Indonesia….. Yulianto duduk sendirian di mobilnya, tepat di tempat parkir favorit Miura—lantai dasar, pojok barat kafe Gelael, mall Ciputra. Tempat itu tak pernah berubah. Masih lembap dan temaram. Masih dihuni aroma samar kopi, dan kenangan yang enggan pudar. Dulu, Miura pernah menari kecil di tempat ini, hanya karena kakinya baru pulih dari cedera ringan. Waktu itu mereka tertawa tanpa beban, karena lagu “s**l” dari Mahalini tiba-tiba diputar dari mobil yang lewat. Kini, lagu itu kembali—mengalun dari radio mobil Yulianto, tapi terasa seperti pisau yang memutar lambat di dalam dadanya. “Tak kan kuterima cinta sesaatmu…” Yulianto menunduk, tangan kirinya mengepal di atas setir. Ia menahan napas, namun suara Mahalini menggema makin dalam. “Bagaimana dengan aku… terlanjur mencintaimu

