Marsha memijit keningnya ketika denyutan di kepalanya semakin menjadi. Ia pun berulang kali berhenti melakukan pekerjaannya untuk sekedar memijit pangkal hidungnya sampai ke dahi, bermaksud agar sakit kepala yang dideranya mereda. Fokusnya pada pekerjaan pun tak seperti biasanya, satu bab pun belum selesai ia edit di waktu yang menunjukkan hampir masuk jam makan siang. Pikirannya tengah melayang, tertuju pada seseorang yang pergi tanpa pamit, seseorang yang tanpa sengaja ia lukai. Rasa takut hinggap di hatinya diiringi rasa gelisah yang ikut tiba-tiba hadir. Ia pun bersandar pada sandaran kursi dan menatap langit-langit kantornya. Ada yang menarik? Tentu saja tidak. "Apa yang harus aku lakukan?" perlahan airmata turun dari matanya, airmata yang sejak tadi ia tahan. "Kenapa jadi serumit

