“Jika terlalu ambil pusing atas komentar orang lain, hidupmu tidak akan terasa seperti hidupmu. Jika sudah begitu, apa tujuanmu untuk hidup bahagia akan tercapai setelah terus merasa bersalah atas apa yang kau kerjakan? Kau tahu, asalkan kau tidak merasa akan menyesal, lewati saja.”
-Siren Vegakira-
***
Siren melirik Nash, dia yang sejak tadi menahan diri untuk tidak tertawa akhirnya tertawa keras setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Rigel. Siren benar-benar tertawa sampai perutnya merasa sakit hanya karena dia pikir pertengkaran kecil antar Nash dan temannya itu sangatlah lucu.
“Kenapa?” tanya Nash, dia tersenyum melihat Siren tertawa. “Ren? Perutmu akan terasa kram jika kau terus tertawa seperti itu.”
Berusaha untuk berhenti tertawa, Siren mengangkat tangannya sebagai isyarat tunggu. Nash hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum kecil di bibirnya sebelum memberikan sebotol air mineral yang baru saja dibuka kepada Siren, menyuruh perempuan itu untuk minum.
“Habisnya kalian lucu,” ungkap Siren setelah menghabiskan setengah botol air. “Dia temanmu sejak kecil? Dia terus terang sekali saat mengatakan kalau kau kurang jahat dan kurang gila. Selain itu, dia bahkan tidak menyusul kita ke sini meskipun dia bisa.”
“Dia tidak akan melakukan itu, lagipula dia harus menemui wanitanya yang entah keberapa,” ujar Nash. “Maaf, dia itu menyebalkan dan selalu bermain-main dengan wanita, karena itu jangan mendekatinya jika kau merasa akan jatuh cinta padanya.”
Siren terkekeh mendengarnya. “Dia tampan dan jika yang kau katakan benar kalau dia selalu bermain-main dengan wanita, aku yakin itu terjadi karena para wanita itu merasa bisa mengubahnya ke arah lebih baik atau membuatnya jatuh cinta. Sifatnya yang seperti itu merupakan salah satu sifat tokoh yang cukup menjadi favorit di kalangan pembaca,” jelas Siren, dia kemudian menatap Nash dan membentuk huruf V dengan jari tangannya. “Sayangnya tipe tokoh favoritku tidak seperti itu.”
“Oh ya? Kalau begitu bagaimana tipe tokoh favoritmu?” tanya Nash penasaran. Dia kembali menjadi Nash yang memiliki wajah dan senyuman yang sangat manis. “Aku sangat penasaran sekarang, jadi tokoh seperti apa yang menjadi favoritmu?”
“Eum ... lebih ke arah dreamy, kau tahu seperti tinggi dan tampan dengan pekerjaan yang bagus, tipe pekerja keras dan setia yang selalu membuatku merasa damai setiap melihat wajahnya,” aku Siren jujur, dia kemudian kembali tertawa. “Teman-temanku selalu menatapku aneh setiap aku mengatakan tipe pemeran utama pria favoritku, mereka juga bertanya kenapa aku berkencan dengan orang seperti mantan kekasihku yang selalu membuatku kesal hanya dengan melihat wajahnya. Wah, setiap mengingat percakapan itu aku selalu tertawa.”
Nash menyalakan mobil sambil tersenyum lebar. “Kau tidak suka bad boy? Biasanya para perempuan sangat menyukai tipe pria seperti itu. Kau tahu ... pria yang hanya baik kepadamu.”
“Itu karena sensasinya. Sensasi bagaimana kita berhasil ‘menjinakkan’ seseorang dan membuat dia yang sebelumnya bersikap tidak acuh kepada kita malah berakhir sangat menyukai kita,” sahut Siren. “Aku tidak bisa bilang tidak menyukainya tetapi aku juga tidak menginginkan seorang kekasih yang suka membuat masalah karena jujur saja, aku sebenarnya tidak percaya diri bisa mengubah karakter orang lain. Hahaha, tetapi tetap saja kalau itu di dalam novel ... aku akan membaca dengan suka cita.”
“Syukurlah kalau begitu,” gumam Nash. “Kau ingin makan siang apa? Aku ikut denganmu saja.”
“Apa yang kau suka?” tanya Siren.
“Eum ... sesuatu seperti nasi goreng- tidak, aku sedang ingin makan sesuatu yang pedas. Kau bisa makan pedas? Jika tidak, kita bisa pergi untuk makan yang lain.”
“Aku suka makanan pedas, aku pikir kita pasangan yang akan sering memerlukan toilet,” ujar Siren yang diakhiri tawa. “Tapi tidak apa-apa kalau kita memakai mobil temanmu seperti sekarang? Kita tidak hanya akan pergi makan lalu pulang, bukan?”
“Aku tidak berencana memulangkanmu sampai malam,” sahut Nash. “Lagipula Rigel tidak akan marah, dia cukup makmur sehingga jalan-jalan dengan menggunakan taksi seharian tidak akan membuatnya bangkrut seketika. Ada tempat yang ingin kau kunjungi setelah kita selesai makan?”
“Eum, rumah editorku,” jawab Siren. “Aku membutuhkan masukannya- sebenarnya tidak perlu karena aku masih menulis dua bab tetapi istrinya sangat objektif dalam menilai tulisan sehingga aku membutuhkan bantuan mereka. Aku sudah mengirimkan mereka file nya tadi tetapi mereka memintaku untuk berkunjung. Tidak apa-apa, ‘kan?”
“Tidak apa-apa, sudah aku bilang aku menyukainya.”
Seperti seseorang yang sudah lama menjalin hubungan, Nash dan Siren makan dengan sangat tenang. Mereka berdua adalah tipe yang tidak banyak bicara saat makan dan hanya saling memberi perhatian dalam diam. Seperti ketika Siren menghabiskan minumnya, Nash menggeser miliknya yang belum tersentuh sama sekali dan bahkan memberi tisu kepada Siren.
“Kau lebih menyukai pedas daripada yang aku kira,” kata Nash, dia memesan es krim dan Siren sedang memakan pesanannya itu. “Perutmu baik-baik saja? Kenapa baru bilang kalau tadi pagi kau tidak sarapan? Aku malah memberimu kopi dan es krim.”
“Perutku malah akan terasa sakit jika sarapan,” jawab Siren. “Aku baik-baik saja karena sudah biasa melakukannya, teman-temanku bahkan sampai menyerah memberitahuku. Hehehe.”
“Jangan tertawa, biasakan sarapan dulu sebelum pergi. Perutmu sakit karena kau tidak biasa melakukannya, kau tidak tahu kalau sarapan itu sangat penting?” Nash tiba-tiba mulai mengomel. “Kau dengar? Aku akan mengambil peranku sebagai kekasihmu dan akan bertanggungjawab atas kesehatanmu. Mulai dari besok kau harus mulai terbiasa sarapan, kita mungkin tidak akan bisa bertemu setiap hari tetapi aku akan memastikan kau sarapan pagi. Lagi, aku belum begitu paham mengenai pekerjaanmu tetapi setelah aku perhatikan sepertinya kau tipe orang yang suka lupa waktu jadi aku akan memastikan kau makan dengan baik setiap harinya.”
“Sampai sebegitunya?” Siren memiringkan kepalanya, dia berhenti menyantap es krim di hadapannya. “Aku tebak, kau juga bersikap seperti ini kepada mantan kekasihmu, bukan?”
Nash terdiam sejenak. “Ya. Apakah itu menyebalkan?” tanyanya.
Siren menggelengkan kepalanya, dia kembali menyendokkan es krim ke mulutnya. “Tidak, bukan begitu. Kau lucu ketika mengomel seperti itu tetapi beberapa orang mungkin tidak menyukainya karena ada beberapa yang benar-benar tidak suka diatur. Namun terlepas dari semuanya, kau ini adalah tipe yang perhatian dan pandai mengamati- intinya, aku membutuhkanmu jadi aku akan berterima kasih jika kau mau mengingatkanku makan. Lagipula aku memiliki penyakit maag sehingga-“
“Siren?”
“Hm?”
Kenapa tiba-tiba Siren merasa takut? Rasanya udara di sekitarnya berubah ketika Nash memanggil namanya dan bukan hanya itu, dia tidak pernah memotong pembicaraan seperti ini sebelumnya jadi Siren merasa sedikit takut hanya untuk bertanya kenapa. Apa Siren sudah melakukan kesalahan? Kenapa Nash menatapnya seperti itu?
“Kau tidak sarapan, kau minum kopi dan sekarang baru saja selesai memakan makanan pedas lalu kau memberitahuku kalau kau memiliki maag?” Nash menyatukan kedua tangannya, dia menatap Siren dalam- sedikit mengintimidasi. “Aku tidak tahu ini kasar atau tidak tetapi kenapa rasanya seperti kau memberitahuku bahwa kau baru saja selesai menggali kuburanmu sendiri?”
Seram. Siren bahkan tidak bisa tertawa atau melawan padahal dia selalu mengentengkan perkataan ketiga temannya. Wah, jika sudah begini pasti teman-temannya akan merasa terkhianati jika mereka tahu dirinya lebih menurut kepada Nash yang baru dikenalnya beberapa hari daripada teman-temannya yang sudah dia kenal hampir sepuluh tahun.
“Tidak apa-apa makan pedas tetapi ketahuilah batasanmu karena jika sudah jatuh sakit, yang ada hanya penderitaan dan penyesalan. Apa kau sering makan makanan pedas? Seperti yang kau bilang, aku ini cukup perhatian,” lanjut Nash, masih dengan nada dan tatapan yang mengintimidasi. “Jangan terlalu sering makan makanan pedas dan manis, sering-seringlah makan yang beserat seperti sayuran dan buah-buahan lalu jangan lupakan juga vitamin dan olahraga.”
“Kau ... pakar kesehatan?”
“Siren-“
“Baik, Tuan muda!” Siren mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. “Saya akan mengikuti saran Tuan muda dan tumbuh dengan sehat sehingga saya tidak akan menyesal di masa sekarang atau pun nanti. Mohon kerja samanya, Tuan muda.”
Nash menghela napas, dia menggeser mangkok es krim yang sudah habis dan meletakkan jus jambu pesanan Siren di hadapan gadis itu. “Kau jarang berolahraga, ya? Kau tahu kalau kau tidak boleh melakukan itu untuk jangka waku yang lama, bukan? Selain itu, apakah kau jarang menggerakkan tubuhmu?”
“Eum, pekerjaanku sering membuatku duduk lama di depan laptop sehingga mataku bermasalah dan punggungku- wah ... punggungku benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Lagipula aku tidak bisa menyalahkan siapapun, kerjaanku hanya menulis, makan dan tidur.”
“Menulis, mengemil dan tidur,” koreksi Nash. “Kau tidak terlihat seperti orang yang gemar makan. Jadi aku sudah mendapat izin untuk membuatmu menjadi lebih sehat, bukan?”
“Ya, Tuan muda.”
Nash mendengus geli mendengar panggilan Siren untuknya itu. Dia kemudian bertanya apakah Siren masih ingin makan sesuatu atau mereka akan pergi ke rumah editornya dan Siren memilih pergi ke rumah editornya. Tetapi sebelum itu ...
“Nash, aku tidak begitu mengerti tentang mobil karena meskipun sudah pernah melakukan riset untuk kepentingan novelku, aku mudah melupakan sesuatu. Hanya saja sepertinya mobil temanmu sangat bagus sehingga banyak yang berfoto seperti itu,” ujar Siren, dia menunjuk ke arah mobil Rigel yang digunakan sebagai latar belakang foto oleh beberapa orang.
“Mobil siapa itu? Aku pikir pemilik mobil seperti itu tidak akan datang ke kedai kecil seperti ini,” seloroh beberapa orang yang baru masuk ke dalam kedai.
“Mobil itu bahkan bisa membeli kedai ini beserta isinya, masih banyak kembaliannya pula,” lontar yang lainnya.
Siren berdehem, dia melirik Nash yang terlihat biasa saja. “Apa kita salah memarkir mobil? Tidak, apakah seharusnya kita datang ke restoran ternama dengan mobil seperti itu?”
“Kenapa? Biarkan saja, itu hanya mobil,” sahut Nash. “Siapapun bisa datang ke tempat ini. Lagipula mereka hanya melebih-lebihkan, mobil itu tidak semahal yang mereka kira. Kau sudah selesai, bukan? Ayo kita pergi ke rumah editormu.”
Meringis, Siren hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya. “Tetapi bagaimana ini? Masih ada yang belum selesai berfoto di sana.”
“Kita tunggu saja di sebelahnya, mereka akan mengerti dan segera pergi.”
“Wah, kau cukup kejam juga ternyata ya, Tuan muda.”
“Bukan kejam, aku hanya tidak bisa membuang banyak waktu kita di sini,” terang Nash. “Kita masih ada kencan sampai malam, bukan? Mereka hanya akan mengurangi waktu kencan kita dengan asyik berfoto di sana sementara kita menunggu tanpa melakukan apapun di sini.”
“Oho!” Siren bersiul. “Kau ternyata sangat tegas, Tuan muda. Selain itu penampilanmu juga sangat meyakinkan, aku yakin mereka akan langsung merasa terintimidasi hanya dengan melihatmu. Lagipula anak-anak itu, bukankah di sana sangat panas? Kenapa rela panas-panasan hanya demi sebuah foto di tempat parkir?”
Nash tersenyum, dia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Siren. “Ayo pergi!”
***