“Prang,..” suara keras dari arah dapur membuatku terkejut. “Ya Allah,…” terdengar teriakan histeris dari Bi Eti semakin membuatku kaget. Aku ingin segera bergegas ke arah dapur, namun tubuhku yang berat karena kehamilan sudah masuk ke sembilan bulan membuat pergerakanku sangat lambat. “Mbak Rahmi, Mbak bangun Mbak,” ku dengar ucapan Bi Eti sembari menangis saat aku hampir tiba di area dapur. Kakiku langsung lemah dan tubuhku luruh saat melihat Mbak Rahmi terkapar di lantai dapur dan kepalanya berada di pangkuan Bi Eti. “Neng, Mbak Rahmi Neng. Ini gimana Neng,” ucap Bi Eti dengan suara gemetar dan tangisan yang semakin menjadi. Aku syok dan tidak bisa mikir lagi. Melihat darah di hidung Mbak Rahmi, apa artinya Mbak Rahmi udah ngak ada. Haruskah secepat ini, aku belum siap. “Neng, tel

