Sebelum Yahmar menjawab pertanyaan itu, Luis yang masih duduk di atas sofa itu pun bangkit dari posisinya dan menjawab tawaran tersebut seraya berjalan menghampiri mereka semua yang berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar itu. Baik para anggota parlemen maupun pihak W.A.E dan sang Presiden sendiri kini menatap padanya.
“Tentu saja tuan Presiden akan menyetujuinya, dan kebetulan sekali dengan semua ini… Pihak dari organisasi We Are Earth pun telah meminta hal yang sama dan mereka sudah mengutus pihak mereka untuk datang kemari saat ini. Jadi… Bukankah akan lebih baik jika kita merundingkan ini bersama-sama? Benarkan?” Penawaran yang Luis ucapkan itu tidak bisa membuat para pejabat negara menolaknya karena mereka semua merasa gengsi.
Di satu sisi, Luis sengaja melakukan itu untuk melindungi Yahmar dari seluruh kemungkinan yang bisa saja terjadi di saat perundingan bersama para anggota parlemen dan pejabat negara, meski saat ini posisi Yahmar adalah presiden. Namun itu tidak menutup kemungkinan untuk para pejabat dapat merencanakan hal busuk mereka. Di sisi lain, Luis melakukan hal itu juga karena untuk menenangkan Yahmar yang pasti merasa gugup dan tidak tenang ketika mendapatkan tawaran yang tiba-tiba tersebut, sebab ia tahu Yahmar saat ini masih dalam kondisi kebingunan dengan keputusan yang akan ia ambil.
Para anggota parlemen dan pejabat negara menatap tajam pada Luis yang berhenti tepat di samping sang Presiden. Seolah menyatakan saat ini dirinya adalah sekertaris presiden yang membantu segala urusan sang presiden.
Saat melihat wajah-wajah kesal itu, tidak ada satupun yang menyadari bagaimana saat ini Arial tengah tersenyum samar di hadapan mereka semua. Menertawakan bagaimana wajah yang mereka tunjukkan saat ini di hadapan seluruh anggota We Are Earth yang ada di dalam ruangan itu.
“Ya… Ya! Tentu saja! Saya harap juga seperti itu, dan saya harap perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama untuk sampai ke sini, tuan…?” Lelaki yang berbicara layaknya ketua dari para anggota parlemen dan pejabat itu pun bertanya, menanyakan dengan siapa saat ini dirinya berbicara.
“Luis! Nama saya Luis, Tuan Yohaness! Dan ya, tentu saja mereka tidak akan memakan waktu yang lama, karena mereka baru saja tiba di depan gerbang Etxe Zuria. Jadi permisi tuan-tuan… Saya harus menjemput rekan saya di depan sana.” Ucap Luis yang langsung berjalan melewati seluruh anggota parlemen dan pejabat negara yang mau tidak mau membukakan jalan mereka untuknya dengan begitu canggung.
“Good Job!” Tuan Nabda, Ayah dari Yahmar pun memberikan pujian pada sang putra dan seluruh anggota We Are Earth yang mendampinginya. Saat seluruh anggota parlemen dan pejabat negara pergi dari sana, dan memilih untuk menunggu mereka di ruang perundingan. Tuan Nabda yang memilih untuk menemani sang anak pun di persilahkan masuk langsung oleh sang Putra.
Tuan Nabda memilih untuk duduk di atas sofa dan menyilangkan kedua kakinya, lalu ia menatap pada Yahmar dan Arial yang berjalan bersama-sama menghampirinya. “Apakah mereka benar-benar sudah datang? Sepertinya temanmu yang satu itu memiliki otak yang encer sehingga mampu membuat mereka semua terdiam seperti tadi ya… ” Ujar Tuan Nabda saat ia mengingat bagaimana seorang pemuda bernama Luis tadi dapat membungkam mereka semua dengan ucapannya yang berbobot.
“Mereka memang sudah datang, Tuan!” Jawaban yang Rio berikan pada sang mantan presiden pun berhasil membuat bukan hanya sang mantan presiden, tetapi sang presiden pun terkejut dengan pemberitahuan itu. Sedangkan Arial yang juga baru mengetahui hal itu pun sebenarnya sudah menduga jika ucapan Luis benar-benar terjadi, sebab dia tahu betul bagaimana sifat sahabatnya Luis itu. Ketika ia melihat Luis yang santai dan bertingkah se natural itu, berarti lelaki itu mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Aku tidak tahu jika mereka akan…”
Cleck! Yahmar, Tuan Nabda, Rio dan Arial bersamaan menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Luis tenyata adalah pelakunya ia datang bersama para anggota tim yang di kirim oleh organisasi W.A.E untuk menjadi perwakilan berunding dengan anggota pemerintahan.
“Dokter Sam?” Yahmar terlihat terkejut saat ia melihat kedatangan dari Samuel, dokter yang tidak pernah turun ke lapangan apapun yang terjadi karena dirinya berdedikasi untuk membantu organisasi W.A.E di ruang operasi bukan di lapangan perang.
Samuel yang baru bertemu kembali dengan Yahmar setelah pengangkatan presiden itu pun memberikan sambutan tangan pada temannya tersebut seraya mengucapkan selamat padanya. “Selamat atas pengangkatanmu, Yahmar!” Saat Yahmar mendapatkan ucapan itu, dirinya justru merasa membencinya dan menggelengkan kepala menolak ucapan itu. Yahmar menepis sambutan tangan itu dan memilih untuk memeluk sang teman seperjuangan sekaligus sahabat karibnya selama dirinya berada di dalam organisasi W.A.E hingga kini.
“Tidak! Tolong jangan seperti itu Samuel, kau tahu kan…”
“Ya, Ya… Baiklah tuan Presiden, kami mengetahui bagaimana posisimu saat ini. Perkenalkan kami adalah tim yang di utus untuk bertemu dengan Presiden terpilih, Yahmar. Kami senang akhirnya dapat secara langsung bertemu dengan anda, tuan Nabda.” Samuel pun segera menghampiri mantan presiden dan menjabat tangannya, tangan yang mereka kira tidak akan pernah bisa mereka jabat karena selalu menentang keberadaan organisasi mereka.
Saat mereka semua sedang berbincang, mata tuan Nabda tertuju pada seorang lelaki yang telihat gugup sedang berbincang dengan dua anggota lainnya, yang sangat ia kenali. “Alexander Matthew?” Dan panggilan dari mantan presiden tersebut sukses membuat mereka semua terdiam dan menoleh menatap pada Matt yang terdiam mematung.
Yahmar yang sangat mengenal Matt pun mengerenyitkan dahinya saat menyadari temannya dan sang Ayah saling mengenal. “Kalian saling mengenal?” Tanya Yahmar, menatap pada sang Ayah yang berada di sampingnya dan meminta penjelasan bagaimana mungkin keduanya saling mengenal sementara Matt telah bergabung dengan W.A.E cukup lama.
“Dia benar-benar Alexander Matthew?” Tanya Tuan Nabda pada sang putra yang mengangguk dengan bingung sebab pertanyaannya tidak di jawab oleh sang ayah. “Kau tumbuh dengan sangat baik, Matthew!” Tuan Nabda berucap dan berjalan menghampiri Matt yang masih berdiri dengan kaku. Seluruh anggota W.A.E dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah Matt berubah memucat saat tuan Nabda menepuk-nepuk pelan pipinya.
“Ayah?” Kembai, Yahmar meminta sebuah penjelasan dari sang Ayah tentang bagaimana bisa dirinya mengenal Matt yang merupakan seorang anggota W.A.E.
Tuan Yahmar berbalik menatap sang putra semata wayangnya yang penasaran dan mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban darinya. “Ah… Dia adalah seseorang yang pernah di tawarkan padaku untuk…” Tuan Nabda terlihat menjeda penjelasannya dan menoleh pada Matt yang terdiam menatap ke arah lantai, “Menjadi mata-mata kepresidenan. Tetapi karena usianya masih sangat muda waktu itu… Jadi aku menolak tawaran tersebut, dan syukurlah saat ini kau masuk ke dalam organisasi yang benar, Matthew!” Lanjut Nabda. Berbeda dengan Yahmar, Rio, Bima, Luis, Arial, Gantara dan Samuel, James yang mengetahui bagaimana perjalanan hidup Matt pun tidak menerima penjelasan itu dengan pikiran yang terbuka seperti teman-temannya.
Tuan Nabda kemudian berjalan dengan santai ke arah pintu, dan mengatakan bahwa dirinya akan menunggu mereka bersama dengan para anggota parlemen dan pejabat negara lainnya di ruang rapat, lalu menutup pintu itu.
Tidak merespon dan hanya terdiam, itulah yang kini Matt lakukan di hadapan mereka semua. Yahmar yang mengetahui bagaimana sifat Matt yang memang pendiam itu pun tidak begitu peduli, berbeda dengan Dokter Samuel dan Arial yang baru melihat sikap diam Matt yang terlihat berlebihan. Mereka pun menyadari bahwa ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan yang mungkin saja pernah terjadi di antara Matt dengan mantan Presiden negara mereka.
Gantara tidak memilih untuk memikirkan hal sepele itu dan lebih memilih untuk menyiapkan segala hal yang harus mereka lakukan di ruang perundingan nanti. “Ku rasa kita harus bergegas untuk menemui mereka di dalam ruang rapat!” Ucapnya seraya menghampiri Rio yang sedang sibuk menyiapkan laptop virtual mereka, Gantara terdiam saat ia menyadari Matt memiliki tugas sebagai ketua tim mereka. Ia pun menoleh menatap pada Matt yang masih terdiam di tempatnya tanpa bersuara.
“Matt! Kau harus melakukan penghubungan sambungan antara kita dengan pihak atasan!” Ujar Gantara, menegur Matt yang akhirnya membuat lelaki itu mendapatkan tatapan dari James, Arial, dan Samuel yang bersiap-siap dengan perlengkapan senjata maupun perlengkapan kesehatan. Matt pun segera berjalan menghampiri Gantara dan Rio, mengerjakan tugas yang harus ia jalankan dan membuang semua hal buruk tentang masa lalu yang ada di dalam pikirannya.
To be continued