Mendengar suara Andrean, Marsha melepas pelukannya seraya menghapus air matanya. Suara langkah kaki mendekat tertangkap oleh indra pendengarnya. Ia yakin itu Andrean. Pria itu tengah berjalan menuju ke arahnya. "Jadi mereka memang benar anakku, Marsha?" Andrean berjalan memutari kursi panjang yang di duduki oleh Marsha dan Marcel kemudian berdiri di depan ibu dari tiga orang anak kembar yang ia percayai sebagai anaknya. Namun, kejujuran dari Marsha lah yang ia tunggu. Karena bagaimana pun juga wanita itu ibu kandung mereka. Setidaknya ia harus menghargai itu. "Kenapa sejak awal kau tidak jujur padaku, Marsha?" Bukannya menjawab, Marsha malah memalingkan muka dari Andrean. "Andai kau jujur pun, aku tidak akan mengambil mereka darimu. Aku cukup tahu diri untuk itu." Marcel hanya diam m

