Selesai makan, Ling Er segera menghampiri ibu Yumi di dapur. Ia melihat perempuan itu yang sibuk menyiapkan bahan makanan.
"Tante," panggilnya membuat wanita itu menoleh.
"Ah, kamu. Sudah selesai makan? Mangkuknya letak di sana saja," ucapnya sambil menunjuk beberapa tumpukan mangkuk yang belum dicuci.
Ling Er pun meletakkan mangkuknya di tempat itu dan ia pun mengambil sarung tangan karet di dekatnya, memasangnya ke tangannya dan berinisiatif untuk mencuci tumpukan mangkuk kotor itu.
"Sudah, Nak. Gak usah dicuci. Nanti biar Yumi saja yang cuci," ucap ibu Yumi dan mengambil mangkuk yang berada di tangannya.
"Tidak apa-apa, Tante. Anggap saja ini sebagai pembayaran saya atas makanan tadi," balas Ling Er dan mengambil mangkuk dari tangan ibu Yumi kembali. Ia pun meneruskan kegiatannya.
"Baiklah, terserah kamu," ucap ibu Yumi dan melanjutkan menyiapkan bahan-bahan makanan.
Siang itu, Ling Er membantu pekerjaan Nyonya Lie alias pemilik warung makan tempat ia mengisi lapar. Semua ia lakukan hanya untuk membalas budi kebaikan Nyonya Lie.
Tanpa terasa hari pun sudah menjelang sore. Ling Er segera pamit dari tempat itu. Ia takut ibunya mencemaskannya di rumah.
"Tante, saya permisi dulu ya. Terima kasih atas makananmu siang ini," ucap Ling Er.
"Tunggu sebentar," sela Nyonya Lie seraya menghampiri Ling Er. "Ini untukmu."
Nyonya Lie menengadahkan telapak tangan Ling Er dan meletakkan dua lembar uang dua puluh yuan di atas telapak tangannya.
"Ah, ini …."
Ling Er menatap lembaran uang kertas itu dan berbalik menatap Nyonya Lie.
"Ini gaji untukmu hari ini," jawab Nyonya Lie.
"Tidak, Tante. Saya tidak bisa mengambil uang ini. Saya sudah diberikan makan secara cuma-cuma di sini saja sudah bersyukur. Sebaiknya uang ini dipakai buat keperluan warung makan ini," tolak Ling Er secara halus. Ia pun mengembalikan uang itu kepada Nyonya Lie.
Nyonya Lie tersenyum melihat kebaikan gadis itu. Baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang tanpa pamrih seperti gadis itu, yang telah sangat jarang ia temukan di dunia yang penuh dengan keserakahan dan keegoisan.
"Baiklah. Tante tidak akan memaksamu. Semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang cocok untukmu," ucap Nyonya Lie sambil menepuk lengan Ling Er dengan pelan.
Ling Er mengangguk dan segera pamit dari tempat itu. Ia menatap Yumi yang saat itu kebetulan menatapnya, gadis itu memalingkan wajahnya. Ling Er tersenyum melihat tingkahnya. Ia tahu Yumi bukanlah orang yang tidak punya hati, gadis itu hanya ingin membantu warung milik ibunya agar berkembang.
Sikap Nyonya Lie yang dermawan seringkali disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin mengambil kesempatan untuk makan gratis di warung itu membuat Yumi mau tidak mau harus berlaku sedikit kasar.
'Hari ini aku gagal mendapatkan pekerjaan. Semoga besok aku bisa mendapatkannya.'
Ling Er memandangi langit yang sudah berwarna kuning kemerahan dan memulai perjalanannya kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, gadis itu melewati sebuah bar yang yang saat itu masih belum memulai operasinya. Ia menautkan kedua alis matanya melihat sebuah pamflet yang cukup besar di pintu besar bar itu. Di sana tertulis sedang mencari karyawan untuk pekerjaan seorang pelayan dan penjual minuman.
Ling Er merasa tertarik dengan lowongan pekerjaan itu, apalagi penghasilannya lumayan besar dan tips apabila berhasil menjual beberapa minuman kepada pengunjung. Ia pun masuk ke dalam bar yang bertuliskan "Moonlight Club".
"Sebenarnya ini restoran apa ya? Kenapa penerangannya minim sekali?" gumam Ling Er yang mengira itu adalah tempat makan pada umumnya.
"Permisi, apa ada orang?"
Ling Er melongo ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang yang bisa ia tanyakan hingga akhirnya seorang wanita berusia sekitar empat puluhan dengan pakaian yang sangat seksi keluar dari sebuah ruangan. Ia mengernyitkan keningnya melihat kehadiran Ling Er, perlahan senyumannya mengembang.
"Ada yang bisa saya bantu, gadis kecil?" tanyanya dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Ah begini Tante, saya ke sini mau menanyakan lowongan pekerjaan yang ditempel di depan," jelas Ling Er.
Wanita itu melihat Ling Er dari atas rambut hingga ke kepala, kemudian manggut-manggut dan tersenyum lebar.
"Baiklah, kebetulan lowongan itu masih ada. Kamu bisa mulai bekerja hari ini," ucap wanita itu lugas membuat Ling Er sedikit kaget tak percaya.
Wanita itu mengira Ling Er mengajukan untuk lowongan nona penghibur yang tertulis di bawah pengumuman itu. Nona penghibur di bar itu adalah sebagai teman minum para tamu-tamu yang datang.
'Aneh, kok gak ada wawancara segala macam. Apalagi langsung disuruh masuk sekarang,' batin Ling Er curiga.
Wanita itu menarik pergelangan tangan Ling Er untuk mengikutinya ke dalam.
'Gadis kecil ini sungguh cantik dan tampaknya begitu polos. Para tamu pasti bakal suka yang seperti ini,' batin wanita itu membuat Ling Er terkejut dan menepis tangannya.
'Celaka! Apa dia mau menjual diriku?' batin Ling Er panik.
"Ada apa?" tanya wanita itu yang kaget dengan sikap Ling Er yang menghindar.
"Tante, maaf saya mau melamar pekerjaan untuk pelayan bukan untuk menjual tubuh," protes Ling Er cepat. Ia segera mengatup mulutnya rapat karena keceplosan mengatakan hal yang ada di pikiran wanita itu.
Wanita itu menautkan kedua alisnya heran, kemudian tertawa kecil. "Ah ya ampun, aku pikir … ya sudahlah. Tapi saya di sini tidak menjual wanita lho. Kamu jangan berpikiran buruk, kalau pun ada tamu yang berperilaku senonoh dan kelewatan saya akan mengusirnya. Yah kecuali mereka melakukannya di luar barku … aku tidak bisa berbuat apa-apa,"ucapnya menjelaskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi.
Wanita itu sedikit kecewa dengan penolakan Ling Er, tetapi dia tidak memaksanya.
"Baiklah, sesuai ucapanku tadi, mulai bekerja malam ini. Pekerjaanmu itu menawarkan dan membawa minuman-minuman yang dipesan oleh tamu. Pelajari dulu jenis-jenis minumannya. Sebentar lagi bar kita akan mulai beroperasi. Bersiap-siaplah," jelas wanita itu dan memanggil seorang pria muda yang sedang berada di meja bartender.
"Kamu bisa menanyakan pada Kelvin untuk nama-nama minuman itu. Dia bartender kita di sini," ucap wanita itu lagi sambil menepuk pundak Kelvin yang sudah berada di dekatnya.
Ling Er mengangguk paham dan tersenyum kepada pria berambut pirang yang bernama Kelvin itu. Kelvin hanya tersenyum tipis.
"Ah satu lagi. Jangan panggil saya Tante, tapi panggil saya Madam Liu, oke? Namamu siapa gadis kecil?" tanya wanita yang menyebut dirinya Madam Liu.
Ling Er terdiam sejenak dan berpikir untuk tidak menggunakan identitas Sierra di tempat seperti ini. "Xiao Ling. Panggil saya Xiao Ling saja, Madam Liu."
"Hm … nama yang sedikit kuno, tapi cocok denganmu," timpal Madam Liu tersenyum tapi tidak bermaksud menghina. Ia pun meninggalkan Ling Er dan Kelvin.
Kelvin pun mengajak Ling Er ke meja bartender dan menjelaskan semua jenis minuman yang ada di tempatnya. Dalam waktu setengah jam saja, Ling Er sudah menghafal semua nama minuman di bar itu.
Kelvin sedikit takjub dengan kejeniusan gadis di depannya saat ini. Pasalnya dia saja butuh waktu satu hari untuk mengingat semua nama minuman keras yang cukup rumit bahasanya.
"Baiklah, kamu pergi berganti pakaian dulu. Di sana ada ruang ganti," ucap Kelvin seraya memberikan seragam waitress dan menunjukkan letak ruang ganti kepada Ling Er.
Gadis itu mengangguk dan berjalan menuju ruang ganti.