Bab 12

1056 Words
Cecep dan Mira memang benar-benar bermain cantik. Keduanya terlihat sangat memperhitungkan semuanya. Bertemu seminggu sekali di hari Senin, saat kedua anak mereka baru saja masuk sekolah, jadwalnya begitu setiap minggu. Keduanya tidak pernah berkomunikasi saat Cecep sudah di rumah ataupun saat suami Mira kebetulan pulang. Cecep pun tetap bersikap lembut dan manis pada istrinya. Setahun sudah Cecep menjalin hubungan gelap dengan Mira. Dan tepat setahun juga, akhirnya adiknya Tina, Mirna menikah dengan seorang lelaki yang bekerja di sebuah bank swasta. Mirna pindah dari rumah Cecep ke rumah suaminya, Benny, yang lumayan jauh dari rumah Cecep, setengah jam perjalanan. Dan setelah Mirna menikah, Ceceplah yang mengantar jemput Tina ke pabrik. Mereka selalu berangkat lebih pagi untuk mengantarkan Tina dulu ke pabrik, barulah ke sekolah anaknya. Selalu begitu setiap hari. Tina sudah meminta untuk pada suaminya untuk pergi memakai gojek, tetapi, Cecep tidak mengizinkan. Pagi itu, di meja makan, mereka sarapan bertiga. Nana masih sibuk mencuci dan beres-beres di dapur. "Ayah, nanti pulangnya aku naik gojek aza. Ga apa. Kasihan kamu bolak-balik terus. Kamu pasti lelah." Kata Tina. "Ga apa. Sayang uangnya. Mending disimpan di tabungan. Kita juga kan harus bayar Nana. Aku masih sanggup mengantar jemput kamu." Jawab Cecep. "Baiklah. Ayo sarapan terus berangkat." Ajak Tina. Dia pun memanggil Nana. "Teh, nanti jangan telat jemput Nana ya. Jam 1 dia pulangnya karena harus les dulu. Sekarang kan dia TK B. Tahun depan masuk SD." Kata Tina. "Baik teh." Jawab Nana. Ketiganya pergi ke pabrik dulu barulah ke sekolah Ria. Saat sampai di pabrik, ada seorang lelaki yang menyapa Tina. "Tin, tumben kepagian. Biasanya agak siang bareng Marni." Kata lelaki itu. Membuat Cecep belum beranjak dari sana dan memperhatikan keduanya. "Iya. Dianter suami. Dia juga harus anter anak sekolah. Marni sudah menikah. Jadi, dia sudah ikut suaminya." Jawab Tina berusaha sopan. "Oh. Marni masih kerja?" Tanya lelaki itu. "Masih. Cuma mungkin cuti dulu." Jawab Tina. Suaminya berdehem. Tina pun salah tingkah. "Kenalin ini suamiku, Kang Cecep. Ini temen di divisi benang kang, Tedi." Kata Tina, mengenalkan keduanya. Keduanya bersalaman. "Saya juga dulu di divisi benang. Kepalanya masih Pak Dion?" Tanya Cecep. "Masih kang. Oh akang dulu juga di sini?" Tanya Tedi. "Iya. Kalo begitu saya permisi, bu, ayah berangkat ya." Kata Cecep. Tina pun menyalami suaminya lalu masuk ke tempat kerjanya. Cecep pun langsung mengantarkan Ria ke sekolah. Di perjalanan, dia masih teringat pada Tedi. Pandangannya pada istrinya, sangat mengganggunya. Lelaki itu terlihat menyukai istrinya. Apa nanti dia bicara ama istrinya mengenai hal ini ya? Cecep masih berpikir. Sampailah dia di sekolah Ria. Rika belum datang, jadilah Cecep menunggu sampai bel masuk. Saat bel, Rika belum juga datang. Cecep gelisah. Ga biasanya Rika ga masuk. Setahun berhubungan gelap dengan Mira, baru kali ini Rika ga masuk sekolah. Kalaupun sakit, Mira selalu mengabarinya. Dua minggu ini Cecep juga ga menerima pesan dari Mira. Di pikiran Cecep, mungkin Mira sedang sibuk. Dia pun melajukan motornya ke resto. Saat bekerja, dia pun gelisah dan ga tenang. Tapi dia tetap bekerja dengan baik. Saat makan siang, Cecep makan sambil melamun. Ke mana Mira? Apa dia sesibuk itu sampai ga menghubunginya? Dan anaknya, Rika, juga ga sekolah hari ini. Di grup juga ga ada pemberitahuan bahwa Mira ga ke sekolah ataupun anaknya ga masuk. Tina meminta suaminya masuk dalam grup orangtua karena Tina sangat sibuk. Biasanya kali Mira sakit, ataupun anaknya sakit, selalu ada pesan di grup. Hati Cecep ga karuan. Selesai makan, dia merokok di samping resto. Lalu, ada pesan masuk ke ponselnya. Lalu Cecep membukanya. "Maaf ya aku ga ngabarin dua minggu ini. Aku sakit lumayan parah, gejala tiphus. Dirawat di rumah sakit selama lima hari. Rika juga setiap hari sekolah diantar ibuku. Dia aku titipkan sampai aku membaik. Hari ini ibuku ada acara pengajian sehingga Rika ga sekolah." Mira mengetik panjang lebar. Kagetlah Cecep. Ternyata Mira sakit. "Aku benar-benar khawatir. Dua minggu ga dapet kabar, tahu-tahu ada kamu ngabarin sakit. Saat bekerja pun aku gelisah mikirin kamu." Kata Cecep. "Maaf ga ngabarin. Aku takut kamu khawatir dan menjenguk ke rumah sakit. Setiap hari adikku, Sinta, menunggu di sini. Kebetulan dia lagi libur kuliah. Aku ga enak kalo tiba-tiba kamu dateng dan dia lihat. Dia bisa laporin ke suamiku. Aku ga pernah pegang ponsel. Badan lemas. Untunglah sekarang udah baikan. Adikku juga terus menungguiku di rumah. Tiga hari yang lalu aku udah membaik, barulah adikku pulang. Tapi adikku minta, agar Rika tinggal dulu di rumah ibu." Kembali Mira menjelaskan panjang lebar. Cecep sedikit lega mendengar Mira sudah membaik. "Alhamdulillah. Kamu harus banyak istirahat. Kamu kayanya sering lupa makan saat bekerja. Boleh berjualan, tapi harus inget kondisi badan. Cepet sehat ya." Kata Cecep. Mira pun langsung membalas pesan Cecep, disertai sebuah foto syurnya yang sedang memainkan kewanitaannya, dengan tubuh polos tentu saja. "I miss you babe. Pengen banget, ga nahan." Membuat Cecep berdesir hebat. Dua minggu ini, dia sangat merindukan Mira. Tentu saja melihat fotonya yang seperti itu, dia ga banyak bicara. Langsung minta izin ama bosnya ada keperluan. Gegas dia memacu motornya ke rumah Mira tanpa mengirim pesan terlebih dahulu. Nafsunya mengalahkan segalanya. Akal sehatnya mati seketika melihat tubuh polos Mira. Saat sampai di sana seperti biasa Cecep akan mengunci pintu, membuka jaket dan kaosnya, lalu masuk ke kamar Rika. Dia melihat Mira sedang bermain sendiri memakai sebuah alat. "Diam di sana dan lihatlah." Kata Mira. Dia dengan lincah memainkan s*x toy itu, membuat Cecep ga tahan. Dia segera mengisap kedua boba kenyal milik Mira bergantian, sementara tangan Mira masih asyik dengan toynya. "Jangan pake alat. Biarkan aku yang muasin kamu." Bisik Cecep. Dia pun mengambil alat itu dan mulai menenggelamkan kepalanya di kedua paha Mira. Dan Mira pun ga mau kalah, berposisi sixty nine. Mereka saling melepas rindu. Melepas semua gairah yang tertahan dua minggu ini. Ga peduli Mira masih tahap penyembuhan. Gelora di d**a mereka berdua sudah memuncak. Selesai memanjakan dengan lidah, mereka kembali menyatukan tubuh mereka dengan beragam gaya. "I miss so much babe. Harder please." Desah Tina. Cecep pun menghujamnya dengan keras, membuat keduanya berteriak dan mendesah hebat. Dua jam mereka bertukar peluh lalu berbaring berpelukan dengan tubuh polos. "Maaf ya. Aku ga ingat kondisimu. Aku begitu merindukanmu. Ingin menghujammu dengan liar dan buas. Maaf jika kamu kelelahan. Maafin aku ya." Kata Cecep. Mira hanya mengangguk sambil mengelus d**a Cecep. Keduanya saling memandang sendu penuh kerinduan. Tak dipungkiri keduanya, setahun memadu kasih, membuat keduanya selalu saling menginginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD