POV NADIA
Setelah membantu Lucio bekerja di ruang kerjanya — ruangan yang luas dengan jendela kaca besar yang menghadap taman belakang — dan aku mulai sedikit memahami ritmenya.
Dia perfeksionis, tapi juga jenius. Tangannya yang dingin bisa mengetik cepat di atas keyboard, sementara aku mencatat, menyortir dokumen, dan menyiapkan laporan digital sesuai instruksinya.
Lucio tidak banyak bicara, hanya sesekali memberikan instruksi singkat. "Yang ini di-email ke Mr. Petterson, yang itu buatkan ringkasan sebangak 5 poin," ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
"Baik, Tuan," sahutku cepat.
Selama aku bergerak cepat dan efisien, aku bisa mengabaikan insiden memalukan di kamar mandi tadi. Aku bisa melupakan bagaimana tanganku bergetar saat mengancingi kemejanya, atau bagaimana mataku tidak sengaja melihat tubuh kekarnya yang tadi telanjang.
Pukul dua belas siang, perutku mulai bernyanyi, dan tepat saat itu, Lucio menggeser kursi rodanya, memecah keheningan. "Waktunya makan siang."
"Baik, Tuan. Apa saya perlu memesankan makanan?"
"Tidak perlu. Ayo ikuti aku!" Dia mengarahkanku ke ruang makan.
Sepanjang perjalanan, aku hanya berjalan di belakangnya, hati-hati menjaga jarak. Lalu, saat kami sampai di rumah makan, aku terpana — ruang makan itu jauh lebih megah dari yang kubayangkan. Ada meja panjang, taplak linen putih bersih, dan dua orang pelayan sudah berdiri siaga di samping meja, seperti di restoran bintang lima.
Bahkan ada seorang chef yang muncul dari dapur untuk menyambut kami.
Makan siang disajikan dengan serangkaian tata krama yang kaku. Aku makan dalam diam, berusaha keras untuk tidak membuat suara, tidak menjatuhkan alat makan, dan hanya mengambil porsi yang sopan. Rasa makanannya luar biasa enak. Ayam panggang dengan saus truffle terutama, rasanya ... aku ingin nambah lagi.
Tapi ketegangan yang diciptakan oleh kehadiran Lucio dan para pelayan itu sudah pasti membuatku sungkan untuk menunjukkan sifat doyan makanku.
Setelah hidangan penutup, Lucio meletakkan serbetnya. "Nadia."
"Ya, Tuan?"
Dia menatapku dengan mata birunya yang tajam. "Kamu boleh tidur siang. Naiklah ke atas. Pilihlah satu kamar yang ingin kamu tiduri."
"Apa ...?" Aku tercekat. "Anda serius, Tuan?"
"Ya, aku serius. Aku tahu pekerjaanmu hari ini terasa berat dan butuh konsentrasi. Jadi istirahatlah. Setengah jam atau satu jam, terserah kamu."
"Terimakasih, Tuan." Aku mengangguk cepat, rasa senang tiba-tiba membanjiri diriku.
Di kantor, tidur siang adalah kemewahan yang mustahil. Apalagi setelah makan siang mewah ini, mataku memang terasa berat.
Aku naik ke lantai dua, koridornya sunyi, dihiasi lukisan dan vas-vas antik. Lalu, aku memilih kamar yang paling dekat dengan ujung tangga, sebuah keputusan logisku untuk memudahkan akses keluar masuk.
Begitu pintu terbuka, aku terpukau. "Wow ... kamar ini mewah sekali."
Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap taman belakang. Seprai putihnya terlihat lembut, dan bantalnya tampak seperti awan.
Aku tidak membuang waktu. Aku segera meletakkan tas kecilku, melepas blazer kerja, dan merebahkan diri di tempat tidur. Saat kepala baru menyentuh bantal, tanpa kusadari, aku langsung terlelap.
Dalam tidurku, aku merasa ada orang yang mengawasi. Sensasi aneh itu membuat bulu kudukku berdiri. Kemudian, rasanya malah semakin nyata. Aku merasa ada tangan yang menggerayangi, sangat pelan, mulai dari kaki, naik ke paha, pinggul, tangan, lalu wajahku.
Jantungku berdebar kencang!
Aku terlonjak, membuka mata dengan napas terengah-engah dan refleks menoleh ke kanan dan kiri.
Kosong.
Kamar ini sunyi.
Tidak ada siapa-siapa.
Jendela masih tertutup rapat, dan udara di ruangan masih terasa dingin.
Aku mengusap mataku, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah mimpi buruk akibat kelelahan. Tapi, sentuhan tadi, bagiku memang terasa sangat terasa sangat nyata.
"Astaga ... jangan-jangan hantu. Ya Tuhan ... kalau benar iya, ngeri banget deh hantu di Amerika," gumamku sambil memeluk tubuh sendiri. "Besok, aku pastikan, aku nggak akan bobo di kamar ini lagi!"
Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba menghilangkan pikiran tak masuk akal itu.
"Soalnya nggak mungkin juga kalau Tuan Lucio yang menggerayangi tubuhku, kakinya aja sakit, dia pasti nggak bisa naik ke atas."
Ya, Lucio lumpuh, itu fakta.
Tidak mungkin dia bisa diam-diam naik ke tangga, masuk ke kamarku, dan cepat-cepat kembali ke bawah tanpa suara.
"Udah ah ...," ujarku pada diri sendiri, bangkit dari tempat tidur. "Aku harus cuci muka dan kerja lagi! Tidur siangku udah cukup, lumayan lah 1 jam bisa tidur di tempat mewah begini."
Namun, ketika aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu, entah kenapa tengkukku terasa dingin.
Ada sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Seprai di sisi tempat tidurku tampak sedikit berantakan, seperti ada orang lain yang sempat duduk di sana. Padahal aku yakin, tadi aku tertidur di sisi kanan, tapi kini lekukannya tampak seperti bekas tubuh di sisi kiri.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menepis rasa takut yang mulai merayap.
“Pasti cuma ilusiku saja karena aku baru bangun tidur,” gumamku pelan.
Namun, ketika aku menurunkan pandangan, di lantai marmer dekat ujung ranjang, ada sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak sesaat — bekas jejak kaki telanjang.
Satu.
Dua.
Tiga langkah.
Jejak itu samar, seperti baru saja mengering, mengarah dari sisi ranjangku ke arah pintu.
Aku menelan ludah, dadaku tiba-tiba terasa sesak. “Tidak mungkin ...,” bisikku hampir tak terdengar.
Aku menatap jejak samar itu lagi, tapi sesaat kemudian jejak itu menghilang, seolah tersapu udara.
Aku bahkan sampai menunduk lagi untuk memastikan dan lututku terasa gemetar.
Kalau itu jejak kaki ... siapa yang masuk ke kamarku?
Dan kalau memang benar milik Tuan Lucio ... bagaimana itu bisa terjadi?
Bukankah dia lumpuh?
Aku memejamkan mata rapat-rapat. “Udah, Nadia! Cepat cuci muka! Tuan Lucio pasti sudah menunggu kamu!"
Dan setelah keluar dari kamar mandi, kutatap sekali lagi sekeliling kamar ini, memastikan tidak ada siapa pun, lalu aku menarik napas panjang dan berjalan menuju pintu.
Tapi siapa sangka, saat aku membuka pintu, udara dari koridor beraroma parfum pria yang samar tercium. Apalagi aroma ini sangat familiar bagiku, yaitu aroma yang sama seperti yang tadi menguar dari tubuh Lucio.
Aku memeluk diriku sendiri sambil berbisik, “Nggak, Nadia. Itu nggak mungkin!”
Dengan langkah mantap, aku turun dari tangga.
Begitu kakiku menyentuh lantai dasar, suara bariton yang dalam menyambutku, hingga membuatku sedikit terlonjak.
"Apa tidurmu nyenyak, Nadia?" Lucio duduk di kursi rodanya, dia menatapku dengan ekspresi datar yang sulit diartikan.
"Ya, Tuan," jawabku, berusaha menyembunyikan sisa-sisa kegugupan. "Saya sudah merasa lebih baik."
Bibirnya menarik senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Bagus, ayo kita bekerja lagi!"
"Baik." Aku mengangguk, dan mengikutinya masuk ke ruang kerja.
Dan di dalam hati, aku terus mencoba meyakinkan diri bahwa aku hanya bermimpi buruk di kamar mewah tadi. Tapi entahlah ... mengapa, saat berjalan di belakang Lucio, tubuhku terasa aneh?