POV NADIA Begitu aku terbangun, aku refleks melihat jam dinding yang ada di kamar mewah ini. Sudah pukul sepuluh pagi. Sial, Lucio pasti akan marah karena aku kesingan. Aku segera membalikkan badan. Ranjang di sebelahku sudah kosong. Seprai putih sutra itu kusut, menampilkan bukti-bukti dari apa yang terjadi semalam. Aku merasakan tubuhku remuk redam. Setiap inci kulitku terasa nyeri. Aku mencoba mengingat detailnya, tetapi semuanya terasa seperti mimpi buruk yang kabur, hanya menyisakan rasa sakit yang nyata. Entah berapa kali aku melayani Lucio semalam, yang pasti suaraku terasa habis, tenggorokanku perih karena erangan yang terus keluar tanpa bisa kucegah. Aku mendorong diriku, berusaha duduk di pinggir ranjang. Kepalaku pusing. Aku menunduk, melihat tubuhku yang telanjang hanya

