalau umur gadis itu hampir menyentuh kepala tiga. “Kalau begitu apakah kalian ingin memesan sesuatu sebelum pergi?” tawar Nash, dia harus tetap bersikap profesional dan bagaimanapun juga di depannya hanyalah anak-anak kuliahan yang mungkin sedang mencari jati diri mereka. “Halo, adik-adik? Ingin memesan sesuatu?” **** “Perasaanku saja atau memang banyak sekali perempuan yang menatapku sinis sejak tadi?” tanya Siren bingung, dia menatap sekitarnya. “Iya, ‘kan? Apa aku bersikap aneh sejak tadi- tidak, apa aku terlalu banyak tersenyum sambil menulis sehingga banyak yang menganggapku aneh?” “Tidak, kau tidak melakukan sesuatu yang aneh,” jawab Nash. Dia sudah selesai berganti baju karena shift nya sudah selesai sehingga dia bisa pulang. Lagipula sekarang Nash juga merasa lapar dan Siren juga pasti merasakan hal yang sama. “Maaf, aku membuatmu bosan menunggu, ya? Perkiraanku salah, aku pikir hari ini tidak akan seramai itu.” “Aku tidak merasa bosan sama sekali karena sejak tadi aku menikmati pekerjaanku dan juga cappucino buatanmu,” sahut Siren. “Kau tahu aku orang yang sangat jujur, bukan? Jadi berhenti memasang ekspresi bersalah seperti itu dan ayo kita pergi makan! Kau memiliki rekomendasi tempat? Aku akan mebayarmu mulai hari ini.” “Jangan, biar aku saja-“ “Kau sudah mentraktirku dengan cappucino dan es krim tadi, aku tidak menolak karena kau bilang akan semakin merasa bersalah karena sudah membuatku menunggu. Lalu kali ini alasan apa lagi? Bukankah aku melakukannya sebagai bayaranmu? Aku tidak bisa menerima kalau kau ingin mentraktirku makan siang,” cerocos Siren. “Lagipula ini tidak seperti kau yang memintaku untuk datang, aku yang tetap memaksa untuk menemuimu.” “Baiklah,” sahut Nash kemudian, dia memilih mengalah. “Tetapi kau belum memanggil taksi, bukan? Temanku akan datang ke sini sebentar lagi jadi kita bisa pergi bersamanya. Aku merasa tidak nyaman memintamu untuk kembali menunggu tetapi dia akan datang kurang dari lima menit lagi-“ “Tidak apa-apa,” potong Siren, dia tersenyum. “Omong-omong, apakah kau memiliki teman lain yang tidak kalah tampan? Maksudku- jangan menatapku seperti itu dan jangan salah paham. Ini karena kedua temanmu yang memintaku untuk bertanya kepadamu- pokoknya ... seperti itu.” Tersenyum manis, Nash kemudian berkata, “Aku bahkan belum mengatakan apapun.” Dia jelas menggoda Siren. “Baiklah, aku berbohong!” akunya tiba-tiba yang membuat senyum Nash semakin lebar. “Aku berbohong, aku baru saja menulis cerita dan biasanya orang tampan memiliki teman yang tidak kalah tampannya- eum ... kau tidak keberatan untuk membaca dan memberi penilaian yang objektif pada tulisanku? Jika kau tidak keberatan, kau mau membaca ini? Kau bisa komplain kepadaku kalau kau tidak suka dan aku akan mengubahnya.” “Kenapa harus diubah hanya karena aku tidak suka?” tanya Nash, dia menerima ponsel Siren. “Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, tidak perlu terlalu ambil pusing dengan komentar orang lain.” “Aku hanya akan mengambil kritik dan saran yang membangun,” ujar Siren. “Lagipula aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan sebegitu seringnya, rasanya aku terlalu serakah jika terlalu sering melakukannya. Bagaimana menurutmu tentang tokoh laki-lakinya? Terlalu kuat untuk bagian awal atau ada hal lain?” “Apa senyumku semenarik itu?” tanya Nash, dia melontarkan komentar yang tidak terduga. “Di sini ... di bagian ini secara terbuka kau menceritakan tentang aku, bukan? Apa senyumku semenarik itu sampai-sampai siapapun yang melihatnya bisa berdebar?” “Haha ....” Siren tertawa canggung. “Aku sudah mengatakannya sejak pertama kali kita bertemu kalau kau memiliki senyuman yang menarik, bukan? Aku yakin ada banyak orang yang berdebar karena senyumanmu itu.” “Termasuk kau?” “Tentu saja,” jawab Siren langsung. Dia bahkan mengangguk dan menekan perasaan malunya. “Apa aku sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya? Tetapi aku pikir mantan pacarmu pasti merasa sedikit tidak rela melepaskanmu- tidak, dia pasti merasa sangat bangga karena bisa mengakuimu sebagai mantan kekasihnya. Hah, aku merasa sedikit iri ... kau sudah melihat mantan kekasihku dan entah bagaimana dia mengeluarkan sifat aslinya begitu saja, sekarang aku merasa sedikit malu.” “Tidak perlu merasa iri karena kau juga bisa menyebutku sebagai mantan kekasihmu nanti dan tidak perlu merasa malu karena laki-laki itu,” ujar Nash, dia mengedikkan bahunya dan mengembalikan ponsel Siren. “Kau memang memiliki bakat, aku tidak mengatakannya karena aku mengenalmu tetapi kau memang memiliki bakat. Dengan tulisan rapi dan enak dibaca serta pembawaan tokoh yang kuat seperti itu ... aku yakin karyamu tidak akan bisa dilupakan begitu saja.” Siren tersenyum kecil. “Terima kasih. Aku menyukai pujian seperti itu, bahkan ketika pembacaku hanya meninggalkan komentar seperti lanjut atau semangat ... aku sangat menyukai itu sampai mengambil tangkapan layar dan menyimpannya di galeri ponselku untuk waktu yang sangat lama- Hahahaha ....” Siren tertawa, dia tidak tahu kenapa dia bisa seterbuka itu kepada Nash. “Kenapa kau diam saja? Seharusnya kau bilang kalau itu membosankan.” “Aku menikmatinya,” aku Nash. “Aku menikmatinya ketika kau bercerita tentang apapun itu jadi jangan sekalipun merasa malu dan canggung karena mungkin nanti aku juga akan menjadikanmu sebagai tempat bercerita.” “Begitu, ya?” Siren menatap Nash. “Aku jadi heran kenapa mantan kekasihmu meninggalkan pria tampan sepertimu, apa yang kurang darimu?” “Dia kurang jahat dan kurang gila,” celetuk seseorang. “Dia kurang jahat sehingga mantan kekasihnya memilih untuk bersama laki-laki yang mirip seperti seorang kriminal. Selain itu dia juga membosankan, kau akan melihat sisi membosankannya seiring berjalannya waktu.” “Tidak sopan langsung menyeletuk seperti itu,” tegur Nash. Dia kemudian menatap Siren yang terlihat kebingungan. “Siren, ini Rigel, teman yang sedang kita tunggu.” “Ah ....” Siren berdiri dan mengulurkan tangannya. “Siren.” Rigel mengeluarkan senyuman mautnya sebelum membalas uluran tangan Siren, menjabatnya dengan ekspresi penuh godaan. “Rigel. Salam kenal, Siren, kau ternyata jauh lebih cantik dari yang diceritakan oleh laki-laki yang ditinggalkan oleh ‘tunangannya’ ini dan kau terlihat jauh lebih menarik dari semua perempuan yang pernah aku kencani.” “Menyingkirlah!” Nash berdecak. “Maaf, tetapi dia memang cukup gila. Mungkin pergi bersamanya adalah pilihan yang sangat buruk jadi ayo pergi dengan taksi saja.” “Apa-apaan?” Rigel menahan lengan Siren, dia juga melirik tangan Nash yang menggandeng erat tangan penulis yang terlihat menikmati situasi itu. “Aku sudah datang ke sini atas permintaanmu dan kalian akan pergi tanpaku? Kau saja yang pergi seorang diri biar Siren pergi bersamaku saja!” “Dia kekasihku dan bukan kekasihmu, jadi menyingkirlah!” ancam Nash dengan nada datar. “Bukankah itu hanya sementara?” ledek Rigel. “Sementara atau tidak, dia tetap kekasihku sekarang, jadi cepat menyingkir sebelum aku meninju wajah yang sangat kau bangga-banggakan itu!” perintahnya dengan nada mengancam yang masih sama. “Ah, berikan aku kunci mobilmu sekarang juga.” “Apa ini pencurian?” gumam Rigel kesal tetapi tetap memberikan kunci mobilnya kepada Nash. Sementara itu Siren hanya tersenyum sejak Rigel menjabat tangannya. Dia terus melirik Nash yang baru saja menampilkan ekspresi dan nada suara yang tidak pernah dia lihat dan dengar sebelumnya. Hahaha, menurut Siren ini adalah adegan yang cocok dimasukkan ke dalam novelnya meskipun romansa yang dirasakannya sekarang adalah sewaan belaka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD