Matahari pagi Karimunjawa merambat naik dari balik cakrawala, memantul di riak air pantai yang tenang, menyinari hamparan pasir putih yang masih basah oleh embun. Angin semilir membawa aroma laut dan menyibak rambut Miura yang dibiarkannya tergerai alami pagi itu. Ia duduk di tikar bersama Yulianto dan Phoenix, menikmati sarapan ringan sambil memandangi putra kecil mereka yang tengah berlarian riang mengejar burung-burung camar. “Phoenix tuh kayak nggak pernah kehabisan tenaga,” gumam Yulianto sambil menyendok nasi goreng dari kotak bekal yang dibawa hotel. “Dia anakmu, jelas dong,” jawab Miura sambil tersenyum. “Darah Atmaja-nya kuat sekali.” Phoenix tiba-tiba melompat dari atas batu besar ke pasir, lalu berlari kembali ke arah mereka. Jarak loncatannya cukup jauh—dan bukan sekali dua

