Pagi itu, lembah di pegunungan Swiss seakan menghirup udara baru. Kabut tipis menggantung di atas rumput yang basah oleh embun. Udara sejuk, tidak menusuk. Angin berembus pelan seperti sedang menyapa setiap jiwa yang telah memutuskan hadir untuk satu hal yang melampaui segalanya: perdamaian. Tak ada teriakan, tak ada lagu kebangsaan dikumandangkan, tak ada sorak-sorai mengagungkan negara tertentu. Yang terdengar hanyalah derap kaki, tawa yang tulus, dan suara tenda-tenda kecil dibuka oleh tangan-tangan dari berbagai ras, agama, dan bahasa. Di sebuah sudut lapangan, Phoenix duduk di atas batu besar dengan botol minumnya. Ia sedang menunggu kedua orang tuanya, dengan sabar dan tenang. Di depannya, barisan pelari mulai berdatangan. Beberapa di antaranya mengenakan pakaian olahraga tradision

