Bab 10

1244 Words
Cecep masih diam termenung sambil memandangi celananya yang mendadak sempit. Apalagi bagian bawahnya. Hasratnya sudah naik ke ubun-ubun. Selesai makan, dia menyesap rokoknya dan berpikir. Menimbang-nimbang semuanya. Haruskah dia kembali mengkhianati istrinya? Dia sudah berjanji. Tetapi tubuh molek itu, membuat gairahnya meledak. Akhirnya, akal sehatnya jalan. Dia pun mengirim pesan pada Mira. "Saya sangat ingin melihatnya langsung. Tetapi pekerjaan ga bisa ditinggalkan." Diakhiri dengan emoticon bersedih. Tak menunggu lama, balasan datang. "Sayang sekali. Saya sangat haus sentuhan. Lima tahun suami saya pergi berlayar ke luar negeri dan hanya setahun sekali pulang ke sini. Next time bisa ya? Saya tahu bapak sudah beristri, tapi saya tetep nekad mendekati. Jika bapak ingin melihat semuanya, pintu rumah saya selalu terbuka." Kata Mira, kembali dia mengirim foto dengan paha yang terbuka lebar. Semakin menjadilah gelora di d**a Cecep. Gila ini, mulus banget lembahnya, terawat, bersih. Glek, Cecep menelan air liurnya. Keinginan dan hasratnya begitu besar pada perempuan itu. Saat dia bersama Imas, Imas ga pernah sevulgar ini. Dia sangat pasif. Berbeda dengan Mira yang sangat aktif dan liar. "Pandangilah dulu fotonya. Baru nanti lihat yang aslinya. Jika bapak bersedia kemari, pahanya akan saya buka lebar-lebar. Jangan takut ketahuan istrimu, saya juga ga mau sampai ketahuan suami. Bisa bahaya. Bermain cantik aza. Yang penting sama-sama puas." Mira kembali mengirimkan pesan. "Kalo saya datang ke sana, apa ga bahaya?" Cecep mengirimkan pesan lagi. "Ga. Aman. Rika tadi saya titip ke mertua. Saya ga pake ART. Sendirian di rumah. Kalo bapak ga ke sini, mungkin saya hanya ditemani ini." Mira mengirimkan foto sebuah alat berbentuk kelamin lelaki. Kagetlah Cecep. Berarti dia suka melakukannya sendiri daripada dengan lelaki. Dan dia sepertinya beruntung, dipilih oleh Mira untuk berduel panas. "Kita atur lagi waktunya ya. Sebenernya saya udah kebelet pengen." Kata Cecep, dia sedang berada di kamar mandi sekarang. Dan dengan leluasa memfoto miliknya serta mengirimkannya pada Mira. Entah setan apa yang merasukinya sehingga dia memfoto kelaminnya sendiri dan mengirimkannya pada perempuan selain istrinya. Mira yang melihatnya tersenyum lebar. "Please, datang ke sini sekarang ya. Aku akan sangat senang melihat milikmu yang sudah menjulang seperti gapura itu tertanam di dalam milikku. Aku tunggu sekarang. Pintu gerbang ga aku kunci. Pintu rumah juga. Aku di kamar Rika. Jangan sampai ga dateng. Kesempatan ga akan ada lagi." Lalu Cecep gegas membenahi celananya. Dia tanpa babibu langsung meminta izin pada atasannya untuk pulang duluan. Padahal waktu masih jam 12.30. Atasannya mengizinkan karena selama ini Cecep ga pernah minta izin. Lalu Cecep, dengan mengesampingkan akal sehatnya dan mendahulukan hormon tubuhnya itu, melajukan motornya ke rumah Mira. Saat sampai di sana gegas dia memarkirkan motornya lalu membuka sepatu dan masuk ke dalam lalu mengunci pintunya. Lampu hijau sudah diberikan oleh Mira. Maka dia begitu leluasa masuk. Dia membuka jaket dan kaosnya dan disimpan di kursi. Lalu perlahan masuk ke dalam kamar Rika dengan hanya bertelanjang d**a. Di dalam, Rika dengan santainya membuka pahanya lebar-lebar dan jarinya bermain di intinya. Dengan suara mendesah, dia pun berkata. "Aku tahu kamu akan datang babe. Padahal aku baru mau main sendiri. Kemarilah. Puaskan aku sayang." Cecep yang memang sudah berhasrat sedari tadi, ga menunggu lama. Dia melucuti celananya dan membenamkan kepalanya di antara kedua paha Mira. Membuat Mira mendesah hebat dan menjambak keras kepala Cecep. Lalu mengusap leher dan belakang kupingnya. Membuat Cecep tambah berhasrat dan b*******h. Posisi Mira yang duduk sambil mengusap leher dan kuping Cecep, sambil memperhatikan ke bawah, lalu dia pun memainkan p****g Cecep. Gila, kata Cecep, hanya dengan disentuh leher dan kuping juga putingnya, membuatnya sangat terangsang. Perempuan ini sangat tahu titik-titik sensitifnya. "Enak sekali babe. Lagi. Ahhhh." Pinta Mira dengan mendesah. Membuat Cecep semakin bersemangat di dalam sana, memainkan daging kecilnya, kadang mengisap, menarik, membuat Mira bergetar. "Masukin ama jarinya babe. Berbarengan." Desah Mira. Cecep mun memainkan mulut dan jarinya bersamaan. Membuat Mira menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dan melengkungkan badannya. Keluarlah semuanya. Cecep selesai dengan bagian itu. Lalu dia berdiri dan membungkuk. Mengisap kedua boba bulat, padat, dan terawat itu bergantian. Setelah itu, Cecep berbisik di telinga Mira. "Doggy style." Mira yang paham keinginan partnernya, langsung mengambil posisi. Keduanya menyatu dengan gairah yang membabi buta. Keduanya seperti dua manusia haus akan seks. Bercinta dengan brutal dan panas. Menghentak-hentak ranjang, dengan irama yang keras, napas yang berdebar, mereka sangat berhasrat satu sama lain. Seperti adegan film dewasa, keduanya sangat lihai dan panas. Sejam lebih mereka bertukar peluh dengan beragam gaya. Akhirnya keduanya berpelukan dengan tubuh polos di atas ranjang saksi bisu percintaan panas mereka. "Saya sangat suka permainan kamu babe. Sangat buas dan liar. Suka banget. Makasih ya." Kata Mira. Cecep juga tersenyum. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan hubungan intim dengan barbar dan liar. Sisi terlain dalam dirinya muncul. Ga dipungkiri, Cecep sering melihat film dewasa di ponselnya. Dan dengan Mira, dia leluasa mempraktikkan semuanya. Saat dengan Imas, dia biasa saja, begitu juga dengan Tina. Berbeda dengan Mira, dia begitu sensual dan liar, membuat sisinya yang liar juga keluar. "Kamu juga hebat. Saya suka semuanya. Suka semua gerakan sensualmu." Kata Cecep. Keduanya masih berpelukan. "Ayo mandi. Ga usah pake sabun dan sampo. Pasti berbeda rasanya. Nanti istrimu curiga. Nanti aku bantu keringin rambutnya." Ajak Mira. "Saya masih pengen." Kata Cecep menatap sayu pada Mira. Paham, Mira pun berdiri dari tidurnya lalu membenamkan wajahnya di kedua paha Cecep. Seperti melayang di atas awan, itulah perasaan Cecep. Sangat nikmat dan lezat. Dia belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Baik oleh Imas maupun oleh Tina. Lututnya lemas, Mira begitu memanjakannya. Setelah tinggi menjulang, Mira menghentikannya. "Lanjut di kamar mandi babe." Kata Mira. Membuat Cecep tersenyum lebar. c Cecep lupa daratan, lupa janjinya pada sang istri. Terlena oleh keliaran Mira. Keduanya kembali bertukar peluh di kamar mandi. Setelah selesai, keduanya mandi lalu keluar dari kamar mandi. Masih brrbalut bathrob, Mira meminta Cecep duduk di kursi riasnya. Lalu mengeringkan rambut lelaki itu. Cecep juga hanya memakai celana jeansnya, masih bertelanjang d**a. Keduanya saling melempar senyum di pantulan kaca. Dengan telaten Mira mengurus rambut Cecep sampai mengering dengan sempurna. "Sudah selesai. Masih jam 3 lebih. Pulanglah. Saya takut istrimu curiga." Pinta Mira dengan lembut. "Iya. Aku biasanya nyampe rumah jam 4 lewat sedikit karena jarak dari resto ke rumah hanya sepuluh menit. Biarkan saya di sini dulu sebentar bu." Kata Cecep, lalu beranjak ke ruang tamu dan memakai kaosnya. Sementara Mira, berlalu ke dapur dan membuatkan teh hangat. "Minum dulu. Atau mau makan?" Tanya Mira. "Mau makan kamu aza." Kekeh Cecep sambil menyesap tehnya. Membuat Mira merona. "Lama-lama kamu di sini, saya tahan juga babe. Bawaannya pengen melulu." Tanpa aba-aba, Mira membuka bathrobnya. "Puaskan aku sekali lagi babe. Please." Pinta Mira dengan manja. Dia membuka lebar pahanya. Cecep pun dengan senmag hari memanjakannya. Apalagi milik Mira sangat wangi dan terawat. Selesai Mira melepaskan sesuatu, Cecep menghentikannya. "Enough?" Tanyanya. Mira hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi. Cecep gegas memakai jaketnya. Saat akan pulang, Cecep akan memeluk Mira. "Don't do that. Bau saya akan nempel di badan kamu. Please jangan ceroboh. Hapus semua chat kita. Apalagi fotoku." Kata Mira dengan tegas. Cecep pun mengangguk. Dia pergi dari sana dan memacu motornya dengan perlahan. Ada rasa gembira menelusup di hatinya. Dia bahagia bisa mengeluarkan semua hormon liarnya bersama Mira. Tetapi, ada rasa sesal juga. Dia kembali mengkhianati istrinya. Dia menghentikan motornya di sebuah taman dekat rumahnya. Lalu duduk di bangku taman dan merenung. Dia sudah terlanjur basah bersama Mira. Apakah dia akan berhenti atau meneruskannya? Batinnya bergejolak menentukan hal itu. Teringat istrinya, tapi lebih teringat adegan panasnya bersama Mira. Ah, membayangkan Mira saja membuatnya panas dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD