POV NADIA Aku berlutut di lantai marmer yang dingin, jantungku berdebar tak karuan. Aku menjatuhkan foto bingkai perak dengan wajah seorang wanita cantik yang robek. Terobek dengan sengaja, hanya menyisakan separuh wajah yang tersenyum. Aku buru-buru memungutnya, tanganku gemetar. "Maaf, Tuan!" bisikku, panik. Aku merasakan tatapan dingin Lucio menusukku dari belakang. Aku tahu dia marah, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam dari kemarahan, sesuatu yang rapuh. "Selesaikan sisanya besok. Kembalilah ke ruang kerjamu. Dan lupakan apa yang kau lihat!" perintahnya dengan suara yang seperti biasa — datar dan dingin, yang menutup rapat setiap celah emosi. Aku cepat-cepat berdiri, meletakkan foto itu kembali ke dalam laci. Aku tidak berani menatap wajah Lucio. "Baik, Tuan." Lalu, aku bergega

