Langit sore di Bandara Soekarno-Hatta menyambut kedatangan seorang perempuan dengan langkah mantap dan sorot mata teduh. Ia mengenakan jaket tim Asia, membawa ransel kecil bertuliskan "Asian Youth Ambassador" dan menggenggam sebuah paspor yang mulai lelah menampung cap dari berbagai negara. Malda Miura akhirnya kembali ke Indonesia. Bukan lagi sebagai atlet semata, tapi sebagai duta inspirasi yang telah menyusuri benua—berbagi semangat, cerita, dan keberanian. Namanya kini dikenal tak hanya di arena atletik, tapi juga di kalangan pemuda-pemudi yang membutuhkan harapan baru. Namun senyumnya sore itu mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kemenangan. Ia membawa rindu. Rindu pada satu nama. Yulianto Atmaja. Miura melangkah keluar pintu kedatangan internasional. Puluhan awak media

