Chapter 4. Lucio Devereux

1150 Words
POV LUCIO Aku melipat serbet linen itu dengan gerakan presisi, meletakkannya di samping piring porselen putih yang baru saja dihiasi sisa saus truffle. Sementara di seberang meja, Nadia masih sibuk dengan hidangan penutupnya, sebuah mousse cokelat gelap yang seharusnya membuat siapa pun rileks, tapi tidak dengan dia. Gadis itu terlalu sibuk mempertahankan formalitas, menjaga agar tatapannya tidak bertemu mataku. "Panggil Darian!" perintahku pada salah satu pelayan, suaraku tenang dan datar, seolah hanya meminta tambahan air putih. "Baik, Tuan." Pelayan itu bergerak cepat. Dan tak lama kemudian, Darian muncul dari balik pintu dapur, apron putihnya bersih sempurna. "Saya, Tuan Lucio?" Aku menatap Nadia sekilas, lalu beralih ke Darian. "Bagaimana?" tanyaku pelan, yang hanya bisa didengar oleh Darian. Darian mengangguk samar, sebuah kode yang hanya kami berdua pahami. "Sudah, Tuan. Dia tidak akan menyadarinya." Aku tersenyum di dalam hati. Rasa yang manis dan memabukkan, disajikan bersama dosis yang mematikan kesadaran. Sebuah metafora yang indah untuk situasi yang kuinginkan. "Bagus," ujarku, kembali pada intonasiku yang dingin dan kaku. "Pastikan tidak ada siapa pun yang mengganggunya di lantai dua." "Siap laksanakan, Tuan." Darian membungkuk dan menghilang kembali ke kerajaannya di dapur. Aku meminta Nadia beristirahat di kamar atas dan dia menurut. Kemudian, aku menunggu selama tiga menit. Tiga menit yang kuhabiskan hanya untuk mendengar suara langkah kaki Nadia yang memudar hingga benar-benar menghilang. Dan yakin, jika gadis itu telah terlelap sesuai dengan apa yang aku inginkan. Dengan gerakan yang jauh dari kesan lumpuh, aku menggerakkan bahu, meluruskan punggung, dan menghela napas panjang. Napas lega seorang aktor yang baru saja menyelesaikan babak pertama pertunjukannya. Aku menatap kursi rodaku. Benda sialan itu adalah penjara sekaligus perisaiku. Penjara yang mengurung kebebasan fisikku, tapi perisai yang melindungiku dari rasa iba dunia. Setelah puas menatap benda itu, aku naik perlahan menyusul Nadia. Aku mendorong pintu kamar itu, sangat pelan, memastikan bunyi derit engsel tidak mengganggu. Nadia terlelap. Obat Darian bekerja sempurna, melumpuhkan kesadaran gadis itu hingga ke dasar. Aku menatapnya dari ambang pintu selama beberapa detik. Kunci. Itu kata yang tepat untuk mendefinisikan gadis yang terbaring tak berdaya di atas ranjangku. Kunci yang membuka kembali pintu ke ruang gelap dalam diriku, yang selama ini kututup rapat-rapat. Aku melangkah masuk, adrenalin membungkam jeritan di dadaku yang bertalu. Rasa berdebar itu, betapa pun besarnya, terasa tidak berarti dibandingkan rasa penasaran yang menguasai. Aku berjalan pelan, mengamati detail kamar yang sunyi. Lalu, aku berhenti di sisi ranjang. Nadia terbaring miring, punggungnya menghadapku. Rambut hitamnya yang panjang terurai di atas bantal, dan napasnya terdengar halus dan teratur. Aku tidak hanya ingin menyentuh. Aku harus memastikan. Aku harus tahu seberapa jauh pengaruhnya. Dengan gerakan yang kaku, aku naik ke ranjang. Itu adalah pekerjaan yang sulit. Mengangkat tubuh kekarku tanpa menimbulkan bunyi berarti di ranjang yang mewah dan empuk ini membutuhkan konsentrasi penuh. Walaupun aku tahu, Nadia tidak akan bangun. Aku mengulurkan tangan perlahan, sampai akhirnya ujung jariku bisa menyentuh betisnya yang putih. Sialan, aku tegang seketika. Namun, rasa ini belum puas. Tanganku naik ke pinggulnya yang tertutup rok pensil — sentuhanku sangat ringan, nyaris tak terasa sampai-sampai aku menahan napas karena takut dia terbangun. Tapi, tidak ada reaksi darinya. Aku memperdalam sentuhan itu sedikit, membiarkan telapak tanganku menempel di kain rok, merasakan lekuk pinggulnya yang lembut. Hingga gelombang panas yang kuharapkan, yang kurasakan di kamar mandi, kembali hadir. Tapi kali ini, ia datang lebih kuat dan lebih mendesak. Gelombang itu mengalir, turun dari tangan, membanjiri seluruh tubuhku. Dan seketika, sensasi yang selama ini kurindukan, yang selama ini kukira sudah mati bersama dengan kecelakaan itu, kembali menghantamku. Milikku ... menegang. Kuat. Bukan hanya refleks, gairahku kembali. Aku menggertakkan gigi, memaksa diriku untuk tetap tenang. Amarah dan gairah bercampur menjadi satu rasa aneh yang membuat tenggorokanku tercekat. Nadia berhasil. Gadis mungil ini, di dalam tidurnya yang tak berdosa, berhasil melakukan apa yang tidak pernah bisa dilakukan oleh istriku selama ini. Dia bisa membuktikan bahwa inti tubuhku belum mati. Lalu, dorongan untuk memutar tubuhnya dan melanjutkan sentuhan ini terasa sangat kuat, hampir tak tertahankan. Ini adalah kesempatan sempurna dan aku yakin dia tidak akan ingat. Nadia akan mengira ini hanya mimpi. Namun, kendali diriku yang selama ini menjadi aset terbesarku kembali mengambil alih. Aku tidak bisa. Bukan sekarang. Ini bukan tentang memuaskan hasrat rendah, tapi ini adalah permainan kekuasaan. Aku menarik tanganku menjauh dari pinggulnya. Namun kemudian, sebuah dorongan terakhir yang tak terduga datang. Aku menggerakkan tanganku ke atas, melewati punggungnya yang tertutup kain blus, dan mendaratkannya di sisi lehernya. Aku menyentuh kulit lembut di belakang telinganya. Nadia mendesah lirih. Cukup lirih untuk membelai gendang telingaku yang sensitif. Apa dia menyukainya? Aku menggerayangi pelan, membelai rambut halus di tengkuknya. Itu adalah sentuhan yang intim, sentuhan yang penuh arti. Sebuah penanda bahwa aku sudah di sini, bahwa aku sudah memilikinya, meski dia tidak menyadari. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku menikmati sensasi kekuasaan ini sebentar saja. Kenyataan bahwa dia ada di sini, di bawah kekuasaanku, tak berdaya di sampingku, adalah ekstasi yang jauh lebih besar daripada kepuasan fisik sesaat. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, aku menarik tanganku. Sentuhan itu harus diakhiri, karena jika aku berlama-lama, aku akan kehilangan kendali. Dengan kehati-hatian yang sama, aku mengangkat tubuhku dari ranjang. Setiap gerakan terasa menegangkan, dan kali ini, rasa tegang itu bercampur dengan sesuatu yang mendesak dari kebangkitan kejantananku. Aku harus segera pergi. Aku berdiri di samping ranjang, menatapnya sekali lagi. Wajah imutnya tetap tampak damai. Aku lantas berbalik dan berjalan keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan. Begitu aku mencapai tangga, aku bergegas turun. Aku harus kembali ke singgasanaku. Aku harus kembali menjadi Lucio yang lumpuh, dingin, dan kaku. Dan saat aku berhasil sampai di kursi roda di ruang kerja, aku menjatuhkan tubuhku kembali ke dalamnya. Aku menatap pantulan diriku di jendela kaca besar. Sosok yang kaku, mata yang dingin, tapi ada api samar yang membakar di balik semua itu. Aku menyentuh celanaku. Ketegangan itu masih ada dan aku harus menunggunya mereda. “Sialan!” *** Tak terasa sudah pukul enam sore. Aku menggeser kursi roda menjauh dari meja kerja. Dan aku melihat Nadia buru-buru menutup laptop, aura kelegaan terpancar dari gerakannya. Aku tahu dia ingin cepat-cepat pergi, melarikan diri dari rumah ini, mungkin. Aku menatap layar besar yang menunjukkan ramalan cuaca. Badai besar akan datang. Sebuah alasan yang sempurna untuk menghentikan pelariannya. "Kau tidak akan pulang malam ini, Nadia," ujarku langsung, nadaku final dan tanpa kompromi. Matanya yang cokelat itu menunjukkan kepanikan saat melihat laporan cuaca, dan bibirnya sedikit terbuka, jelas akan mengeluarkan serangkaian protes atau permintaan izin. “Tapi, Tuan. Saya–” “Beristirahatlah di kamar yang kau pilih tadi. Darian akan menyiapkan baju ganti untukmu,” titahku memaksa. Nadia berdiri kaku selama beberapa detik, mungkin sedang mencerna bahwa dia jelas sudah tidak punya daya untuk melakukan kegiatan tawar-menawar denganku. Sampai akhirnya dia menunduk dan mengangguk sekali. "Baik, Tuan." Lalu berjalan keluar. Sementara aku hanya tersenyum tipis. Semesta sepertinya sedang bersekongkol dengan keinginanku saat ini. Badai ini telah menguncinya. Dan malam ini, aku akan melanjutkan permainanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD