Ngidam Berat

1885 Words

Sore harinya aku termangu di balkon apartemen, sementara Mbak Rahmi katanya mau pulang siang tadi. Aku mengiyakan saja tanpa menahannya. Mataku menyusuri barisan gedung-gedung yang terlihat kecil dari lantai apartemen kami. Mataku bisa menyusuri suasana kota, tapi entah mengapa otakku tidak bisa melupakan khayalan betapa lezatnya mangga muda yang segar di cocol sambel cabe. “Luna, kamu di sini rupanya,” suara syahdu terdengar dari arah belakangku. Ternyata itu Mbak Rahmi yang balik lagi ke apartemen. Entah mengapa, sepertinya ia senang sekali berada di sekitarku. Baru beberapa jam yang lalu ia meninggalkan apartemen tapi udah balik lagi sekarang. “Kenapa balik lagi Mbak? Ada barang ketinggalan?” otakku spontan saja menyuruh bibir berbicara demikian. “Ngak,” ucapnya sambil tersenyum.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD