Bab 14

1504 Words
Ling Er dan Yumi melakukan rencana mereka untuk mengerjai Gavin. Mereka memasukkan obat pencahar ke dalam minuman yang dipesan pria itu. Tentu saja pria itu meminta Ling Er yang mengantarkan minumannya lagi. Gadis itu kembali masuk sambil membawa whisky pesanan Gavin. Kali ini pria itu tidak akan melewatkan kesempatan itu. Setelah menuangkan minumannya, Ling Er yang akan segera keluar dari ruangan itu langsung ditarik oleh Gavin sehingga tubuh gadis itu terduduk di sofa. "Cantik, jangan buru-buru. Aku akan memberikanmu uang tambahan asalkan kamu … bisa memuaskanku," ucap Gavin sambil memegang dagu Ling Er. 'Pria b******k seperti ini memang harus dimusnahkan, huh!' batin Ling Er kesal. Ling Er memasang senyum palsu di wajahnya dan perlahan melepaskan tangan pria itu dari wajah dan tubuhnya. "Baiklah, Tuan. Mari diminum dulu," ucap Ling Er dengan nada manja yang dibuat-buat. Ia merasa sendiri ingin muntah mendengarkan ucapannya sendiri. Gadis itu mengambil whisky yang telah dituangnya ke dalam gelas dan menyodorkan gelas itu ke bibir Gavin. Tanpa menaruh curiga, Gavin pun meneguk whisky di gelas itu sampai habis. Gavin meletakkan gelas kosong ke atas meja. Ia kembali menarik tubuh Ling Er mendekat, tetapi gadis itu kembali menghindarinya dan menuangkan kembali gelas kosong itu dengan whisky. Gadis itu kembali menyodorkan gelas itu kepadanya. 'Dasar gadis bodoh! Dia pikir dengan aku mabuk, dia bisa lari. Huh aku tidak akan membiarkanmu pergi!' batin Gavin yang sudah membaca rencana Ling Er. Ia tidak tahu bahwa minumannya telah dicampur kali ini. Setelah meminum tiga gelas, Gavin mulai melancarkan aksinya. Ia menarik tubuh Ling Er sehingga gadis itu terbaring di atas sofa. Ia mulai melakukan serangannya pada wajah gadis itu, tetapi dengan cepat Ling Er menghindarinya. 'Kenapa obatnya tidak bereaksi sama sekali? Apa Yumi membohongiku?' batin Ling Er yang sudah ketakutan dengan kondisinya yang terjepit saat ini. Ling Er mendorong tubuh Gavin dengan sekuat tenaga hingga pria itu terjatuh dari sofa. Ia pun segera berlari keluar sambil melihat ke belakang. Pria itu ternyata masih berusaha berdiri untuk mengejarnya. Tubuh Ling Er menabrak seorang pria yang saat itu melewati ruangan Gavin. Pria itu dengan sigap menahan tubuh Ling Er agar tidak terjatuh. Ia menarik lengan Ling Er sehingga wajah gadis itu terjatuh di dadanya. Ling Er mengerjapkan matanya beberapa kali. Aroma musk menyelusupi hidungnya saat ini. 'Aroma ini ….' Ling Er pernah mencium aroma tubuh itu. Ia menengadahkan wajahnya dan matanya membulat menatapnya. Begitu juga dengan pria itu yang menunjukkan ekspresi yang sama dengannya. "Yang mulia?" gumam Ling Er pelan, tetapi masih terdengar oleh pria itu yang tidak lain adalah Alex. Kedua alis mata Alex bertaut. Ia pun mengernyitkan keningnya. 'Kenapa gadis ini terus memanggilku seperti itu? Dan apa yang dia lakukan di tempat seperti ini?' Mata Ling Er berkaca-kaca menatap pria di depannya saat ini. Kerinduan yang begitu mendalam terpancar dari kedua maniknya. Alex menatap mata Ling Er yang tertuju padanya. Dirinya merasakan hal yang sama terhadap gadis itu. Hatinya terenyuh melihat tatapan gadis itu. 'Kenapa dadaku terasa sakit melihat tatapan mata itu? Aneh sekali!' Alex memalingkan wajahnya dari Ling Er. Ia tidak berani menatapnya lama. Ia pun melepaskan lingkaran tangannya di pinggang gadis itu. "Dasar wanita sial!" umpat Gavin yang sudah berhasil mengejar Ling Er dengan bersusah payah. Gavin menahan perutnya yang terasa sakit karena reaksi obat yang mulai bekerja. Ling Er tersenyum puas melihat Gavin yang mulai merasakan reaksi obat yang ia berikan. 'Huh, rasakan itu pria b******k!' umpat Ling Er di dalam hati. 'Aku mungkin bisa memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Alex,' batin Ling Er lagi. Ling Er pun mencengkram lengan Alex dengan erat dan berdiri sedikit ke belakang punggung pria itu. Alex menatap ke arah Gavin dengan heran dan berbalik menatap gadis di sebelahnya yang telah bersembunyi di belakangnya. "Tolong aku," bisik Ling Er pelan di balik punggung Alex. Alex menghela nafas pelan. Ia mendapati Gavin yang sudah berada di depannya dan menarik tangan Ling Er dengan kasar. Alex mencekal tangan Gavin dan memelintir tangannya sehingga membuat pria itu meringis. "Auww … Lepaskan Alex! Ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur!" teriak Gavin kesal sambil menahan sakit. Alex menyeringai dan melepaskan Gavin sembari menghentakkan tangannya sehingga membuat saudaranya itu tersungkur di lantai. Gavin berbalik dan menatap Alex dengan tajam. "Alex!" teriak Gavin dengan geram. "Tentu saja aku harus ikut campur, Gav. Kamu sudah berani menyentuh wanitaku. Apa aku tidak boleh memberimu sedikit pelajaran?" balas Alex dingin. Gavin membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Alex. Ia menyeringai dan beranjak dari lantai. "Kamu kira aku percaya, hah? Bukankah pacarmu si Angel itu. Ah iya … aku lupa. Lamaranmu ditolak ya?" sindir Gavin tersenyum sinis. Rahang Alex mengeras mendengarkan cibiran Gavin. Ia mengepalkan tangannya erat. 'Dari mana ia mengetahuinya?' batin Alex heran. Pasalnya tidak ada yang mengetahui hal itu, selain Rey dan Mark. Ling Er terkejut mendengar penuturan Gavin. Hatinya terasa sakit mendengar Alex mencintai wanita lain, tetapi di lain sisi ia juga bingung menghadapi pria itu. 'Apakah Alex memang bukan orang yang sama dengan Qi Feng? Kalau memang bukan, kenapa hatiku bisa merasakan sakit ketika mendengar dirinya mencintai wanita lain?' batin Ling Er. Ling Er mengenggam erat kepalan tangannya, menahan sakit di dadanya. "Ada apa ini?" tanya Madam Liu menyela aksi Alex yang sudah menarik kerah kemeja Gavin. Alex melepaskan kemeja Gavin dan mengurungkan niatnya untuk membuat keonaran di tempat itu. Ia mendengus kasar. "Madam Liu, sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepadanya apa yang baru saja ia lakukan terhadap wanitaku," jawab Alex sambil merangkul pundak Ling Er. Ling Er terkesiap dengan tindakan Alex yang tiba-tiba. Begitu juga dengan Madam Liu, ia tidak menyangka karyawan barunya adalah kekasih dari Alexander Matthew Kim. Madam Liu jadi salah tingkah. Ia bingung menghadapi dua Kim bersaudara itu. "Aduh Tuan Muda Kim, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Xiao Ling adalah kekasihmu, kalau tahu saya tidak akan menerimanya di sini," ujar Madam Liu merasa bersalah. 'Xiao Ling?' Alex mengerutkan keningnya dan berbalik menatap Ling Er yang menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Alex. Pria itu menghela nafas pelan. Ia menebak kalau gadis itu sudah membohongi Madam Liu. "Kalau begitu, saya boleh kan membawanya pergi?" tanya Alex datar. "Ah iya. Tentu saja Tuan Muda Kim. Silahkan, silahkan …." balas Madam Liu cepat. Alex menarik tangan Ling Er dan meninggalkan tempat itu. Madam Liu menghela nafas lega dan mengusap keningnya yang sudah berkeringat dingin. Ia berbalik melihat Gavin yang sudah menatapnya tajam. Wanita itu menelan salivanya dengan bersusah payah, kemudian tersenyum lebar. "Tuan Gavin, saya akan menyiapkan minuman dan nona untuk menemanimu, bagaimana?" tawar Madam Liu berharap Gavin tidak mencari masalah. Gavin ingin membalas ucapan Madam Liu dengan pedas, tetapi saat ini perutnya tidak dapat bekerja sama dengannya. Ia merasakan lilitan perutnya yang memintanya untuk segera dituntaskan. Dengan jalan terseok-seok karena menahan sakit, Gavin mencari toilet dan meninggalkan Madam Liu yang terheran-heran. Madam Liu hanya menggedikkan bahu dan menghela nafas lega melihat kepergian Gavin yang tidak menghiraukan tawarannya. "Alex! Xiao Ling! Awas kalian berdua!" teriak Gavin histeris sambil membuang hajatnya dan menahan sakit di dalam perutnya. *** Alex mengenggam tangan Ling Er sampai keluar dari bar itu dan melepaskannya. Ia berbalik menatap gadis itu. "Kenapa kamu bekerja di sana? Apa kamu tidak tahu kalau seorang gadis sepertimu berbahaya berada di tempat seperti itu? Apalagi dengan …." Ucapan Alex terhenti melihat pakaian yang dipakai Ling Er saat ini. Ia menelan salivanya dengan pelan dan memalingkan wajahnya. Pria itu menghela nafas pelan, lalu membuka jas yang dipakainya dan memakaikannya di pundak Ling Er untuk menutupi tubuh gadis itu. "Terima kasih, Yang Mulia," ucap Ling Er tersenyum tulus. Ia menatap wajah Alex dengan lembut. "Stop memanggilku dengan sebutan itu. Panggil aku Alex atau kamu mau aku masukkan ke rumah sakit lagi?" ancam Alex yang merasa risih dengan sebutan yang diucap Ling Er. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Hatinya merasa sedih mendengar ucapan Alex. Cairan bening di sudut matanya kembali terkumpul dan kali ini lolos begitu saja membasahi pipinya. 'Ternyata dia bukanlah Yang Mulia. Aku sungguh bodoh. Bagaimana bisa Yang Mulia ada di sini sekarang setelah beribu-ribu tahun kemudian?' Ling Er merasa kecewa dan sedih. Padahal beberapa detik yang lalu ia merasakan kelembutan yang sama yang biasa diberikan Qi Feng kepadanya, tetapi detik berikutnya harapannya itu hancur berkeping-keping. "Ma-maaf … Aku bukan ingin menakutimu. A-aku hanya … haish!" Alex menarik tubuh gadis itu dan memeluknya. Entah kenapa ia merasa ia harus melakukan itu. Ia tidak ingin melihat gadis itu menangis. 'Apa yang aku lakukan sekarang? Seperti bukan diriku saja!' batin Alex merasa aneh dengan dirinya. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan meminta maaf kepada gadis itu lagi. Ling Er mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan, kemudian mengusap air matanya dan tersenyum sedih. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Seharusnya aku tahu kalau kamu bukanlah dia. Maaf …." ucap Ling Er lirih. "A-aku ke dalam dulu untuk berganti pakaian," tutur Ling Er dan beranjak pergi meninggalkan Alex yang mematung mendengarkan penjelasan gadis itu. Alex menatap punggung gadis itu yang kembali masuk ke dalam bar. "Dia? Siapa maksudnya?" gumam Alex pelan. Ada setitik rasa cemburu di dalam hatinya. Ia mengusap wajahnya kasar. Tanpa mereka ketahui, tidak jauh dari Alex berdiri, ada sebuah sorotan kamera yang terus mengambil gambar mereka sejak tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD