Marsha tidak bisa berkata-kata. Meski Andrean tidak menyuarakan di depan umum, tapi ini didepan anak-anak. Anak-anak sudah mendengar, lidahnya kelu untuk bersuara dan hatinya bertalu. Anggap dia berlebihan, nyatanya tidak. Sekuat apapun dirinya menyembunyikan kebenaran didepan anak-anak pasti terbongkar juga. Tapi ia tidak ingin anak-anak tahu dengan cara seperti ini. Andrean tetaplah Andrean, si pemilik kesabaran yang terbatas. Padahal Tuhan menciptakan manusia agar memiliki kesabaran yang tiada batas bukan terbatas. "Tidak mungkin. Pasti bukan Bapak kandung, 'kan? Aku tidak percaya. Kau pasti hanya mengaku-ngaku saja," sewot wanita itu dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Hanya mengaku-ngaku, kau bilang aku hanya mengaku-ngaku, iya?" geram Andrean. "Kau tidak lihat sebera

