"Luna," tiba-tiba Mbak Rahmi muncul di hadapanku. Aku bingung, canggung dan takut. Aku bingung harus apa, canggung karena ketemu saat Kak Ferdi masih ada di dekatku, dan takut kalau Mbak Rahmi akan marah besar padaku. "Mb... Mbak, kok bisa di sini?" ucapku terbata, sementara Kak Ferdi melewati kami tanpa ekspresi. Ia melewati aku bahkan tidak menoleh apa lagi menegurku. Kak Ferdi terlanjur sakit hati padaku. "Ikut Mbak," Mbak Rahmi berbalik dan bergegas keluar dari cafe. Ia tidak menunggu jawabanku terlebih dulu. Dari wajahnya, aku tahu kalau Mbak Rahmi benar-benar marah padaku. Kali ini aku benar-benar ngak bisa lolos lagi. "Mau kemana Mbak?" tanyaku takut-takut. Mbak Rahmi tidak menjawab, terus saja berjalan menuju parkiran. Aku membuntuti dari belakang dengan cara diacuhkan. "

