Chapter 7. Nadia Angelica

1136 Words
POV NADIA “Aaaaaaaargh!!!” Aku menjerit, tapi semuanya tertahan di dalam bantal. Tubuhku terasa panas, dan jantungku rasanya belum berhenti berdetak cepat sejak aku masuk kamar. Tanganku. Tanganku. Tanganku barusan menyentuh— “OH TUHAN!” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. “Kenapa aku tadi begitu, sih!” Aku menggulingkan badan ke kanan, lalu ke kiri, lalu kembali menenggelamkan diri ke selimut seperti ulat kepanasan. Padahal aku tadi cuma mau ambilin selimut yang jatuh. Itu hal simpel kan, ya? Membantu bos yang sedang kesulitan itu memang kewajibanku. Tapi apa yang tadi kusentuh? Tanganku yang nakal ini malah menyentuh bagian yang seharusnya tidak kusentuh! Aku sampai memelototi telapak tanganku sendiri seperti itu benda paling berbahaya di dunia. “Aku bahkan bisa ngerasa … ngerasa kalau itu … ya itu … bukan … bukan ... anu ... yang tidak berfungsi seperti gosip di kantor.” Aku menghembuskan napas sangat pelan. Wajahku masih terasa panas. Di kantor, ada gosip yang sudah pasti semua divisi tahu kalau : “Tuan Lucio itu lumpuh dari pinggang ke bawah. Aku berani bertaruh, sudah pasti kejantanannya nggak berfungsi lagi. Kasihan dia, kaya raya tapi ... nggak bisa ngerasain kenikmatan dunia yang satu itu.” Aku percaya dengan gosip itu. Semua orang sudah pasti percaya. Tapi .… Tapi tadi aku … merasakan miliknya keras. Aku menggigit bibir bawahku. Sebenarnya itu bukan hal yang harus aku ingat-ingat. Tapi tubuhku jelas mengingatnya duluan sebelum otakku bisa memerintah untuk melupakan. Aku menutup wajahku dengan bantal lagi sambil bergumam, “Astaga, Nadia! Kamu kok bisa jadi m***m begini, sih? Sok yakin banget, padahal kamu masih perawan dan belum pernah pegang itunya cowok.” Tapi semakin aku berusaha mengusir pikiran mesumku ini. Yang ada malah semakin jelas bayangan Lucio di kepalaku. Bagaimana cara dia duduk di kursi roda dan bagaimana cara matanya menatapku ketika momen itu terjadi. Tatapannya itu bukan seperti orang yang sedang malu. Bukan pula tatapan orang yang tidak sadar. Tapi itu tatapan seseorang yang seolah sedang membuktikan sesuatu. Seolah-olah dia sedang bilang, "Aku normal, Nadia. Gosip di kantor itu salah." Aku refleks mengigit bibir bawahku. “Jangan bilang … dia tadi sengaja ngejatuhin selimutnya?” Aku mendengus kesal, menatap langit-langit gelap kamar yang luas ini. “Apa dia tegang karena aku?” Ya, itu adalah kemungkinan yang paling membuatku ingin menenggelamkan diri ke lantai sekarang juga. Kalau karena film kan nggak mungkin, orang kita aja nonton film animasi. Serius ... beneran nih karena aku? “Astaga!” Aku memukul pipiku. “Jangan GR! Jangan GR! Jangan GR!” Aku menarik selimut sampai ke leher, membungkus tubuhku erat-erat. “Aku harus tidur! Aku harus lupa!” *** Pagi hari, aku bangun dengan rambut acak-acakan dan hati yang berdenyut tak jelas. Setelah cuci muka — lebih lama dari biasanya — dan sikat gigi, aku akhirnya memaksakan diriku turun ke bawah. Langkahku terasa seperti langkah orang yang mau ke ruang interogasi polisi. Begitu aku tiba di ruang makan, ternyata dia sudah di sana. Lucio duduk di kursi rodanya, tubuhnya tegak, rambutnya rapi, memakai piyama warna hijau tua dan wajah serta expression nya tampak seperti biasanya, tampan, tenang, dingin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kita kemarin kemarin. “Pagi,” sapanya ramah dengan senyum tipis. “Apa semalam kau tidur nyenyak, Nadia?” Aku ingin menjawab, "Tentu saja tidak." Tapi itu hanya suara hatiku saja. Segera aku memaksakan diri untuk tersenyum manis. “Iya, Tuan. Kamarnya sangat nyaman.” Aku duduk, melihat menu sarapan yang sederhana untuk ukuran orang se-kaya Lucio. Ada roti panggang butter, telur orak-arik, salad sayur, buah potong dan tak ketinggalan, ada segelas s**u. Tapi rasanya aku seolah tidak makan apa-apa, selain makanan ini rasanya hambar, entah kenapa, tanganku malah gemetaran saat aku sedang memotong roti. Sementara Lucio? Dia sedang menyuap sarapannya dengan tenang. Tenang sekali. Sampai akhirnya mengangkat wajah dan menatapku. “Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Nadia?” Aku hampir saja tersedak. “T-Tidak! Sama sekali tidak! Aku hanya ... hanya rindu makan nasi saja. Anda tahu kan, aku orang Indonesia? Kalau belum makan nasi, ya sama aja belum dianggap sudah makan.” “Owh ... nasi, ya.” Dia mengangguk pelan. Suasana langsung jatuh hening. Aku hanya mendengar bunyi lembut sendok beradu dengan piring. Dan aku mencoba fokus pada sarapanku. Padahal, aku bisa merasakan detak jantungku di tenggorokan. Aku meminum s**u perlahan, seolah ingin mengulur waktu agar tidak perlu menatap wajahnya. Tapi begitu aku meletakkan gelas itu kembali ke atas meja— “Nadia.” Suara Lucio terdengar pelan, tapi tegas. Seperti biasa, tidak perlu meninggikan suara untuk membuatku langsung fokus padanya. Aku menoleh cepat, sampai kursi yang kududuki sedikit bergerak. “Y-ya, Tuan?” Dia menaruh sendoknya, ekspresinya masih tetap tenang, stabil, tidak menunjukkan emosi apa pun yang membuatku bisa menebak arah pembicaraan. “Setelah ini, bantu aku mandi!” Sendokku berhenti di udara. “Maaf, Tuan?” Lucio diam, tidak mengulang. Dia hanya menatapku, dengan tenang, mata birunya memancarkan aura dingin. Aku menegakkan dudukku, berusaha tetap sopan. “Maaf kalau saya lancang. Tapi, bolehkah saya bertanya?" "Apa?" Aku tersenyum semanis mungkin yang aku bisa. "Kemarin sore, siapa yang membantu Anda berganti baju?” “Darian.” “Dan siapa yang memakaikan piyama yang Anda pakai sekarang?” “Darian juga.” “Kalau begitu ....” Aku menarik napas perlahan, mencoba tetap tenang. “Lebih baik Anda menyuruh Darian saja.” “Dia datangnya siang,” jawabannya cepat, tanpa ragu. Aku mengangguk sekali. “Tidak masalah, Tuan. Saya tidak keberatan bekerja dengan Anda yang belum mandi dan dalam kondisi Anda masih memakai piyama itu.” Lucio mengangkat alisnya. “Kalau aku tetap memakai piyama ini ....” Suaranya merendah. “Maka kau juga harus tetap memakai baju itu.” Aku terdiam. “Kamh juga tidak boleh mandi.” Dia melanjutkan. “Anggap saja kita pesta baju tidur di ruang kerjaku.” Refleks aku memeluk tubuhku sendiri. Baju tidur ini masih terasa terlalu seksi. Apalagi bayangan kejadian semalam. Bisa-bisa kita nanti malah .... "Tidak! Setelah makan, saya harus mandi dan ganti baju. Saya nggak mau kerja pake baju ini!” Lucio menatapku, satu sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku juga mau mandi dan mau ganti baju. Dan kamu harus membantuku!” "Tuan ...." Suaraku nyaris bergetar. “Apa?” Nada suaranya tetap lembut, tapi dinginnya menusuk. “Kau berani membantahku, Nadia?” Aku terdiam. “Jadi ... kau siap kehilangan pekerjaanmu?” lanjutnya pelan. “Siap jadi gelandangan di negara ini? Atau ... sudah punya uang banyak buat beli tiket pulang ke Bali, hm?” Tubuhku menegang. Tanganku mengepal. Suasana sarapan terasa jauh lebih dingin dibandingkan badai semalam. Akhirnya, aku menunduk. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan membantu Anda mandi.” Tapi, di dalam hati aku berkata, "Lucio sialan! Awas saja kamu! Aku bersumpah! Aku akan mendorong kursi rodamu ke kolam renang! Akan aku buat kamu membayar kesombonganmu dasar pria lumpuh!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD