Sore hari menyapu lembah Swiss dengan cahaya emas yang lembut. Matahari belum benar-benar tenggelam, dan langit seperti memberkati tempat itu dengan warna jingga dan biru muda yang membaur pelan. Tak ada satu pun dari peserta yang terlihat terburu-buru pulang. Tak ada mobil yang meraung. Tak ada shuttle hotel yang penuh. Semua orang seolah sepakat dalam diam: hari ini belum boleh usai. Lapangan rumput yang tadi menjadi jalur akhir lari kini berubah menjadi tempat piknik raksasa. Karpet-karpet tenun dari Maroko, kain batik dari Indonesia, tikar bambu dari Vietnam, dan permadani dari Turki dibentangkan berdampingan. Panitia lokal dari Swiss, yang sebagian besar adalah sukarelawan berusia lanjut, menyuguhkan cokelat hangat dan roti gandum buatan tangan. Mereka mengenakan pakaian khas tradisi

