Bab 13

1337 Words
Ling Er menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia sudah berganti pakaian dengan seragam waitress bar yang sedikit terbuka menurutnya. Baju atasan yang sedikit ketat dengan belahan yang terlalu turun di bagian dadanya dan rok mini yang menampilkan pahanya. Ia menelan salivanya kasar. "Apa harus berpakaian seperti ini keluar?" gumam Ling Er pelan. "Ya tentu saja. Kalau kamu tidak mau, kamu bisa melepaskannya dan keluar dari bar ini," balas seseorang di belakangnya. Ling Er menoleh dan terkejut dengan kehadiran Yumi di sana. "Yumi? Kamu kok bisa—" "Kenapa? Gak boleh aku di sini?" sela Yumi ketus. Ling Er menggeleng pelan. "Bukan begitu. Aku hanya sedikit kaget saja," balas Ling Er dengan ramah. "Kalau kamu tidak bisa menghadapi para tamu dengan pakaian seperti itu, lebih baik kamu keluar dari pekerjaan ini. Memang kita bukan menjual tubuh, tetapi di tempat seperti ini, para tamu hidung belang itu akan membeli minumanmu asal kamu sedikit bersikap manis di depan mereka," jelas Yumi ketus. Ling Er tersenyum getir mendengarkan penjelasan itu. Ia melihat Yumi yang juga ikut berganti pakaian seperti dirinya. Sebenarnya Yumi juga sama seperti dirinya, mengambil pekerjaan itu untuk memenuhi perkenomian keluarganya. "Apa Tante tahu kamu bekerja di sini?" tanya Ling Er dengan hati-hati kepada Yumi. Yumi menatapnya tajam dengan wajahnya yang masam. Ling Er menghela nafas pelan. Tidak perlu dijawab, ia sudah tahu jawaban dari tatapan membunuh yang diberikan gadis itu kepadanya. "Maaf. Tenanglah. Aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun asal …." Ling Er menggantungkan ucapannya dan tersenyum manis kepada Yumi. "Asal apa?" tanya Yumi tidak sabaran. "Asal kamu mau berteman denganku," jawab Ling Er cepat dan tersenyum lebar. Yumi berdecak sebal mendengarkan jawaban Ling Er. Ia tidak menjawab ataupun menolak permintaan Ling Er. Gadis itu masih bersikap acuh tak acuh seperti biasanya dan melenggang pergi dari ruang ganti meninggalkan Ling Er yang menatapnya dengan senyuman. Ling Er ingin berteman dengan Yumi. Ia tahu Yumi sebenarnya adalah seorang gadis yang baik hanya saja ucapannya saja yang terkadang berbanding terbalik dengan perasaannya. Sebenarnya Ling Er tidak ingin bersikap tidak sopan dengan membaca pikiran seseorang tanpa seijin mereka, tetapi Ling Er harus tahu siapa lawan atau teman di dunia yang terasa asing baginya. Ia harus berhati-hati. Gadis itu tidak ingin kejadian dulu menimpanya kembali. Ketika ia mati diracuni waktu itu tanpa tahu siapa dalang di balik kejadian itu. "Semangat Ling Er. Kamu pasti bisa!" ucap gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Ia pun berjalan keluar dari ruangan itu bersiap dengan pekerjaan barunya. *** "Sial! Apa-apaan dia seenaknya memutuskan kontrak kerjasamanya tanpa memberitahuku!" umpat Gavin sambil melempar gelas yang berada di tangannya sehingga membuat serpihan gelas kaca itu berhamburan di lantai. "Sabar, Bos. Kita akan membalas perbuatannya kembali nanti," ucap Dennis Lu, asisten Gavin. "Sabar, sabar! Mau sampai kapan aku musti bersabar? Apa aku harus diam diinjak seperti ini terus?" sahut Gavin semakin kesal dengan ucapan Dennis. Dennis hanya bisa menghela nafas pelan dan diam dengan kemarahan Gavin yang dilampiaskan kepadanya. Ia sudah lama bekerja di bawah Gavin dan sudah terbiasa dengan sifat emosional atasannya itu, wajahnya tersenyum tipis menanggapi amarah Gavin, tetapi di lain sisi ia mengepalkan tangannya dengan erat dan memiliki pemikirannya sendiri. "Pesankan aku minuman lagi!" perintah Gavin. Dennis segera beranjak dan memanggil pelayan yang berada di luar ruangan VIP mereka. Pelayan itu adalah Ling Er. Ling Er segera memenuhi permintaan Dennis dan berjalan ke ruangan VIP yang ditunjuk Dennis sambil membawa gelas dan whisky pesanan Gavin. Ling Er mengetuk pintu ruangan itu. "Masuk!" teriak Gavin. Ling Er masuk ke dalam ruangan dan sedikit terperanjat melihat keadaan ruangan yang sedikit berantakan dengan serpihan gelas kaca di lantai. Ia mendapati Gavin yang sedang menyelonjorkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua kaki menyilang di atas meja. Ling Er setengah berjongkok di depan meja itu, meletakkan nampannya dan menuangkan whisky yang ia bawa ke dalam gelas kosong. Ia meletakkan gelas tersebut di atas meja. "Ini pesanan Anda. Silahkan dinikmati minumannya, Tuan," ucap Ling Er dengan ramah. Gavin membuka matanya perlahan. Ia terkesima melihat seorang gadis yang begitu cantik di depannya saat ini. Kecantikan yang begitu natural terpancar dari gadis itu saat ini. Pandangan matanya tertuju ke arah belahan d**a gadis itu. Ia tersenyum menyeringai melihatnya. Pria itu menurunkan kedua kakinya dari atas meja dan beranjak dari duduknya. Ling Er juga berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya untuk segera pamit dari ruangan itu. Gavin mencekal pergelangan tangan Ling Er menahan langkah gadis itu. Ling Er menoleh menatap pergelangan tangannya. 'Pria ini mau apa?' Ling Er menautkan kedua alisnya. Menelan salivanya dengan pelan ketika mendengar suara hati pria itu yang ingin berbuat m***m kepadanya. 'Dasar pria m***m! Berani sekali dia berpikiran untuk menyentuhku!' Ling Er menarik tangannya dari cekalan Gavin. Ia tersenyum tipis menanggapi pria itu. "Maaf Tuan. Apa masih ada yang kurang?" tanya Ling Er berusaha bersikap sopan. Ia tidak ingin membuat keributan di hari pertamanya bekerja. "Tentu saja tidak ada, Cantik. Aku hanya ingin kamu menemaniku minum sebentar," balas Gavin dengan tersenyum menyeringai. Wajah mesumnya tercetak dengan jelas di sana. "Kalau begitu saya akan meminta Madam Liu untuk memanggil beberapa nona untuk menemani Anda minum, Tuan," timpal Ling Er yang berusaha menghindari Gavin. Ia segera beranjak dari ruangan itu secepat mungkin. Gavin berdecak kesal mendapati gadis itu yang berhasil menghindarinya, tetapi sedetik kemudian senyum seringainya kembali terukir di bibirnya. "Kamu bisa berhasil kabur hari ini, tetapi tidak untuk lain kali, Nona," gumam Gavin sambil menggigit bibir bawahnya dengan berbagai pikiran mesumnya yang ingin ia perbuat terhadap gadis itu kelak. Ling Er menghela nafas lega setelah berhasil kabur dari ruangan itu. Ia berharap tidak akan bertemu dengan tamu itu lagi kelak, tetapi kemungkinan itu sangat kecil selama ia masih bekerja di sana. Gadis itu sedikit terperanjat ketika pundaknya ditepuk dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Yumi yang menatapnya dengan heran. "Kamu kenapa? Seperti habis melihat setan," ledek Yumi mendapati ekspresi Ling Er yang melihatnya dengan takut. Ling Er mengelus dadanya pelan. Hampir saja jantungnya berpindah tempat tadi. Ia berpikir Gavin mengejarnya. "Ti-tidak … tidak apa-apa. Aku pikir pria m***m itu mengejarku," tutur Ling Er. "Pria m***m? Yang di ruangan itu?" Yumi menunjuk ruangan VIP yang baru dimasuki Ling Er. Gadis itu mengangguk dan menceritakan sekilas kejadian Gavin yang memintanya untuk menemaninya minum. Wajah Yumi terlihat kesal mendengar cerita Ling Er. "Bagaimana kalau kita sedikit mengerjainya?" timpal Yumi dan membisikkan rencananya di telinga Ling Er. Ling Er mengangguk dan tersenyum puas. *** Nyonya Anita berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Ia melirik kembali jam dinding di ruangan itu. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Raut kecemasan menyelimuti wajah dan pikirannya sekarang. "Ke mana sih itu anak? Malah gak angkat telepon lagi," gumamnya cemas sambil meremas ponselnya. "Apa aku minta tolong Rey saja ya?" Nyonya Anita menimang-nimang untuk meminta bantuan Rey. Ia memegang kartu nama yang sempat diberikan Rey ketika di rumah sakit, di sana tertera nomor kontak pria itu. Ia merasa tidak enak terus merepotkan Rey, tetapi sekarang ia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuannya. Nyonya Anita pun segera melakukan panggilan keluar ke nomor kontak Rey. "Halo," sapa Rey di seberang. Pria itu sedikit heran dengan nomor asing yang menghubunginya. "Halo, Nak Rey. Ini Tante Anita." "Oh iya, ada apa Tante?" Wajah Rey sedikit sumringah mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini, tetapi kedua alisnya bertaut. 'Apa ada yang tidak beres dengan Sierra?' batin Rey merasa cemas. "Begini Tante mau minta tolong kamu …," jelas Nyonya Anita tetapi ia merasa sungkan. "Katakan saja, Tante," ucap Rey mencoba untuk tetap tenang. "Begini … Sierra tadi pagi keluar sendiri. Katanya dia mau mencari pekerjaan. Tante sudah larang, tapi anaknya keras kepala dan … dan sekarang dia belum pulang. Tante telepon pun tidak diangkat. Tante takut dia kenapa-kenapa," jelas Nyonya Anita dengan suara sedikit terisak. Rey kembali menautkan kedua alisnya mendengarkan penuturan Nyonya Anita. "Tante, saya akan mencari Sierra. Tante tenanglah. Tunggu kabar dariku," ucap Rey, kemudian menutup teleponnya. Rey segera menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja kerjanya dan keluar dari kantornya. Ya, saat ini pria itu masih berada di kantor mengerjakan dokumen-dokumen yang harus ia siapkan besok, tetapi ia tidak peduli lagi dengan pekerjaannya itu sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD