Saat aku membuka mata, aku berada di tempat asing lagi. Tapi kali ini aku sudah tahu persis kalau ini adalah rumah sakit. Ku lirik infuse yang terpasang di tangan kiriku, dan ku lirik ke samping ada Papa dan Mama yang lagi tertidur pulas di sopa. Aku enggan membangunkan mereka. Aku terbayang kembali pertengkaran antara aku dan mas Farhan tadi sore, sebab itukah Mas Farhan tidak ada di sini? Pasti Papa dan Mama sudah tahu masalah video yang beredar itu. Apa Mas Farhan tidak ingin tahu keadaanku? Bahkan ia tidak menungguku hingga aku siuman. “Klek,” seseorang membuka pintu kamar rumah sakit. Buru-buru kupejamkan mata lagi, pura-pura lagi tidur. Jika itu memang Mas Farhan, aku juga belum siap melihat wajahnya setelah kejadian tadi sore. “Luna… kamu sudah sadar? Mas bawakan makanan buat

