POV LUCIO
Aku tidak menyangka Nadia akan benar-benar mengenakan gaun itu.
Ketika dia muncul di ujung tangga, langkahnya ragu tapi terlihat sangat anggun. Kain satin biru itu memantulkan cahaya lampu di langit-langit seperti gelombang laut yang bergerak pelan. Dan untuk sesaat, aku lupa bagaimana caranya bernapas.
Pakaian itu.
Kainnya meluncur di sepanjang tubuhnya, mengikuti lekuk pinggul, jatuh dan terbuka rendah di belahan paha kiri. Talinya yang setipis spaghetti memamerkan bahu dan tulang selangka yang rapuh. Kain itu memeluk kulitnya, dan di baliknya, aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah.
Pemandangan itu ... adalah sebuah mahakarya. Sebuah risiko yang berani kuambil, kini terbayar lunas seketika.
Mataku menelusuri penampilannya sebentar, dari ujung rambutnya yang sedikit basah karena baru selesai mandi, turun ke bahunya, hingga ke kakinya yang jenjang, lalu kembali bertemu matanya. Ekspresi di wajah Nadia adalah campuran antara rasa malu, canggung, dan sedikit amarah yang terpaksa ditahan.
Mungkin, dia merasa terlalu 'seksi' untuk situasi ini.
Dan kenyataannya memang iya, dia sangat seksi dan membuatku ... b*******h
Aku menatapnya lama.
Cukup lama untuk membuatku sadar akan kesalahan itu. Namun, dia sepertinya tidak menyadarinya, atau pura-pura tidak sadar.
Gadis itu malah menunduk sedikit, menelan ludah, lalu menuruni tangga dengan hati-hati.
Aku menekan tombol kecil di sandaran kursiku, membiarkan mesin otomatisnya bergerak ke arahnya. “Ayo, ikuti aku!” Suaraku terdengar lebih berat dari biasanya, dan aku berharap dia tidak menyadarinya.
Ruang teater pribadi ini dulunya kubangun untuk membunuh kesepianku. Kini ruangan itu terasa berbeda … sampai malam ini tiba.
Saat lampu meredup dan layar menyala, aku menoleh ke arah Nadia. Cahaya dari layar menimpa wajah cantiknya, menyorot mata cokelat yang reflektif dan lembut. Dia tampak fokus pada film yang tadi dia pilih sendiri, tapi jemarinya tanpa sadar memainkan ujung selimut yang kusediakan.
Aku bersandar, mataku tidak fokus ke layar, tapi ke siluet tubuh Nadia yang tercetak jelas di kegelapan.
Dan dress satin yang dia kenakan membuat inti tubuhku semakin hidup.
Aku menontonnya.
Aku menonton bagaimana proses mata gadis cantik itu melebar saat melihat adegan lucu, lalu bagaimana saat bibir mungil nan penuhnya itu sedikit mengerucut saat tokoh utama disakiti, dan cara bahunya gemetar kecil saat tertawa pelan.
Astaga ... dia begitu menggemaskan.
Lucio Devereux, pria dingin yang bisa menghitung risiko perang bisnis dalam sepuluh detik, kini sibuk menghitung detak jantung sendiri.
Bodoh!
Aku menegakkan posisi dudukku, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Tapi, ketika Nadia menoleh, mungkin karena akhirnya dia bisa merasakan tatapanku, aku justru tidak sempat berpura-pura.
Tatapan kami bertemu di tengah cahaya film.
Dan entah kenapa, suara badai di luar terasa semakin jauh, semakin samar.
Yang tersisa hanyalah kami berdua, di ruangan yang hangat tapi terasa berbahaya.
Nadia duduk kaku.
Aku tahu, dia berusaha menyembunyikan belahan gaun satinnya dengan tangan, jelas sekali dia tidak merasa nyaman.
Sementara aku sesekali meliriknya, tapi sebagian besar fokusku adalah pada kakiku sendiri.
Aku merasakan ketegangan yang sama. Ketegangan yang berasal dari kebangkitan tak terduga yang kurasakan siang tadi. Aku harus memastikan bahwa dia adalah sesuatu yang stabil, bukan kebetulan semata.
Tepat di pangkuanku, ada selimut wol tipis. Selimut itu adalah bagian penting dari caraku menunjukkan kelemahan dan sensitivitas terhadap dingin.
Kemudian, saat adegan di layar mencapai klimaks emosionalnya, Nadia sedikit menggerakkan pandangannya ke sana, aku menggeser kakiku sedikit.
Sengaja.
Selimut wolku meluncur dari pangkuan, jatuh ke lantai di depan kursi rodaku.
Aku mendesah pelan, seolah frustrasi karena tidak bisa bergerak leluasa.
Aku menekuk pinggangku sedikit, tanganku terulur kaku ke bawah, memainkan peran sebagai pria yang lemah dan tak berdaya.
"Sial!" gumamku pelan, tapi aku memastikan Nadia bisa mendengarku.
Benar, sesuai target, Nadia langsung menoleh.
Ekspresi wajahnya adalah campuran simpati dan keengganan. Dia melihat pria lumpuh yang sedang berjuang melawan selembar selimut. Sebuah pemandangan yang mungkin baginya terlihat menyedihkan.
"Biar saya bantu, Tuan." Nadia beranjak dari sofa, berjalan ke arah kakiku yang terulur.
Dres satinnya bergesekan pelan saat dia bergerak. Lalu dia berhenti tepat di hadapanku, di antara kedua roda. Aku mendongak sedikit, mataku berpura-pura melihat wajahnya, padahal seluruh kesadaranku sudah tertuju ke bawah.
Dia harus berjongkok, karena belahan gaunnya yang tinggi, dia tidak bisa hanya membungkuk.
Sialan, dadaku malah bergetar tanpa alasan yang masuk akal.
Lututnya menyentuh lantai marmer dingin tepat di antara kakiku. Wajahnya berada di bawah tatapanku, begitu dekat, hingga aroma vanilla dan sabunnya menyeruak, bercampur dengan kehangatan tubuhnya.
Dia seperti sedang menyembahku.
Gaun satin biru gelap itu, kini direntangkan di depanku. Belahan gaun itu terbuka lebar, memperlihatkan pahanya yang mulus. Aku bisa melihat pantulan samar cahaya layar di kain tipis itu.
Bahkan, aku harus menahan napas ketika menatapnya. Mataku berpura-pura melihat kesulitan geraknya meraih selimut, padahal aku sedang melihat setiap detail lekuk tubuhnya yang berada dalam jarak kurang dari satu jengkal.
Tangannya yang canggung meraih selimut, mencoba melakukannya secepat mungkin. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang terpancar dari posisi jongkok itu, menembus kemeja hitamku.
Dan di bawah topeng 'lumpuh' yang kupakai, Milikku menegang.
Kuat dan brutal.
Ini bukan sekadar sentuhan.
Ini adalah kedekatan yang berbahaya, sebuah konfirmasi yang tak terbantahkan. Kepalanya yang menunduk, fokusnya yang terarah pada tugas bodoh ini, sementara seluruh tubuhnya tanpa sadar memamerkan kelemahan yang seharusnya dia sembunyikan.
Dia adalah obatnya.
Dan aku benar-benar membutuhkannya.
Dia meraih selimut itu dengan canggung, lalu saat dia mengangkatnya, berniat meletakkannya kembali di pangkuanku, gerakannya yang terburu-buru dan gugup mengacaukan perhitungan.
Dia mengangkat selimut terlalu tinggi.
Ujung tangannya, tepatnya jari-jari kanannya, tidak sengaja menyentuh milikku yang sudah sepenuhnya tegang di balik kemeja hitam dan celana trousers. Sentuhan itu singkat, hanya sepersekian detik, tapi jelas dan nyata.
Aku dan dia sama-sama tahu.
Nadia membeku.
Tangannya berhenti bergerak, memegang selimut di udara. Wajahnya yang tadi menunduk kini mendongak dengan cepat. Mata cokelatnya melebar sempurna karena terkejut. Napasnya tercekat, lolos perlahan dari bibirnya.
Aku melihat shock murni, diikuti oleh kengerian dan rasa malu yang luar biasa, membanjiri ekspresinya.
Dia tidak melihat kursi roda, tidak melihat selimut, tidak melihat film di layar.
Dia hanya melihat mataku.
Mata itu, mata yang sekarang dipenuhi rasa kaget dan permohonan maaf yang sunyi. Matanya meminta ampun, memohon agar aku tidak marah, memohon agar aku tidak menyadari, memohon agar sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku menatapnya balik.
Aku tidak bergerak, tidak berkedip. Expresi wajahku tetap dingin, tapi di balik itu, kesenangan liar mencengkeramku.
Sebenarnya, aku ingin dia merasakan milikku sekarang.
Aku membiarkan keheningan itu menggantung di antara kami, di mana rahasia besar telah terungkap dalam satu sentuhan tak sengaja.
Aku menikmati sensasi saat wajah Nadia semakin memerah, dan aku bisa melihat butiran keringat halus di pelipisnya.
Dia menunduk lagi, memutus kontak mata di antara kami, dan dengan tangan yang kini gemetar hebat, dia menyelesaikan tugasnya, meletakkan selimut itu di pangkuanku. Gerakannya kini lebih mirip lari ketimbang membantu.
Dia bangkit secepat kilat, nyaris menabrak lututku, dan kembali ke sofa.
Aku bisa mendengar napasnya yang tidak teratur, cepat dan pendek. Dia kini duduk di ujung sofa, punggungnya tegak, matanya terpaku pada layar, seolah hidupnya bergantung pada adegan film itu.
Sementara aku menyentuh selimut di pangkuan, merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh sentuhannya. "Nadia ... dasar gadis kecil yang nakal!"